Atoni Pah Meto

  • Whatsapp

Atoni Pah Meto (Middelkoop) atau yang lebih lazim disebut Atoin Meto adalah suku bangsa asli di Pulau Timor. Suku bangsa ini kini terbanyak jumlahnya di Timor Barat, termasuk juga di distrik Ambenu, Timor Leste.

Nama Atoni Meto disemaikan oleh para leluhurnya yang berarti orang daratan atau pulau kering. Atoin Meto, menurut penuturan seorang Mafefa (penutur sejarah) bernama N. Fobia (tamatan VVS 1925) yang direkam pada tanggal 19 dan 20 Januari 1969, mengatakan bahwa : Atoin Meto adalah turunan asimilasi dari dua tipe manusia, yang disebut Molus/Melus/Melas yang berasal dari kepulauan Melanesia dan Peunjamas, (Kenurawan) yang berasal dari kepulauan Polinesia. Ungkapan ini cocok dengan apa yang diutarakan oleh Ormeling dalam buku The Timor Problem.

Bacaan Lainnya

Molus dan Peunjamas hidup secara nomaden di Timor, mereka meramu bahan makanannya dari alam berupa buah-buahan, umbi-umbian, daun-daunan, kulit manis, memungut madu dan berburu satwa. Mereka hanya berkeliaran dan tinggal di gua-gua batu secara berkelompok. Mereka belum mengenal barang dari logam.

Alat kebutuhan terbuat dari batu cadas, tulang dan kayu keras. Menyusul datang ke Timor suku bangsa Papua, mereka juga hidup secara nomaden dan belum mengenal logam. Mereka bermukim di Timor Timur dan juga di Alor.

Mereka diibaratkan sebagai burung dengan siul dan kecauan beraneka, ayam dengan kokok dan kotekan beraneka (kolo hanamfaun, manu hanamfaun) maksudnya berbahasa lokal berbeda-beda.

Menyusul lagi datang ke Timor suku bangsa Helong dan Jabi dari Ternate dan Tidore, mereka ini sudah mengenal logam, bertani dan membangun perumahan. Tanaman yang dikembangkan adalah keladi, ubi jalar (loil nai jabis) turi. Kemudian datang lagi suku bangsa Malaka, Sulawesi Selatan (Luwuk) Bali, Jawa dan Sumatera. Suku bangsa ini lebih berbudaya dan sudah lebih maju. Akibat kedatangan suku-suku baru ke Timor, terjadilah percampuran darah dan budaya. Atoin Metopun mulai bertani dan membangun perumahannya.

Namun bentuk perumahan Atoin Meto mencerminkan kondisi gua, sehingga rumahnya bulat, kerucut berpintu satu dan sempit.

sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=1501

Pos terkait