Home / TTS

Dukung Pemda TTS Cegah Stunting, Institut Pendidkan SoE Gelar Pelatihan Pembuatan Abon Ikan Lele di Desa Nusa

- Redaksi

Rabu, 29 Maret 2023 - 11:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 40 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TTS, Salamtimor.com – Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunting, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) merupakan salah satu kabupaten dengan angka stunting tertinggi. Terakhir pada Agustus 2022 presentasi angka stunting di kabupaten TTS berada pada angka 28,03%. Kondisi ini menuntut tanggungjawab semua pihak untuk turut serta berperan dalam menekan dan menurunkan kasus stunting di kabupaten TTS, termasuk perguruan tinggi.

Perguruan tinggi mempunyai peran yang sangat penting dan strategis untuk membantu mengatasi permasalahan stunting yang terjadi di Indonesia, khususnya di kabupaten Timor Tengah Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal inilah yang mendorong Institut Pendidikan SoE sebagai salah satu perguruan tinggi di kabupaten TTS melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), turut mengambil bagian dalam membantu pemerintah daerah  mencegah meningkatnya angka stunting dengan melakukan pelatihan-pelatihan terkait penggunaan dan pengolahan makanan lokal untuk pemenuhan nutrisi anak dalam mencegah stunting.

Setelah melakukan Pelatihan Pengelolaan Pangan Lokal Bagi Orang Tua Anak Paud di Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana Untuk Pemenuhan Nutrisi Anak Stunting pada Senin, (27/03/2023), maka hari ini, Rabu (29/03)2023), Institut Pendidikan SoE kembali meggelar kegiatan Pelatihan Pembuatan Abon Ikan Lele Bagi Ibu Rumah Tangga dan Edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Permainan Ular Tangga Untuk Anak PAUD di Desa Nusa, Kecamatan Amanuban Barat.

Ketua Pelaksana PkM Institut Pendidikan SoE, Netty J.M. Gella, M.Si menyampaikan bahwa salah satu permasalahan yang terus diupayakan oleh pemerintah kabupaten Timor Tengah Selatan yaitu permasalahan stunting, dan untuk mengatasinya butuh peran serta semua komponen.

“Kita tidak bisa pungkiri bahwa masalah stunting adalah masalah bersama, bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah. Untuk itu, butuh peran serta semua komponen dalam mengatasi persoalan tersebut,” ucap Netty.

“Oleh karena itu, kami dari Institut Pendidikan SoE mau membagi pengetahuan dan referensi bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu di desa Nusa melalui program PkM dengan menggelar kegiatan ini. Pelatihan pembuatan abon ikan lele sasarannya adalah ibu-ibu rumah tangga yang memiliki anak PAUD, sedangkan edukasi PHBS langsung dipraktekan kepada anak-anak PAUD,“ kata Netty.

“Untuk penanganan masalah stunting, selain diberikan makanan yang bergizi, perlu juga memperhatikan prilaku hidup bersih dan sehat pada anak. Kami memilih melakukan pelatihan pengelolaan abon ikan lele di desa Nusa karena desa Nusa dikenal memiliki potensi ikan lele yang cukup besar. Secara kasat mata, ketika kita melewati wilayah desa Nusa, sepanjang jalan ada beberapa rumah tangga yang memiliki kolam atau bak-bak pembudidayaan ikan lele,” jelas Netty.

Sambungnya, “Potensi ini tentu menjadi hal yang positif dan sangat berguna bagi masyarakat. Selain untuk menambah pendapatan ekonomi rumah tangga dengan menjual ikan lele mentah, kita juga bisa mengelola ikan lele menjadi abon ikan untuk menjadi usaha masyarakat dan juga pemenuhan nutrisi anak terkhususnya di desa Nusa,” ungkap Netty.

Netty berharap agar setelah kegiatan pelatihan ini, maka ibu-ibu PKK/ibu-ibu rumah tangga dapat memahami dan memanfaatkan potensi lokal secara baik khususnya mengelola ikan lele mentah menjadi abon ikan lele untuk pemenuhan nutrisi anak. Sementara pemahaman anak-anak PAUD tentang pola hidup bersih dan sehat melalui permainan ular tangga dapat meningkat.

Petugas Nutrisionis Puskesmas Nulle, Selfiana Selan, S.Gz dalam penjelasannya menyampaikan bahwa ada 3 komponen besar dalam penanggulangan atau pencegahan stunting yaitu itu pola makan, pola asuh, dan kebersihan.

“Kalau bicara tentang pola makan, maka yang perlu diperhatikan di sini adalah pemberian makan yang difokuskan pada anak usia 0 s.d 23 bulan. Untuk usia 0 s.d 6 bulan, makanannya adalah ASI saja tanpa makanan atau minuman lain. Kemudian untuk usia 6 bulan s.d 23 bulan sudah diberikan makanan pendamping ASI, artinya makanan tidak mengganti ASI atau sebaliknya, tetapi makanan dan ASI jalan secara berdampingan,” jelas Selfiana.

Selfiana juga menjelaskan bahwa ada 7 (tujuh) faktor yang perlu diperhatikan dalam pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP ASI).

Pertama, Usia. Usia 6 bulan, mulai diberikan MP ASI. Saat usia 8 bulan s.d 1 tahun, perlu memperhatikan bentuk makanannya.

Kedua, Frekuensinya. Berapa kali anak harus makan dalam sehari.

Ketiga, Jumlah atau porsinya. Setiap kali makan, anak harus menghabiskan berapa banyak makanan.

Keempat, Tekstur. Bagaimana konsistensi atau tekstur dari makanan sesuai dengan umur anak. Misalnya anak usia 1 tahun masih makan bubur padahal sebenarnya tidak. Itu ada anjurannya tersendiri.

Kelima, Variasi. Variasi itu berhubungan dengan jenis makanan. Jadi dalam setiap kali makan harus ada yang namanya 4 bintang jenis-jenis makan. Bintang pertama itu makanan pokok. Bintang kedua lauk nabati (lauk yang berasal dari tumbuhan. Contohnya kacang-kacangan dan olahannya seperti tempe tahu). Bintang ketiga variasi (di dalam makanan yang variasi itu, harus ada sayuran dan buah-buahan). Bintang yang keempat adalah lauk hewani (lauk yang berasal dari hewan. Contohnya telur, ikan daging, hati ayam atau hati sapi).

Keenam, Responsif atau pemberian makan aktif. Bagaimana orang tua itu sudah siap untuk memberikan makan kepada anak. Contohnya saat anak sudah jam untuk makan, tapi orang tua belum menyiapkan makanan. Ini berhubungan dengan pola asuh juga.

Ketujuh, Kebersihan. Misalnya kebersihan peralatan yang dipakai untuk masak dan makan. Kebersihan makanan, kebersihan anak sendiri, dan kebersihan lingkungan juga harus diperhatikan.

“Nah, tadi saya bilang bahwa variasi atau jenis-jenis makanan itu yang perlu diperhatikan adalah makanan lokal. Jadi memanfaatkan makanan lokal seperti pelatihan pembuatan abon ikan lele yang dilaksanakan oleh tim dari Institut Pendidikan SoE hari ini,” ujar Selfiana.

Selfiana juga berterima kasih kepada tim dari Institut Pendidikan SoE yang melaksanakan kegiatan pelatihan pengolahan pangan lokal menjadi makanan penuh nutrisi untuk kebutuhan anak guna mencegah stunting. Karena makanan bergizi itu banyak di desa, tapi cara pengolahannya yang belum dipahami.

“Kami sebagai petugas gizi dari Puskesmas Nulle sangat berterima kasih kepada tim dari Institut Pendidikan SoE yang menggelar pelatihan ini. Karena sebenarnya makanan bergizi itu ada di desa, ada disekitar pekarangan rumah. Tapi bagaimana cara mengolah itu yang mungkin kurang pengetahuan dari ibu-ibu balita. Misalnya selama ini kita pelihara ikan lele, tapi hanya untuk dijual atau digoreng yang sulit dikonsumsi oleh anak usia 0 s.d. 23 bulan. Maka dengan adanya kegiatan hari ini, dapat menambah wawasan ibu-ibu di sini,” tutup Selfiana.

 

Kepala Seksi Kesra dan Pelayanan desa Nusa, Amos Faot, mewakili Kepala Desa Nusa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim dari Institut Pendidikan SoE yang melaksanakan pelatihan pembuatan abon ikan lele yang sangat bermanfaat bagi warganya mengingat potensi ikan lele di desa Nusa cukup banyak, tapi masih minim pemahaman mengelolanya.

“Oleh karena itu, pada hari ini lewat pelatihan pembuatan abon ikan lele ini bisa memberikan motivasi kepada masyarakat untuk rajin memelihara ikan lele dan ibu-ibu bisa mampu mengelola ikan lele menjadi abon, ini sesuatu yang baru bagi kami. Untuk itu, saya atas nama Kepala Desa Nusa menyampaikan terima kasih kepada Institut Pendidikan SoE yang sudah hadir untuk memberikan pelatihan kepada kami,” tutup Faot.

Senada, Pengelola PAUD Merpati Neto desa Nusa, Meirene K. Waruwu juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tim dari Institut Pendidikan SoE yang melaksanakan kegiatan pelatihan ini dan melibatkan mereka.

“Kami sebagai Pengelola dan Pendidik PAUD Merpati Neto bersyukur, berterima kasih, dan mengapresiasi tim dari Institut Pendidikan SoE yang melibatkan anak-anak PAUD beserta orang tua dalam kegiatan hari ini,” ucap  Meirene.

“Khusus permainan ular tangga, bagi saya sangat bagus dan luar biasa karena setidaknya anak-anak PAUD bisa mengenal yang namanya ular tangga. Selama ini mereka tidak tahu dengan yang namanya ular tangga. Tapi tadi ketika mereka dilatih dan diajar bermain, baru mereka tahu,” kata Meirene.

Sambungnya, “Anak-anak terlihat sangat antusias di dalam permainan tersebut. Apalagi dapat hadiah, mereka jadi lebih semangat sehingga ketika ada pertanyaan mereka jawab dengan baik. Jadi saya sangat bersyukur. Kiranya dengan kegiatan hari ini, bisa menjadi berkat bagi anak-anak PAUD dan mereka termotivasi untuk semakin semangat datang sekolah, tutup Meirene.

Tim dari Institut Pendidikan SoE yang melaksanakan kegiatan ini terdiri dari Ketua Pelaksana Kegiatan Netty J. M. Gella, M.Si, dengan anggota-anggota Ruth N. K. Mellu, M.Pd, Kostan D.F. Mataubenu, M.Si, Marthisa O. Billik, M.Pd, dan Nerson Nenoliu.

Sementara peserta yang mengikuti kegiatan Pelatihan Pembuatan Abon Ikan Lele Bagi Ibu Rumah Tangga dan Edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Permainan Ular Tangga Untuk Anak PAUD di Desa Nusa ini berjumlah 24 orang. Terdiri dari 9 orang ibu rumah tangga, dan 16 orang anak-anak PAUD. (RED STC)

Berita Terkait

IPS gelar Kegiatan Membangun Budaya Literasi Sains, Numerasi, dan Bahasa Inggris Melalui Game Bagi Siswa SD di Desa Kesetnana
Mahasiswa IPS Gelar Survey Pangan di Desa Bikekneno
Syukuran Tahunan, IPPAT dan INI Berbagi Kasih Kepada Anak-Anak Stunting di Desa Kesetnana
Lantik 12 Pejabat Eselon II, Bupati TTS: Kita Harus Pertahankan Opini WTP
Bupati TTS Hadiri Kegiatan Sosialisasi Transparansi PBJ Satuan Pendidikan dan Onboarding UMKM Lokal
Tanggap Terhadap Wilayah Terdampak Kekeringan, BPBD TTS Salurkan Air Bersih
Pemkab TTS Raih Predikat B Akuntabilitas Kinerja Tahun 2023 Setelah Sepuluh Tahun Memperoleh Nilai CC
Kepsek SMPN Nefotes: YASPENSI Beri Warna Tersendiri Dalam Pendampingan Literasi

Berita Terkait

Jumat, 22 Desember 2023 - 01:30 WITA

Evaluasi Pelaksanaan Program, IDRIP Provinsi NTT Gelar Rakor Triwulan IV

Kamis, 7 Desember 2023 - 13:12 WITA

Dibangun Sejak Tahun 2020 Dengan Anggaran Rp. 173 Miliar, SPAM Kali Dendeng Kupang Diresmikan Presiden Jokowi

Kamis, 7 Desember 2023 - 10:40 WITA

Diresmikan Presiden Jokowi, RS dr. Ben Mboi Kupang Miliki Fasilitas Canggih dan Cukup Lengkap

Kamis, 23 November 2023 - 20:32 WITA

IDRIP Wilayah II NTT Bangun Ketangguhan Masyarakat Melalui Program DESTANA di Manggarai Barat dan Alor

Minggu, 19 November 2023 - 13:13 WITA

Kemenkes Terapkan Inovasi Wolbachia Atasi Penyakit Demam Berdarah

Rabu, 1 November 2023 - 07:19 WITA

IDRIP Provinsi NTT Kembali Gelar Rakor Triwulan III

Senin, 30 Oktober 2023 - 00:11 WITA

Peringati Bulan Bahasa 2023, UCB Gandeng UNDANA Kupang Gelar Seminar International Linguistik Terapan

Sabtu, 23 September 2023 - 10:47 WITA

Kembalikan Jam Sekolah Menjadi Pukul 07.00 Wita, Pj Gubernur NTT Tinjau Kegiatan Belajar Mengajar di SMA Negeri 1 Kupang

Berita Terbaru

TTS

Mahasiswa IPS Gelar Survey Pangan di Desa Bikekneno

Jumat, 5 Apr 2024 - 20:46 WITA