BOSS ATAU DOULOS?

  • Whatsapp
Pdt. Dr. Nimrod Fini Faot, M.Th

Oleh : PDT. DR. NIMROD FINI FAOT

(Bacaan Alkitab, Matius 20:25-28)

Rapat ilahi memutus, menetapkan manusia (laki-laki dan perempuan) diciptakan untuk menjadi pemimpin, mengingat binatang-binatang dan bumi perlu diurus. “Baiklah Kita menjadikan manusia…, supaya mereka berkuasa…” (Kej. 1:26-28, bd 2:15). Pria dan wanita adalah penerima mandat leadership untuk menjadi pemimpin pembangunan semesta (Kej. 1:28). Apa itu pemimpin? “Leader is influence.” Pemimpin adalah orang yang memberi pengaruh. “Kepemimpinan” kata jadian dari kata dasar “pimpin” = bimbing/tuntun, arahkan. Dari kata “pimpin” lahirlah kata kerja “memimpin” artinya membimbing, menuntun. “Leadership” mengacu pada kegiatan seseorang dalam memimpin, membimbing, mempengaruhi. Agar efektif dalam memberi pengaruh, maka leader(s) patut memilik karakter/watak yang terpuji.

Salome mamanya Yakobus dan Yohanes menginginkan posisi kepemimpinan yang tinggi, terhormat bagi masa depan kedua putranya, yakni duduk di kiri dan kanan Yesus. Menurut Injil Markus, Yakobus dan Yohanes yang minta, sedangkan Matius bilang Salome yang minta. Salome bersaudara dengan Maria, ibu Yesus. Yakobus, Yohanis basaudara sepupu dengan Yesus. Tapi Yesus pemimpin yang konsisten, jujur kepada Salome dan juga bagi Yakobus, Yohanes. Kepada tim tiga itu dibilang “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta…” (Mat. 20:22-23; bd Mark. 10:35-40), atau salah minta. Rupanya ambisi mendorong mama Salome dan dua anaknya untuk menggunakan jalur kekeluargaan. Yesus pemimpin sejati menolak permintaan itu berdasarkan kebenaran dan kejujuran theologis. Ciri pemimpin sejati mengutamakan kebenaran dan kejujuran, bukan kekeluargaan dan/atau nepotisme dan juga bukan demi persahabatan sosial. Yesus adalah pemimpinan teladan bagi setiap pemimpin masa kini (pemimpin: rumahtangga/suami, gereja/pendeta/majelis/pengurus, boss perusahaan, boss pemerintahan, dll).

Ke-10 murid yang lain emosi mendengar permintaan ambisius Yakobus dan Yohanes. Mereka pun tak kalah emosinya (Mat. 20:24; Mark. 10:41). Dari sudut emosi, karakter, ke-12 murid itu sami mawon, sami wae’! Sudah hampir tiga setengah tahun (7 semester) belajar dari Yesus, tapi karakter masih perlu pembenahan. Pada satu sisi Yesus sedang menuju Yerusalem dan selanjutnya akan ke Golgota untuk disalibkan. Ia sudah beritahu ke-12 anggota sel grup-Nya (Mat.20:17-18; Mark.10:32-34). Tapi pengutamaan diri membius mereka sehingga lupa pikirkan pergumulan Yesus dalam menghadapi jalan salib. Bukan begitukah anggota sel grup Yesus masa kini?

Namun Yesus sabar memberi pengarahan secara bersama-sama untuk selesaikan persoalan anggota sel grup-Nya yang sedang masuki semester skripsi jika dilihat berdasarkan konteks pendidikan perguruan tinggi masa kini (Mat. 20:25-28). Yesus menerapkan open leadership and management system secara proporsional/tepatguna dalam meyelesaikan masalah, karena manyangkut ke-12 yang dilatih-Nya. Yesus memperlihatkan transfomasi leadership untuk mengoreksi leadership dunia yang menganut closed leadership/management system. Bagaimana leadership/management gereja? rumahtangga? Yesus mengesampingkan pergumulan untuk mengatasi masalah, kekeliruan pengikut-Nya. Ia pilih pendekatan yang tepat, pada waktu yang tepat di tempat yang tepat. Inilah contoh pemimpin sejati. Yesus inginkan sikap, cara yang sama dari setiap pemimpin masa kini dalam kepemimpinan apa pun. Yesus sungguh leader teladan.

Dalam menyelesaikan masalah para murid-Nya, Yesus membuat komparasi antara kepemimpinan duniawi dengan kepemimpinan rohani (baca: kepemimpinan Kristen) dalam arti orang-orang Kristen yang jadi pemimpin. Ke(pemimpin)an dunia bercirikan kekuasaan, kekerasan, organization position power terhadap rakyat (Mat. 20:25; Mark. 10:43). “Tidaklah demikian di antara kamu.” Cara kamu (murid-Ku), pengikut-Ku memimpin, harus berbeda dengan cara kepemimpinan dunia/mereka yang bukan murid-Ku.

Apa beda kepemimpinan orang di dalam Kristus (Kristen) dengan kepemimpinan orang di luar Kristus? Ada dua ciri. Para pemimpinan Kristen yang ingin menjadi pemimpin besar, terkemuka dalam menjalankan kepemimpinan (rumahtangga, perusahaan, pemerintahan) harus menjadi: (1) Pelayan/abdi/hamba (Yunani: diaknos) untuk tanggung jawab diakoneo (melayani). Memimpin dalam prinsip Alkitab berarti saling melayani dengan sikap rendah hati. Melayani sebagai doulos tidak mengurangi harkat dan martabat sedikit pun. (2) Hamba (Yunani: doulos). Yesus menampilkan model kepemimpinan alkitabiah (baca: kepemimpinan Kristen). Yesus bukan hanya memberi konsep atau teori atau doktrin leadership, melainkan Ia telah mempraktikan kepemimpinan yang menghamba, melayani (Yunani: diakoneo) dalam perjamuan terakhir dengan para murid-Nya (Yoh.13:14-17). Kalau Tarik garis sejajar antara doulos dan ̒eved (kata Ibrani) = hamba, budak. Dalam pengertian umum ̒eved berarti budak, jongos seorang raja. Dalam konteks religiusitas Israel, budak = ̒eved kata ini digunakan dalam arti kerendahan diri seseorang di hadapan Allah sesembahannya. Septuaginta memakai daulon dari kata doulos untuk menerjemahkan kata ̒eved (Kel. 4:10; Mzm. 119:17; 143:12). Dalam konteks Indonesia kata ̒eved, doulos pengertian dan penerapannya sama dengan kata “jongos” Kristus raja segala raja. Rasul Paulus bangga menyebut diri doulos Kristus sesuai konteks zamannya (Flp. 1:1 = douloi tou Iesou Xristou. Sayangnya, di Indonesia mendengar kata “jongos” tekanan darah langsung naik, matanya melotot, karena dianggap kata itu merendahkan. Padahal jongos adalah orang yang berguna bagi orang lain. Hidupnya meringankan beban orang lain, selalu siap menolong tanpa banyak bicara.

Dasar atau cotoh model pemimpin menjadi ̒eved = diakonos = doulos (budak/jongos) adalah “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyka orang” (Mat. 20:28). Pengorbanan diri dan/atau yang terbaik bagi pengikut adalah ciri leader alkitabiah (Kristosentris). Yesus datang untuk melayani (Yunani: diakonesai = diakonos) = menjadi pelayan = doulos/budak/ jongos. Dasar leadership yang dicontohkan Yesus sepatutnya menjadi batu penjuru bagi leader(s) masa kini agar tidak jadi batu sandungan bagi sesama. Sayangnya, justru dewasa ini sebagian di antara kita bersukaria meneladani pemimpin dunia, para CEO. Mengapa teladani Yesus dalam memimpin? Karena kepemimpinan apa pun pada level mana pun, senantiasa berintikan dimensi spiritual yang berpijak pada kebenaran, kesetiaan, kejujuran dan keadilan. Firman Tuhan adalah kebenaran (Yoh. 17:17-19). Yesus adalah tokoh kebenaran dan jalan kebenaran, seng ada lain. Setiap pemimpin yang adalah juga seorang Kristen kelahiran Roh Kudus (Yoh.3:7), termasuk pemimpin pabrik, kepala sekolah TK, SD dstnya, pemimpin rumahtangga, pemimpin politik/ partai, perlu inga-inga jo bahwa “peran kepemimpinan adalah tanggung jawab spiritual. Opa-oma, opung doli – opung boru, hula-hula, kakek-nenek adalah pemimpinan spiritual bagi anak-cucu dan buyut.

Dan orang-orang yang dipimpin/bawahan, karyawan, para murid, para mahasiswa, anggota jemaat, anak-cucu adalah amanat TUHAN Allah yang pasti dimintai tanggung jawab” (Mat. 25:14-30; 2Kor. 5:10; Why. 20:12-13). Yesus pemimpin sejati, selalu memberi inspirasi, kesejukan kepada para murid-Nya. Ketika mereka berkelahi, tidak dipecat, tapi dilayani. Ketika mereka bermasalah, dibimbing, bukan diancam. Ia pemimpin kebenaran selalu menuntun pengikut-Nya dengan lembuh lembut (bd Mat. 11:28-30). Yesus berpesan, ikutlah teladan-Ku (Yoh. 13:14-15). Kepemimpin Yesus berdimensi spiritual. Begitu pula kepemimpinan kita. Kepemimpinan ini menuntut hati diakonos, sikap jongos bukan boss. Pengaruh leader(s) bukan karena bergaya boss, melainkan bersikap seperti doulos sekaligus jongos. Siapa yang mau? Boss atau doulos?

Teriring doa dan salam 🛐Shalom🌈fnf♎

Pos terkait