Diduga Aniaya Anak Dibawah Umur, Oknum Polisi Polres TTS di Polisikan

  • Whatsapp

SoE, Salamtimor.com — Seorang oknum polisi yang bertugas di Polres TTS berinisial JN di duga melakukan tindak pidana penganiayaan kepada seorang anak yang masih dibawah umur yakni FDT (15) tahun asal desa Eon’besi, Kec. Mollo Utara, Kab. TTS.

Kejadian ini telah dilaporkan oleh ibu kandung korban ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres TTS pada hari Selasa tanggal 4 Oktober 2022 dengan bukti Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP), bernomor : STTLP/B/337/IX/2022/RESTTS.

Terkait kejadian ini, Helena Awing (ibu kandung FDT) saat ditemui media pada (06/10/2022) menyampaikan kekecewaannya atas sikap dan perilaku yang dilakukan oleh JN.

“Saya menyesal sekali bapak, Pak JN ini datang cari saya punya anak tanpa ketahuan saya. Datang jemput saya punya anak, pergi ke kantor polisi tanpa pendampingan kami dan itu saya kecewa sekali. Saya pikir sampe kantor polisi tidak ada keadilan saya kecewa sekali, di kantor polisi itu ada anggota polisi yang lain, tapi saat Pak JN pukul anak saya. Tidak ada satupun anggota yang bangun untuk menegur atau melerai Pak JN untuk tidak pukul anak saya,” ucap Helena Awing.

“Untuk sekarang ini, saya hanya minta keadilan. Sebagai seorang ibu saya sangat menyesal. Dari hamil sampai melahirkan FDT, saya tidak pernah naik tangan di saya punya anak baru orang lain yang pukul anak saya, saya sangat kecewa. Dan setahu saya pak JN sudah melanggar aturan disini karena pak JN kan tidak bertugas di Polsek Mollo Utara? kenapa dia bertindak seperti dia yang bertugas di Polsek Mollo Utara?,” sesal Helena.

“Kalau dia (Pak JN) orang mengerti dia datang ke kami orang tua untuk kami dampingi anak kami, dia tidak mengerti dan main hakim sendiri. Mungkin karena dia seorang anggota polisi. Mungkin kami orang kecil, atau kami mungkin orang bodoh sampai kami dibuat seperti ini. Untuk saat ini, kami hanya butuh perlindungan untuk anak dan keadilan,” pungkas Helena Awing.

Sementara itu, JN saat dihubungi media melalui telephone seluler mengakui bahwa kejadian tersebut benar terjadi dan dirinya telah bertemu dengan pihak korban dan meminta maaf atas kejadian tersebut.

“Saya juga manusia biasa dan juga orang tua yang apabila mendapat informasi anak saya dipukul, kakak mengerti saja. Kita sebagai orang tua dengar anak kena pukul sampi pingsan jelas kita didalam pikiran ini, semua pikiran ada habis. Beta karena dekat dengan yang korban punya rumah ini, beta langsung pi cari ini anak. Setelah ketemu korban, dia mau lari. Beta pegang ditangan dan bajunya robek, lalu beta bawa ke Polsek,” jelas JN.

“Makanya kemarin, beta bawa diri karena beta su salah dan beta minta maaf di orang tua korban. Karena memang beta akui beta su salah karena bina mama dong punya anak mungkin lebih, karena namanya orang tua ketika dengar anaknya kena pukul sampai pingsan pasti kita emosi dan beta su bawah diri karena beta su salah,” ungkap JN.

Terkait kejadian ini, Ketua DPC Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Kab. TTS, Yerim Yos Fallo, mengecam perilaku yang dilakukan JN dan berharap Unit Pro-Pam Polres TTS segera menindaklanjuti laporan dari orang tua korban.

“Negara kita adalah negara hukum, sehingga jika terjadi persoalan hukum wajib hukumnya untuk diperhadapkan dengan hukum untuk diproses secara hukum bukan main hakim sendiri. Yang kita sangat sayangkan, pelaku yang melakukan penganiayaan adalah oknum penegak hukum yang seharusnya menjadi contoh dan pelindung masyarakat, tetapi justru melakukan tindakan penganiayaan,” kata Yerim.

“Lebih mirisnya lagi, perlakuan itu dilakukan terhadap anak dibawah umur dan sesuai informasi yang diperoleh korban adalah anak dibawah umur, sempat dipukul di Polsek Mollo Utara dihadapan pihak kepolisian yang seharusnya menjadi tempat untuk masyarakat mendapatkan perlindungan dan keadilan tapi justru tidak ada anggota polisi lain yang menegur atau menghentikan perbuatan JN,” ucap Yerim.

“Untuk itu, Pospera mengecam perilaku-perilaku seperti ini dan kita dorong Propam Polri untuk segera melakukan tindakan terhadap oknum anggota polisi tersebut secara Etik dan Profesi. Kita juga mendorong, Pihak Reskrim untuk melakukan proses laporan pidana umum yang sudah dilaporkan orang tua korban beserta keluarga,” tegas Yerim. (**)

Pos terkait