ALLAH PENYELAMAT KITA

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh: Pdt. Elisa Maplani, M.Si

Refleksi akhir tahun 2020.

(Daniel 6:16-29)

 

“Jalan Hidup Tak Selalu Tanpa Kabut dan Gelap”. Itulah judul lagu yang terdapat dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) No.164 dan Nyanyain Kidung Baru (NKB) No 170. Lirik lagu ini diciptakan oleh Flora Kirkland pada abad ke 19.

Lirik lagu tersebut lengkapnya demikian:

  1. Jalan hidup tak selalu, tanpa kabut dan gelap; Namun kasih Tuhan nyata, pada waktu yang tepat; Mungkin langit tak terlihat, oleh awan yang tebal; Di atas nyalah membusur, plangi kasih yang kekal;……Refrein
  2. Bila badai menyerangmu, awan turun makin glap; Carilah di atas awan, plangi kasih yang tetap; Lihatlah warna-warninya, lambang cinta yang besar; Tuhan sudah beri janji-Nya, jangan lagi kau gentar…Refrein
  3. Jauhkan takut, putus-asa, walau jalanmu gelap; Perteguh ke\ayaan, dan langkahmu pertegap; Tuhan itu ada kasih, itulah penghiburmu; Di atas duka berhaya, plangi kasih Tuhanmu.…Refrein

 Refrein: Habis hujan tampak plangi, bagai janji yang teguh; Di balik duka menanti, plangi kasih Tuhanmu.

Lirik lagu ini sungguh meneduhkan hati dan memperteguh Iman kita di tengah situasi kehidupan dunia masa kini yang sarat dengan berbagai persoalan dan kesulitan hidup. Ketika kita menengok situasi perjalanan hidup selama 365 hari di tahun 2020, secara jujur kita harus mengakui bahwa sepanjang tahun 2020 ini, semua manusia sedang dilanda ketakutan, keputus-asaan, duka dan gentar dikarenakan berbagai persoalan yang terjadi dan melanda hidup.

Ya.., Kehidupan manusia di dunia ini diibaratkan sebuah perjalanan. Terkadang jalan hidup yang kita tempuh berkelok, berkelikir dan berbukit. Cuaca diliputi awan gelap, bahkan terkadang badai yang hebat. Lalu kita jadi cemas, putus-asa, takut, gentar, pesimis dan hilang pengharapan karena kita merasa jalan hidup sudah buntu dan tak tahu ke arah mana hendak melangkah menempuh perjalanan menuju tempat yang dituju.

Kendati demikian, kita mesti jujur pula bahwa tidak selamanya jalan hidup kita dirundung duka dan nestapa. Tidak selamanya langit diliputi awan gelap dan badai yang mengganas. Cuaca tidak selamanya gelap. Di balik awan gelap, masih ada matahari yang memancarkan fajar terang meliputi bumi. Di atas awan gelap, membusur pelangi kasih.

Pelangi yang membusur itu indah dengan warna-warni. Itulah pengharapan. Sebab pelangi mengandung pesan janji penyertaan Tuhan bagi hidup. Lambang cinta kasih Tuhan yang menyertai dan menyelamatkan (Kej 9:16). Lambang kasih setia Allah yang tidak berubah. Bersifat tetap dan kekal. Karena itu, kita tetap hidup dalam pengharapan akan kasih Tuhan yang kekal dan yang mau menyelamatkan hidup.

Itulah yang terjadi dengan kisah kehidupan Daniel. Jalan hidupnya penuh awan gelap dan duka nestapa, tapi kasih Tuhan telah menyelamatkan hidupnya. Daniel, adalah salah satu orang muda bersama dengan Hananya, Misael dan Azarya serta sekian banyak penduduk Israel yang sedang hidup sebagai tawanan di Babel. Sebagai tawanan perang, mereka kehilangan kemerdekaan hidup dan kemerdekaan untuk beribadah pada Allah Isreal.

Salah satu bentuk hilangnya kemerdekaan hidup adalah pergantian nama. Daniel diubah namanya jadi Beltazar; Hananya menjadi Sadrakh; Misael menjadi Mesak dan Azarya menjadi Abednego. Selain itu, titah raja, dimana semua orang harus menaikkan permohonan kepada dewa Babel.

Ya…, Situasi hidup di pembuangan Babel bukan hal yang mudah dan menyenangkan termasuk dalam hal percaya kepada Allah Israel. Daniel dan teman-teman hadapi masalah dan kesulitan yang sungguh berat.

Dalam situasi sulit, terancam, bayang-bayang maut menghampiri, Daniel bersikap bijaksana menghadapi masalah:

Pertama, Daniel tidak mempersalahkan siapapun.

Daniel tidak mempersalahkan orang-orang yang merancangkan kejahatan bagi dirinya dengan menjadikan agama sebagai sarana politik para untuk mencari kekuasaa. Ia juga tidak mempersalahkan raja dan undang-undang yang dibuatnya. Ia tetap menghormati raja dalam keyakinan bahwa Darius adalah raja yang bijaksana.

Tuhan dapat memakai banyak cara melalui Darius untuk mengambil keputusaan yang bijaksana dan tepat sesuai kehendak Tuhan. Kebijaksanaan Darius itu terpancar dari usaha untuk menyelamatkan Daniel melalui doa dan puasa serta menguatkan Daniel bahwa Allah sanggup menyelamatkan Daniel bahaya kematian (ay 16b-18,20).

Kedua, Daniel menaruh Iman dan harapan pada Tuhan yang sanggup menyelamatkan.

Saat hadapi berbagai kenyataan yang tidak sesuai harapan dimana banyak orang kehilangan arah dan tujuan hidup, Daniel dengan gigih mempertahankan kemurnian Imannya pada Tuhan. Ia tetap setia pada Iman kepada Tuhan. Daniel tidak mau menyembah allah manapun kecuali Allah Israel. Hidupnya hanya berpusat pada Allah dan bersandar pada kuasa Allah.

Daniel tetap berdoa dan beribadah pada Allah. Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa dan memuji Allah di tengah-tengah aturan yang ketat agar setiap orang harus menyampaikan doa permohonan kepada dewa. Daniel bertekad mencari hadirat Allah yang menyelamatkan tanpa rasa takut.

Doa dan ibadah Daniel kepada Allah juga diperlihatkan dalam pengabdian. Ia berlaku adil dan jujur serta melakukan kebaikan dalam hidup. Daniel perlihatkan kinerja yang baik sehingga ia jadi salah satu pejabat tinggi negeri yang terbaik (15a, 16). Semua ini lahir dari sikap takut akan Tuhan dan kesetiaan memelihara kemurnian percaya pada Tuhan.

Namun, tekat Daniel mencari hadirat Allah, dedikasi dan integritas yang diperlihatkan dalam pengabdian, telah menempatkan Daniel seperti ada dijalan yang sulit dengan cuaca yang mendung, gelap dan badai yang menerpa. Daniel dibenci, difitnah, diperlakukan jahat dan tidak adil karena sikap iri hati para pejabat tinggi dan wakil raja. Daniel harus jadi korban kekuasaan semena-mena karena Iman kepada Tuhan. Ia harus menerima resiko hukuman mati sesuai titah raja yang telah disahkan dalam undang-undang dimana titah raja berlaku mutlak.

Dengan kedok hukum yang bersifat mutlak, mereka berupaya agar Daniel yang hidup dalam kebenaran Tuhan harus dihukum. Tujuannya, jelas, agar Daniel mati dimangsa oleh para singa dalam gua itu dan kekuasaan dapat diraih. Ada harga yang harus dibayar Daniel. Hidup ada dalam kesulitan, bahaya dan dalam bayang-bayang maut.

Daniel percaya bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja dengan banyak cara untuk menyelamatkan hidup dari maut yang mengancam. Sekalipun hidup ada dalam kesulitan, terancam bahaya dan diambang maut, Daniel tidak takut. Ia tetap percaya dan menaruh harapan pada Tuhan sebagai Imanuel: ”Allah yang selalu menyertai untuk menyelamatkan”. Daniel percaya, dibalik awan gelap dan duka nestapa, membusur plangi kasih yang kekal. Kasih Tuhan yang dengan ke-Maha-kuasaan-Nya sanggup menyelamatkan.

Daniel percaya bahwa Allah Israel yang disembahnya adalah Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Ia mengendalikan sejarah, memperhatikan dan menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada-Nya. Ia adalah Allah yang disembah oleh Daniel. Ia juga adalah Allah yang kepada-Nya Darius mengharapkan supaya melepaskan Daniel dari gua singa (ay 17).

Iman Daniel pada Allah yang menyelamatkan itu telah terbukti. Saat Daniel dalam bahaya, terancam hidup dalam bayang-bayang kematian, Allah Israel yang disembahnya, menyatakan ke-Maha-kuasaan-Nya yang menyelamatkan. Singa, binatang yang buas tunduk pada ke-Maha-kuasaan Tuhan.

Meski kenyataan di sekeliling seolah-olah tidak memberi harapan, bagaikan awan gelap yang menutupi jalan hidup, Daniel percaya, bersama Tuhan, ia akan memasuki hari esok karena keselamatan yang datang dari Tuhan.

Tuhan telah membuat mujizat yang besar dalam hidup Daniel dengan mengirim para Malaikat-Nya, menutup mulut singa-singa itu. Hal itu ditegaskan Daniel saat memasuki hari esok dengan berkata kepada raja demikian:”Allahku mengutus Malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku (ay 22).

Allah telah menunjukkan kuasa penyelamatan-Nya atas segala sesuatu termasuk atas singa-singa lapar dalam gua. Ia mengutus para Malaikat-Nya untuk menutup mulut singa-singa itu. Allah yang disembah Daniel adalah Allah penyelamat yang mampu menyelamatkan Daniel dari segala kuasa kejahatan manusia dan perilaku jahat binatang buas. Semua itu terjadi sebagai hasil dari menjaga diri hidup benar di hadapan Allah serta keteguhan dan percaya pada Allah Sang penyelamat hidup.

Penulis Kitab Amsal, memberi kesaksian Iman: Terang orang benar bercahaya gemilang, sedangkan pelita orang fasik padam (Amsal 13:9). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: Orang saleh bagaikan cahaya cemerlang, orang jahat bagaikan lampu padam.

Mengapa terang orang saleh bercahaya gemilang ? Karena Tuhan menyertai mereka. Karen Tuhan adalah Imanuel yang menyertai dan menyinari jalan hidup mereka. Tuhan adalah terang itu sendiri, yang menjadi sumber pengharapan yang menyertai dan menerangi jalan hidup orang benar/percaya.

Tanpa kita sadari, kita sudah berada di penghujung tahun 2020. Secara jujur kita mesti akui bahwa kita jalani hari-hari di tahun 2020 dengan masalah dan tantangan kehidupan yang sangat berat. Semua penduduk dunia dibuat cemas, takut dan gentar karena pendemi Covid 19 yang telah memakan banyak korban jiwa dan membawa dampak yang hebat dalam berbagai bidang kehidupan.

Selain itu, jalan hidup kita di tahun 2020 tidak selamanya mulus karena berbagai persoalan lain yang melanda. Sakit-penyakit, bencana alam, kelaparan, kematian orang-orang yang kita kasihi dan berbagai persoalan lainnya.

Namun, kalau sekarang kita dimungkinkan Tuhan ada di penghujung tahun dan siap melepas tahun 2020, itu karena Tuhan dengan kasih-Nya ajaib telah menyelamatkan kita. Ibarat jalan hidup yang tidak selamanya penuh kabut, di balik kabut itu ada pelangi. Tuhan Sang penyelamat hidup telah menuntun kita hingga akhir tahun 2020 ini.

Terhadap kasih setia Allah dalam Yesus Kristus yang menyelamatkan itu biarlah kita melepas tahun 2020 ini dengan sikap:

Pertama, Menaikkan doa dan syukur kepada Tuhan atas segala tuntunan-Nya bagi hidup.

Meskipun kenyataan hidup di tahun 2020 diwarnai berbagai masalah, tantangan, kesulitan yang membuat kita takut, cemas, putus-asa dan hilang pengharapan, namun kasih Tuhan yang kekal itu telah menyelamatkan kita hingga hari ke 365 di tahun 2020.

Kedua, Berkomitmen untuk menjalani hidup dalam kebenaran dan kesetiaan kepada Allah di dalam Yesus Kristus.

Tahun 2020 telah kita lalui. Masing-masing kita harus mengealuasi diri, apakah jalan hidup dan segala karya kita berkenan kepada Tuhan atau tidak. Evaluasi diri dan kerja kita penting, guna memperbaiki segala hal yang keliru yang tidak berkenan kepada Tuhan. Lalu kita, memperbaharui komitmen untuk menjaga integritas diri, menjalani hidup dan segala karya kita secara benar di hadapan Tuhan.

Ketiga, Tetap percaya bahwa sesungguhnya keselamatan itu bersumber dari Allah di dalam Yesus Kristus..

Percaya bahwa sebagaimana Allah dalam Yesus Kristus telah menyelamatkan kita melewati hari-hari hidup dengan segala suka-duka, Allah yang Maha Kuasa itu akan terus menyertai, melindungi dan menyelamatkan kehidupan setiap orang yang percaya pada-Nya.

Meskipun masalah dan kesulitan yang kita hadapi di tahun 2020 sepertinya belum berlalu dan akan masih terjadi di tahun 2021 kita percaya bahwa Tuhan tetap ada bersama kita dan akan menolong kita di tengah-tengah semua masalah dan kesulitan hidup.

Keyakinan akan penyertaan dan penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus, itulah yang membuat kita tidak putus-asa, tidak meragukan kasih setia Tuhan dan belajar percaya dan berharap hanya kepada Kristus.

Kita siap melepas tahun 2020 dalam keyakinan Iman bahwa Allah tidak akan membiarkan umat yang setia dan percaya kepada-Nya dibinasakan oleh kuasa apapun juga.

Sebagaimana kisah Daniel, jalan hidup tak selalu tanpa kabut dan gelap, tapi Daniel memperteguh kepercayaan pada Tuhan, sebab Tuhan itu penuh kasih. Dibalik jalan hidup yang gelap, di balik duka yang melanda, ada pelangi kasih yang menerangi. Pelangi kasih Tuhan yang menerangi dan menyelamatkan.

Itu sebab, kita siap melepas tahun 2020 dan memasuki tahun 2021 dengan pengakuan Iman: ”Sesungguhnya keselamatan itu bersumber dari Allah di dalam Kristus Yesus.

Malaka 31 Desember 2020.

SOLI DEO GLORIA.

Pos terkait