BELAJAR DARI KISAH NOKSENG: MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU, KU TAKKAN INGKAR

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh : Pdt. Elisa Maplani, M.Si

(Refleksi terhadap Teks Injil Lukas 9: 57-62)

“I HAVE DECIDED TO FOLLOW JESUS” merupakan salah satu karya lagu himne tertua yang terkenal dan sering dinyanyikan di gereja gereja oleh setiap orang percaya hingga kini di seluruh dunia. Lagu ini diambil dari kata-kata terakhir seorang lelaki yang bernama NOKSENG.

Nokseng adalah seorang yang berasal dari suku Garo, desa ASSAM, di Timur Laut India.

Pada waktu itu, sekitar tahun 1800-an, terjadi kebangkitan rohani di Eropa secara besar besaran yang menghasilkan banyak sekali misionaris pergi keluar dari Eropa untuk meberitakan Injil ke seluruh dunia.

Sebagai hasilnya, beberapa misionaris dari Inggris pun tiba di India dan memberitakan Injil di desa Assam. Assam bukanlah tempat yang mudah bagi Injil untuk diterima. Penduduk di tempat ini terdiri dari beberapa suku primitive yang masih memiliki kebiasaan kanibalisme yakni praktik memakan sesama manusia. Tetapi yang juga menjadi tantangan terbesar adalah, mereka tidak begitu suka dengan kehadiran orang asing.

Orang orang Assam, khususnya kaum laki laki memiliki tradisi mengerikan. Status sosial dan kepahlawanan mereka dilihat berdasarkan banyaknya koleksi tengkorak manusia yang dibunuh dan dimakan dan dipajang di depan rumah mereka. Semakin banyak kepala manusia yang mereka dapat, semakin dipandang cakap dan mampu melindungi keluarga sendiri serta semakin dihormati di kalangan suku mereka. Oleh sebab itu mereka juga dijuluki suku pemburu kepala manusia.

Dalam kebengisan dan kebrutalan seperti ini, hadirlah para misionaris dari Inggris untuk membawa Injil di tengah tengah mereka. Tentu saja kehadiran mereka tidak disenangi bahkan dibenci oleh orang orang Assam. Akan tetapi, terjadi hal yang diluar dugaan. Kehadiran Injil di tengah tengah mereka, mulai perlahan berdampak.

Nokseng bersama istri dan dua orang anak menerima Tuhan Yesus pada pertengahan abad 19. Tidak sampai di situ, kehidupan keluarga pertama yang merespon terhadap Injil ini berdampak pada keluarga keluarga yang lain. Mereka mulai menyatakan diri untuk mengikut Tuhan Yesus dan menjadi orang percaya .

Mendengar kabar ini, kepala suku menjadi marah dan memerintahkan semua warga untuk berkumpul. Lalu kemudian ia memanggil Nokseng sebagai keluarga pertama yang menyatakan iman untuk Tuhan Yesus untuk diadili di tengah tengah kumpulan masyarakat itu. Nokseng beserta istri dan kedua anaknya diadili di tengah tengah kumpulan masyarakat.

Ketika sang kepala suku itu mengangkat tombaknya dan mengancam supaya Nokseng dan keluarganya meninggalkan iman mereka, Nokseng berkata:” I HAVE DECIDED TO FOLLOW JESUS NO TURNING BACK” (Aku Berkeputusan Mengikut Yesus dan tidak Akan Menoleh ke Belakang).

Kepala suku memerintahkan penduduk memenggal kepala istrinya. Sang istri mati terkapar di depan mata Nokseng dan kedua anaknya.

Tombak kini diarahkan untuk membunuh kedua anaknya. Kepala suku kemudian membujuk Nokseng dengan berkata: “jika kamu tidak mau meninggalkan imanmu itu, bukan hanya isteri dan kedua anakmu yang mati, engkau juga akan mati”. Nokseng tidak menyerah dan berpaling dari Kristus. Dengan tegas ia berkata: ”THE CROSS BEFORE ME, THE WORLD BEHIND ME” (Salib di Depan, Dunia di Belakang).

Mendengar kalimat ini, sang kepala suku menjadi murka, lalu dengan amarah memerintahkan anak buahnya menghujamkan tombak kepada kedua anak Nokseng yang tidak berdaya dan mati.

Tidak sampai di situ, sang kepala suku dengan marah berteriak:“aku memberikan kamu satu kesempatan lagi, jika kamu mau berbalik dari imanmu maka kamu akan hidup”. Tetapi dengan mantap Nokseng justeru mengucapkan kalimat “THOUGH NONE JOINS ME, STILL I WILL FOLLOW. NO TURNING BACK” (Tetap ku Ikut Walau Sendiri, Aku tidak akan menoleh ke Belakang). Sang kepala suku itu kemudian membunuh Nokseng.

Kematian Nokseng dan keluarganya ternyata berdampak besar bagi jalan masuk Injil Kristus diterima dan jadi berkembang secara pesat di daerah itu. Beberapa waktu berjalan, sang kepala suku menjadi tergangu dan penasaran hatinya: Mengapa ada orang yang begitu kokoh percaya dan ber-Iman kepada pribadi yang bernama Yesus Kristus? Tidak mungkin ada orang yang mau mati bukan karena kekuatan supranatural yang mempengaruhinya.

Rasa penasaran ini membawa kepala suku pada akhirnya bertemu secara pribadi dengan Kristus ketika ia membaca Injil dan menjadi percaya karena kesaksian hidup keluarga yang telah ia bantai. Sang kepala suku lalu memanggil seluruh rakyatnya untuk berkumpul di alun alun desa itu, dan menyatakan Imannya kepada Yesus Kristus dihadapan seluruh rakyatnya.

Perbuatan Iman ini medorong semua warga untuk mengikuti kepercayaan sang kepala suku. Mulai saat itu, Injil Yesus Kristus berkembang pesat di daerah itu. Hari ini, kota Menghaya adalah Negara yang subur di timur laut India dan merupakan salah satu dari tiga Negara bagian India dengan mayoritas Kristen. hampir 90% dari suku Garo adalah orang yang beragama Kristen.

Kata kata Nokseng di atas diubah menjadi suatu lagu Hymne yang indah oleh seorang misionaris India, SADHU SUNDAR SING. Lagu ini kemudian di aransemen oleh composer Amerika, WILLIAM JENSEN REYNOLD tahun 1959.

BILLY GRAHAM’ sebagai salah sato tokoh Kebangunan Rohani di dunia, menjadikan lagu ini sebagai lagu wajib yang terus dinyanyikan di banyak Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di seluruh dunia. Sampai hari ini gereja dan semua orang Kristen dan mengenal lagu “I Have Decided to Follow Jesus” sebagai lagu yang indah paling menyentuh rasa.

Kesaksian Nokseng yang dijadikan latar belakang lagu ini mengingatkan setiap orang percaya bahwa mengikut Tuhan bukan hal yang mudah. Ada harga yang harus dibayar dari keputusan Iman ikut dan percaya pada Yesus. Harga itu adalah nyawa yang hilang karena dibunuh mati.

Namun di dalam Yesus, Satu benih yang mati menghidupkan jutaan benih lainnya. Darah para martir adalah benih pertumbuhan Injil Kristus. Itu yang jadi dasar keteguhan iman dan pengharapan selalu menolong setiap orang percaya untuk tetap percaya pada Yesus.

Tantangan dalam setiap zaman pasti berbeda beda, tetapi prinsinya adalah, tetaplah kuat berpegang pada iman kita pada Yesus. Kiranya kita dimampukan untuk tetap berpegang teguh pada iman kita kepada Tuhan sampai ia mendapati kita setia sampai akhir hidup kita.

Yesus dalam teks Injil Lukas 9: 57-62 memberi reaksi terhadap keputusan para murid yang bertekad mengikuti-Nya:

Pertama, pengakuan mengikut Yesus bukan hanya berarti kesediaan mengikuti-Nya, tetapi menerima semua konsekuensi saat mengikuti-Nya dengan sikap teguh dan tidak goyah meskipun kenyataan tidak sesuai harapan. Inilah makna yang terdapat dalam perkataan Yesus, “Sebab anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya”.

Kedua, panggilan mengikut Yesus berarti kesediaan melepaskan diri dari segala keterikatan hidup yang lama, menyangkal diri, dan memberi diri bagi pelayanan. Sayangnya, saat Yesus memanggil banyak orang yang berdalih karena masih terikat pada kehidupan lamanya.

Ketiga, pengakuan mengikut Yesus berarti kesediaan memberi hidup, waktu, tenaga, juga pikiran bagi Tuhan. Ibarat petani yang membajak, ia memfokuskan pandangannya pada tujuan. Ia tidak boleh menoleh ke belakang lagi.

Melalui nas ini, setiap orang Kristen hendaknya belajar bahwa ketika membuat keputusan untuk mengikut Yesus, kita harus fokus kepada Yesus dan siap menerima konsekuensinya. Marilah kita bersyukur karena memiliki Yesus Kristus yang mengatakan rahasia di balik keputusaan setiap orang yang mengikut-Nya.

Sebagai orang Kristen, baiklah kita terus berkomitmen, melanjutkan perjalanan Iman di dalam dan bersama Yesus apapun tantangan yang kita hadapi, batapapun harga mahal dan resiko yang harus kita bayar dan akan menimpa. Kita bertekad mengikut Yesus dengan sukacita sambil bernyanyi untuk membangun ingatan kita terhadap demonstrasi Iman Neksong:

  1. Mengikut Yesus Keputusanku (3x), Ku Tak Ingkar (2x).
  1. Salib di Muka, Dunia di Blakang (3x), Ku Tak Ingkar (2x).
  1. Tetap Ku Ikut, Walau Sendiri (3X), Ku Tak Ingkar (2x).

Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Yesus, dalam anugerah-Mu, pimpinlah kami untuk mengikuti-Mu. Amin.

SOLI DEO GLORIA.

(Catatan: Tulisan ini pernah terbit di Koran Harian Timor Ekspress, Tanggal 26 Juli 2020)

Pos terkait