Gereja Harus Berkontribusi Membangun Ekonomi Jemaat

  • Whatsapp
Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th saat menyampaikan suara gembala dalam acara Syukuran Peningkatan Pos Pelayanan Sontopus Nifubesa menjadi Mata Jemaat

SoE, SALAMTIMOR.COM – Klasis SoE Timur, sabagai Klasis yang baru mekar dari Klasis SoE, terus melakukan penataan pelayanan, baik pada lingkup jemaat maupun klasis. Salah satu bentuk penataan pelayanan sebagaimana dimaksud adalah meningkatkan status Pos Pelayanan yang ada saat ini menjadi Mata Jemaat, termasuk Pos Pelayanan Sontopus Nifubesa meningkat statusnya menjadi Mata Jemaat yang ditandai dengan ibadah syukuran peningkatan status dan penyerahan Surat Keputusan Majelis Sinode GMIT oleh Majelis Klasis SoE Timur di Nifubesa pada hari Minggu, 25 Oktober 2020.

Dalam Surat Keputusan Majelis SINODE GMIT Nomor 030/SK/MS-GMIT/2020 tanggal 18 September 2020 tentang peningkatan Status Pos Pelayanan Sontopus Nifubesa menjadi Mata Jemaat yang dibacakan oleh Sekretaris Majelis Klasis SoE Timur, Pnt. Yan Faot dalam ibadah Minggu yang dirangkai dengan Ibadah Syukur peningkatan status, disampaikan bahwa pada saat peningkatan status tersebut, Mata Jemaat Sontopus Nifubesa memiliki: 81 orang anggota jemaat, 57 orang anggota sidi, 21 pasangan nikah, 26 kepala keluarga, 11 orang majelis jemaat, dan 1 buah gedung kebaktian.

Ibadah Minggu dan ibadah syukur peningkatan status pos pelayanan Sontopus Nifubesa menjadi Mata Jemaat dipimpin oleh Pdt. Emr. Lukas Faot, S.Th. Bacaan Alkitab sesuai liturgi yang dikirim oleh Majelis Sinode GMIT terpilih dari Matius 15:21-28 dibawah tema“Iman Diwujudkan Dalam Tanggungjawab”, Pdt. Lukas mengajak semua jemaat agar tidak berpuas diri dengan apa yang telah dicapai, namun terus mewujudnyatakan iman dalam tindakan nyata.

Drs. Jonathan Nubatonis, tokoh jemaat desa Supul menyampaikan bahwa gereja tidak boleh berkutat hanya seputar iman jemaat, namun harus lebih luas menjangkau perut jemaat karena kalau jemaat kuat, maka otomatis gereja juga kuat. Gereja tidak hanya sebatas jumlah atau kuantitas, tapi juga harus soal kualitas baik spiritual maupun jasmani.

“Gereja tidak boleh hanya terbatas pada pelayanan spiritual, gereja juga harus memikirkan cara untuk memperkuat ekonomi jemaat. Kalau ekononi jemaat kuat, maka gereja dengan sendirinya kuat. Kalau jemaat lemah dari segi ekonomi, maka otomatis gereja juga sempoyongan. Apa gunanya membangun gereja tapi masyarakat miskin iman dan miskin harta.”

Lanjutnya “ TTS ini merupakan salah satu kabupaten termiskin di Indonesia. Bagaimana pelayanan bisa maju kalau jemaatnya miskin. Oleh karena itu saya memberi usul, kalau bisa ibadat rumah tangga di lakukan di kebun saja. Tujuannya agar kita mengelola potensi berupa tanah yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Ingat, bahwa kita ini daerah pertanian dan peternakan. Kalau kita fokus, maka otomatis kemiskinan bisa ditekan. Pelayan harus pikir jemaat, dan jemaat harus pikir pelayan. Kita membangun jemaat untuk meningkatkan iman dan ekonomi mereka. Ingat bahwa Tuhan Yesus pernah memberi makan 5000 orang. Ini menggambarkan bahwa Tuhan dalam pelayanan-Nya, juga memikirkan perut jemaat-Nya.”

Sementara itu, Dups Betty (Sekretaris Desa Supul) dalam sambutannya menyampaikan bahwa “zaman sekarang sudah berubah. Kita sekarang sudah tidak saling menghargai. Jemaat berontak kepada majelis gereja, rakyat berontak kepada pemerintah, anak berontak kepada orang tua dan seterusnya. Oleh karena itu maka kita harus terus berdoa agar Roh Kudus memperbaharui hidup kita agar saling menghagrai seperti orang-orang tua zaman dulu. Kita jangan hanya berlomba membangun gedung yang megah. Pembangunan fisik perlu, tapi harus disesuaikan dengan kekuatan dan potensi yang dimiliki. Ekonomi jemaat harus kita kembangkan agar jemaat kuat secara jasmani dan iman.” Tutupnya.

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O Toy, S.Th, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa kita bersykur atas peningkatan status Pos Pelayanan menjadi Mata Jemaat, namun juga perlu diketahui bahwa dengan adanya peningkatan tersebut maka meningkat pula tanggungjawab sebagai sebuah lembaga. Apalagi peningkatan status ini sudah melalui proses Persidangan Majelis Klasis.

“Kita senang dengan peningkatan status ini, namun di lain sisi juga kita harus bertanggung jawab secara kelembagaan sebagai Mata Jemaat sesuai dengan Tata GMIT yang berlaku. Tujuan adanya peningkatan status dari Pos Pelayanan menjadi Mata Jemaat adalah untuk mendekatkan pelayanan. Kalau dulu kita lewat sini belum ada gerjea, maka kita patut bersykur kalau hari ini sudah ada gereja dengan nama Mata Jemaat Sontopus Nifubesa.”

Lanjut Pendeta Lebrik, “sebagai Majelis, maka kita juga harus terus mengingatkan dan mendorong jemaat untuk bekerja keras meningkatkan ekonominya demi sebuah perubahan. Jangan kita hanya berorientasi pada firdaus yang tidak kelihatan, lalu lupa bahwa sementara kita berpijak di bumi. Artinya kita mesti sadar, bahwa bumi tempat kita tinggal ini merupakan firdaus yang nyata. Kesadaran kita sebagai orang beriman harus semakin meningkat setiap hari. Kita harus siuman dan sadar dari tidur panjang kita untuk melepaskan diri dari stigma “bodoh dan miskin” yang di sematkan pada kita. Caranya adalah dengan bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk kebaikan bersama. Kebaikan kita di Nifubesa, di Klasis SoE Timur, di GMIT. Akhirnya kitalah yang akan menghadirkan shalom Allah ditengah-tengah dunia ini.”

“Sekarang musim penghujan hampir tiba, siapkan ladang-ladang kita. memang saat ini pesta masih padat, tapi harus sadar bahwa kebutuhan kita lebih penting. Musim tanam kita disini tergantung pada musim hujan, oleh karena itu jangan lewatkan kesempatan yang Tuhan berikan. Tuhan akan menolong kita menjadi lebih baik, tapi kita mesti memulai secara bersama. Kiranya Yesus Kristus, kepala dan pemilik gereja terus memampukan dan menyadarkan kita.” Tutupnya.

Ketua Majelis Jemaat Batu, Pdt. Yunis Betty, M.Th dalam penyampaiannya mengucapkan terima kasih kepada Majelis Sinode GMIT melalui Majelis Klasis yang telah berjuang menaikan status Pos Pelayanan Sontopus Nifubesa menjadi Mata Jemaat. Kami siap bertanggung jawab dan menata serta memajukan pelayanan ditempat ini. Urainya.

Dalam acara tersebut, juga diserahkan sebidang tanah berukuran panjang 50 meter dan lebar 40 meter oleh Bapak Agustinus Nubatonis kepada GMIT melalui Ketua Majelis Klasis SoE Timur untuk membangun gedung gereja permanen. Penyerahan tanah tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Pelepasan Hak oleh pihak-pihak terkait. (Tim)

 

Pos terkait