GMIT Klasis SoE Timur Gelar Pelatihan Pembuatan Pupuk Takasi Bagi Kelompok Tani

  • Whatsapp

SoE, SALAMTIMOR.COM — Sebagai salah satu Klasis yang baru dalam lingkup pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), maka Klasis SoE Timur terus menggelar kegiatan dalam berbagai aspek.

Terbaru adalah kegiatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Bokasi dan Takasi bagi Kelompok Tani se-Klasis SoE Timur yang berlangsung pada Rabu, 23/06/2021 di Jemaat GMIT Eklesia Sabkiki.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th dan di hadiri oleh Majelis Klasis Harian SoE Timur, beberapa Ketua Majelis Jemaat, perwakilan Kelompok Tani dari dua puluh lima jemaat dalam lingkup pelayanan Klasis SoE Timur dan Jhys Baok selaku nara sumber dalam pelatihan ini.

Dalam suara gembalanya, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th menyampaikan bahwa, “kegiatan ini merupakan salah satu program bidang Diakonia yang ditetapkan dalam Persidangan Majelis Klasis SoE Timur II tahun 2021 di jemaat Betesda Haumenibaki pada Februari 2021 lalu.”

Lanjut Pendeta Lebrik, “Tujuan pelatihan ini guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan para kelompok tani tentang pentingnya pupuk organik.”

“Selama ini kita banyak bergantung pada pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang panjang tentu punya dampak negatif bagi tanah. Selain itu, resiko kesehatan bagi manusia juga sangat riskan.” ungkap Pendeta Toy.

Dirinya juga berharap kepada para peserta agar sekembalinya dari pelatihan ini, maka dapat menerapkannya di jemaat masing-masing.

Pendeta Toy juga berharap agar Jhys Baok selaku salah satu pakar pembuat pupuk organik di TTS bisa mengatur waktu untuk mendampingi dan melatih jemaat-jemaat dalam lingkup pelayanan GMIT Klasis SoE Timur sehingga tidak ada ketergantungan jangka panjang terhadap pupuk kimia.

 

Senada, Pdt. Yonas Nenabu, S.Th (Ketua Majelis Jemaat GMIT Sesawi Oekamusa) saat diwawancarai mengatakan bahwa, “tujuan pembuatan pupuk dengan bahan dasar (bahan baku) diambil dari tanaman lokal tersebut adalah mengajak jemaat untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia dan beralih ke pupuk alami.”

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, peserta dapat menindaklanjuti dengan mentransfer ilmu kepada jemaat lain.

“Pelatihan ini hanya untuk menuntun jemaat Back To Nature (kembali ke alam), kurangi pemakaian pupuk kimia”, ujarnya.

Pendeta Yonas juga menyampaikan bahwa sesuai pengamatannya, pembuatan pupuk Takasi bisa menekan biaya sehingga dengan sendirinya dapat meningkatkan produktivitas dan ekonomi jemaat.

Ketua BDSP Nekmese SoE, Jhys Baok kepada media ini mengatakan bahwa tujuan melakukan kegiatan pelatihan Takasi adalah untuk mengajarkan jemaat Kristen agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia.

Menurut Jhys, pihaknya sudah melakukan pelatihan dibeberapa desa dan hasilnya sangat bagus sehingga dipandang perlu mentransfer ilmu kepada jemaat untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan pupuk kimia.

Masih menurut Jhys, bahan baku yang digunakan yaitu kotoran hewan, bambu, dan serat tanaman yang mana bahan-bahan tersebut ada disekitar masyarakat sehingga tidak perlu mengeluarkan uang.

Pupuk Takasi nantinya akan digunakan untuk tanaman seperti cabai, tomat, wortel dan ketika menggunakan Takasi dapat mengurangi hama.

Teknologi ini menurutnya sudah berhasil di beberapa tempat sehingga ke depan akan terus melakukan pelatihan dengan harapan dapat membantu masyarakat.

Biasanya masyarakat menjual hasil pertanian seperti ubi dan pisang untuk membeli pupuk. Tapi dengan adanya inovasi ini masyarakat lebih terbantu dan tidak perlu merogoh kocek tapi bisa menggunakan material lokal untuk menghasilkan pupuk Takasi.

Adapun bahan dasar dari pupuk “Takasi” berasal dari bagian tanaman seperti daun-daunan, jerami dan kotoran ternak.

Bahan:

  • Kotoran sapi yang sudah lapuk 450 kg (± 10 karung);
  • Daun bambo yang sudah kering (yang jatuh sendiri) 2 karung;
  • Jerami/rumput kering 2 karung;
    Daun bunga putih 1 karung;
  • Jerami 1 karung;
  • Dedak halus 15 kg;
  • Gula pasir ½ kg (20 sendok makan);
  • JB3 (sebagai activator/fermentator) 1 liter
    Air secukupnya;

Alat:

  • Terpal 4m × 6m / 5m × 7m 1 lembar;
  • Ember ukuran 10 liter 2 buah;
  • Gayung 2 buah;
  • Sekop 2 buah.

Cara Pembuatan:

  • Kotoran sapi yang halus dibersihkan dari batu dan ranting;
  • Daun bambu, daun bunga putih dan jerami/rumput dicincang sampai halus (ukuran 0,5 cm);
  • Letakan bahan tersebut dalam terpal;
  • Campurkan kotoran sapi, daun gamal, daun bunga putih, daun bambo dan jerami yang telah dicincang tersebut sampai bercampur dengan baik dan menyatu;
  • Tambahkan dedak halus dan di campur sampai merata;
  • Campurkan gula pasir sebanyak 20 sendok dalam 10 liter air dan diaduk sampai larut;
  • Campurkan JB3 / activator/ fermentator dalam 10 liter;

Pantauan media ini, kegiatan pelatihan pembuatan pupuk Takasi ini berlangsung dalam penerapan protokol kesehatan yang ketat.. (**Tim)

Pos terkait