GMIT KLASIS SOE TIMUR SERAHKAN BANTUAN KEPADA WARGA TERDAMPAK BANJIR DI DESA BENA

  • Whatsapp
Penyerahan bantuan secara simbolis untuk korban banjir di desa Bena dari Ketua Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th kepada Ketua Mjelis Jemaat GMIT Elim Panite, Pdt. Merlin L. Tanesab, S.Th. (Foto: STC)

SoE, SALAMTIMOR.COM – Umat manusia dewasa ini diperhadapkan dengan berbagai realitas bencana alam di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bencana alam yang sangat sering terjadi seperti: gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, angin topan, hingga pada anomali cuaca yang ekstrim sudah sering dialami oleh warga penghuni bumi.

Bencana alam yang melanda Nusa Tenggara Timur pada tanggal 5 April 2021 lalu yang dipicu oleh Siklon Tropis Seroja meluluhlantakan daerah-daerah yang terdampak langsung, termasuk dusun Toinunuh, desa Bena, kecamatan Amanuban Selatan, kabupaten Timor Tengah Selatan yang dihantam banjir dan lumpur.

Walaupun tidak ada korban jiwa pada saat terjadinya banjir, namun korban materi berupa kerusakan rumah, hilangnya perabot rumah dan ternak warga akibat disapu banjir cukup minyisakan pilu yang teramat dalam. Kondisi ini kemudian menyita empati semua komponen untuk berbagi bersama warga terdampak di dusun Toinunuh tersebut.

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th saat memberikan suara gembala dalam penyerahan bantuan kepada korban banjir di desa Bena, tanggal 16/04/2021

Tepatnya pukul 13.30 Wita, pada hari Jumat tanggal 16 April 2021, rombongan Majelis Klasis SoE Timur yang dipimpin oleh Ketua Majelis Klasis, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th tiba di Posko Pengungsian tepatnya di gereja Elim Panite dengan membawa sejumlah bantuan untuk diserahkan kepada warga terdampak sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang dialami.

Adapun bantuan dibawa oleh Klasis SoE Timur antara lain: Fiber air 2.300 liter 1 buah, air bersih 1 tangki, piring melamin 20 lusin, sendok 20 lusin, gelas melamin 15 lusin, gayung air 20 buah, ember timba 15 buah, tacu sedang 10 buah, bokor cicak 10 buah, dandang sedang 10 buah, ceret air minum 20 buah, daya 1 dus, sabun nuvo 2 dus, pakaian layak pakai 3 dus, beras 4 karung, dan aqua 10 dus.

Semua jenis bantuan yang diadakan dan dibawa untuk diserahkan kepada warga Toinunuh tersebut didasarkan pada hasil kunjungan ke lokasi oleh Tim Diakonat Klasis SoE Timur sebelumnya. Setelah kunjungan tersebut, barulah Badan Diakonat Klasis SoE Timur mengadakan belanja sesuai kebutuhan.

Ketua Badan Diakonat Klasis SoE Timur, Pdt. Yonas D.E. Nenabu, S.Th saat memberikan penjelasan terkait bentuk sumbangan kepada warga terdampak banjir di dusun Toinunuh, desa Bena

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th saat memberikan suara gembala menyampaikan bahwa, “ini wujud kepedulian kami terhadap jemaat Tuhan yang mengalami musibah ini. Kami melakukan ini bukan untuk menghitung apa yang kami buat. Tapi kami hanya ingin mensuport saudara-sauadara yang ada disini. Senang kita punya senang sama-sama, susah kita punya susah sama-sama.”

Lanjutnya, “Mengutip apa yang diposting ibu Ketua Sinode sebagaimana tulisan Ketua PGI bahwa saat ini kita tidak hanya iba dengan NTT, tetapi kita juga harus menderita dengan NTT. Dan dalam pemahaman itulah maka kami ada disini. Tentu yang kami buat ini tidak seberapa, tapi kami mau menyatakan bahwa kami ada disini dan turut merasakan apa yang saudara-saudara rasakan.” Tutup Pendeta Toy.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Jemaat GMIT Elim Panite, Merlin L. Tanesab, S.Th menyampaikan bahwa, “terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Ketua Klasis SoE Timur dan rombongan yang tidak hanya merasakan apa yang kami rasakan tapi membantu meringankan beban kami lewat berbagai bantuan.”

Tampak pembagian bantuan kepada korban banjir di dusun Toinunuh, desa Bena di Posko penanggulangan bencana.

Lanjutnya, “ada 116 KK di Toinunuh. 115 KK berprofesi sebagai petani dan hanya 1 KK yang pensiunan guru. Pekerjaan jemaat mayoritas petani dan peternak. Mereka menggantungkan harapan hidup pada pertanian dan peternakan untuk bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi bencana banjir ini menyurutkan harapan mereka.” ungkap Pendeta Merlin dengan suara terbata-bata dan deraian air mata yang membuat suasana seketika menjadi haru.

“Kalau yang tadi kambingnya 50 ekor, setelah banjir mungkin hanya tersisa 10 ekor saja. Tapi saya berusaha untuk membuat mereka tetap tegar dan kuat. Sekarang bantuan cukup banyak berdatangan. Termasuk pemerintah. Sembako yang ada bisa bertahan satu atau dua minggu ke depan. Tapi apa yang akan terjadi setelah satu atau dua bulan ke depan? Ini yang menjadi pergumulan kami.” ucap Pendeta Merlin dengan linangan air mata.

Sambung Pendeta Merlin, “saya juga berharap ada bantuan ternak sebagai upaya pemulihan ekonomi jemaat pasca banjir. Sehingga suatu saat, kami tidak hanya menerima berkat, tapi menjadi saluran berkat.”

Bantuan viber dan air bersih dari Klasis SoE Timur kepada warga Toinunuh, desa Bena korban bencana banjir.

Ditanya tentang kebutuhan mendesak yang dibutuhkan saat ini, Merlin menjawab bahwa sebelumnya mereka kekurangan alat-alat dapur. Tapi puji Tuhan sudah banyak yang membantu dan sudah dibagikan kepada warga. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah air bersih. Karena sumur-sumur disini airnya rasa asin dan ada yang tertutup lumpur pasca banjir. Jadi untuk memenuhi kebutuhan air bersih maka warga harus ke kali. Pendeta Merlin merasa bersyukur dan senang karena ada bantuan viber dan air bersih dari Klasis SoE Timur. Viber juga merupakan pergumulan mereka untuk dapat menampung air bersih.

Dirinya juga menyampaikan bahwa saat ini sebagian besar warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Tersisa hanya 9 KK yang masih tetap berada di Posko karena rumahnya hanyut terbawa arus banjir. Walaupun semua sudah kembali, tapi untuk makan pagi, siang dan malam masih tetap di Posko sini. Tutup Pendeta Merlin.

Bencana alam umumnya menimbulkan dampak fisik maupun psikis di antara mereka yang mengalaminya. Tidak sedikit bencana yang sudah lama terjadi masih menyisahkan dampak psikologis seperti traumatik. Semua yang terdampak bencana alam harus mendapatkan penanganan secara holistik, sehingga dapat mengalami pemulihan.

Redaksi STC

Pos terkait