Diduga Ada Kecurangan Dalam Pilkades Nule, Simon P. Benu Siapkan Penolakan Resmi Beserta Semua Bukti

  • Whatsapp
Simon Petrus Benu (Calon Kepala Desa Nule)

SoE, SALAMTIMOR.COM — Dua Calon Kepala Desa Nule, Kecamatan Amanuban Barat menolak hasil pemilihan Kepala Desa karena di duga ada kejanggalan dan kecurangan sehingga mereka merasa dirugikan.

Penolakan tersebut berujung pada tidak ditandatanganinya Berita Acara hasil penghitungan suara oleh masing-masing saksi calon.

Kepada media ini, Calon Kepala Desa Nule nomor urut 4, Simon P. Benu menyampaikan bahwa dirinya menolak hasil perhitungan pemilihan Kepala Desa Nule.

Dasar penolakan Simon yaitu bahwa adanya beberapa kejanggalan dan terindikasi terjadi kecurangan.

“Indikasi pertama jumlah pemilih sesuai DPT di Desa Nule adalah 3.371 orang. Tetapi yang janggal adalah tidak semua masyarakat mendapatkan undangan oleh panitia penyelenggara.” ucap Simon.

Dua orang Calon Kepala Desa Nule yang menolak hasil pemilihan Kepala Desa Nule periode 2022-2028

Lanjut Simon, “Indikasi kecurangan lainnya ialah adanya pemilih yang merupakan anak dibawah umur. Ada beberapa anak yang saya tau persis karena mereka juga orang sini termasuk anak kandung dari Anggota DPRD TTS, Uksam Selan.”

“Menurut saya, anaknya pak Uksam belum cukup umur untuk menggunakan hak suaranya sesuai rugulasi. Tidak hanya anak dari pak Uksam Selan, tetapi masih dan ada beberapa anak yang masih dibawah umur yang saya tau persis.” beber Simon

“Hal inilah yang membuat saya keberatan dan menolak hasil pemilihan kepala Desa Nule. Kecurangan lainnya ada orang yang diluar desa Nule namun ikut memilih karena mendapat undangan.” kata Simon.

“Saya sempat menegur yang bersangkutan, saya tanya ini undangan siapa punya? dia menjawab bahwa ini punya saudara jadi saya atas nama. Saya langsung menegur. Saya bilang tidak bisa, anda bukan orang Nule. Akhirnya undangan diterima kembali oleh panitia atas nama Cristo Bantaika.” tutur Simon.

Sambung Simon, “Tidak hanya sampai di situ, ada pemilih yang namanya tercantum dalam DPT namun tidak mendapatkan undangan, dan saat yang bersangkutan menunjukkan KTP kepada panitia ditolak untuk menggunakan hak suaranya.”

“Bentuk kecurangan lain dalam pemilihan kepala Desa Nule yaitu adanya oknum yang memperbanyak undangan dengan cara menscan undangan tersebut untuk diperbanyak. Tetapi sempat di ketahui dan yang bersangkutan dilaporkan ke Polres TTS.” kata Simon

Ketut RT 22 Desa Nule, Lianroe Parera

“Saya secara pribadi merasa dirugikan. Untuk itu saya tidak mau menandatangani berita acara yang disiapkan oleh panitia. Karena pada prinsipnya saya menolak hasil pemilihan kepala Desa Nule.” tegas Benu.

Untuk itu pihaknya akan membuat surat penolakan secara resmi terhadap hasil pemilihan kepala Desa Nule berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Hal yang sama disampaikan oleh, Calon Kepada Desa Nule, Nyongki Imanuel Selan.

“Kecurangan-kecurangan jelas nampak karena ada beberapa aktivitas yang diluar dari regulasi yaitu kaitannya dengan penyaluran surat undangan yang dilakukan di sini buka H-1 lagi tapi mau di bilang H- stegah. Malahan pendistribusian surat undangan masih dilakukan sesudah pemilihan.”

Rodel Paulina Toabnani

Terpisah, Ketut RT 22 Lianroe Parera menyampaikan bahwa dirinya bersama kurang lebih ada 30 warga tidak mendapatkan undangan untuk ikut dalam pemilihan kepala Desa Nule.

Padahal menurut Lianroe, dirinya menjabat sebagai ketua RT sudah 10 tahun dan sudah berulang kali mengikuti pemilihan umum lainnya.

Masih pegaduan yang sama, Rodel Paulina Toabnani menyampaikan bahwa, “Nama saya ada di DPT. Tapi saya tidak mendapatkan undangan. Saya berikan KTP sebagai petunjuk untuk tetap memilih namun tidak di terima oleh panitia.” ucap Rodel

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait