GURUKU SAYANG, MAMAKU MALANG

  • Whatsapp

Oleh : Imelda Kefi, S.Th

(Sebuah catatan reflektif atas dampak pandemic covid 19/virus corona terhadap proses Kegiatan Belajar Dari rumah/BDR)

Pengantar.

Sejatinya tidak seorang pun yang menghendaki pandemic covid 19/ virus corona terjadi. Bahkan membayangkannya saja adalah sebuah kemustahilan. Ibarat mimpi di siang bolong yang menjadi nyata dan nasi sudah menjadi bubur. Sejak muncul di Wuhan- Cina kini, virus Corona telah menyebar  di 215 negara di belahan dunia dan Indonesia ada pada rengking 145, dengan total kasus terkonfirmasi sebanyak 50.144.990 (50,1 juta) kasus[1]. Di Indonesia hampir seluruh wilayah telah terkonfirmasi  penyebaran covid 19 dengan total kasus 55943 kasus[2]. Diprediksi jumlah pasien covid 19 akan terus bertambah melalui berbagai cluster baru di tengah-tengah upaya pemerintah mempercepat penemuan dan penggunaan vaksin anti virus covid 19.

Dampak destruktif covid 19 sungguh tidak bisa dihindari. Tidak saja jutaan nyawa manusia menjadi taruhannya. Seluruh aspek vital hidup manusia lainnya pun  diporak-porandakan oleh virus ini. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, seni-budaya, kesehatan, pendidikan, agama terkapar akibat hantaman badai mematikan ini.  Boleh  dikatakan bahwa, dunia menjadi lumpuh akibat pandemic covid 19, termasuk Indonesia.  Kita bisa saja berkata, bahwa kita telah bosan dengan virus ini tetapi virus ini sepertinya tidak pernah bosan dengan kita. Baik di darat, laut dan udara hampir tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman – paling tidak untuk saat ini. Virus ini tidak pandang bulu. Di kota atau desa, orang kaya atau orang miskin, pejabat atau rakyat jelata, orang tua atau anak-anak, laki-laki atau perempuan bisa terdampak virus mematikan ini.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang terkena dampak buruk covid 19. Sungguh kita memang TIDAK bisa menghindari Air Bah ini. Jika di zaman Nuh ada Bahtera yang dapat dipakai agar bisa selamat, namun tidak dengan virus ini; sebuah sampan/perahu kecil pun kita tidak siap. Berbagai kebijakan strategi sektor pendidikan  ditempuh dengan penuh pertimbangan yang sangat matang. Pro dan kontra tetap bermunculan. Mulai dari persoalan ketidakcermatan pemerintah dari tataran konsep(aturan), strategi, anggaran, segi teknis, sarana dan prasarana menjadi diskusi dan terkadang berubah menjadi debat kusir di ruang publik.  Dengan berdiri teguh pada alasan utamanya adalah demi nyawa, demi kemanusiaan berbagai kemudahan disektor pendidikan terus digulirkan, sambil terus mencari resep yang tepat agar dunia pendidikan di Indonesia jangan sampai jatuh ke titik nadir. Salah satu diantaranya adalah BDR (Belajar Dari Rumah).

BDR (Belajar Dari Rumah) : Solusi jitu pembuka selubung kesadaran para orang tua.

Semboyan tiga serangkai yakni, Ibadah Dari Rumah, Belajar Dari Rumah Dan Kerja Dari Rumah menjadi trend dan style saat ini di tengah pandemic covid 19. Tiga saudara kembar yang lahir bersamaan ini dipandang dapat meminimalisir dampak buruk dari pandemic covid 19. Sekalipun tidak bertahan lama, gaya hidup new normal diproklamirkan sebagai upaya untuk bertanding gaya bebas dengan covid 19. Di beberapa tempat sekolah diliburkan, tetapi di tempat lain sekolah tetap berjalan dengan protap kesehatan covid 19 yang ketat. Semuanya sama-sama mengisahkan ceritera tersendiri. Ada yang penuh dengan drama heroik dari perjuangan para guru untuk menjangkau para murid dengan keterbatasan akses belajar secara daring. Tak kalah hebatnya para murid berupaya mencari sinyal (bermodal satu unit HP yang dipakai bersama teman) hanya untuk dapat mengerjakan soal yang kirim oleh para guru. Ada juga aksi dramatis yang sangat menggelitik dari para orang tua yang menjadi guru dadakan di rumah untuk mengajar anaknya sendiri. Dan masih banyak kisah inspiratif lainnya yang memberi makna hidup, bahwa pada satu sisi memang pandemic covid 19 sungguh berdampak buruk, namun pada sisi lain pandemic covid 19 melahirkan peradaban baru dengan cara berpikir yang baru pula, khususnya bagi para orang tua murid.

Ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah.

Menjadi guru itu bukan sekedar sebuah pilihan, tetapi harus menjadi sebuah panggilan hati. Karena seluruh hidup seorang guru akan dipersembahkan untuk mendidik anak-anak, sekali pun itu bukan anak kandungnya sendiri. Demi anak –anak bangsa ini seorang guru akan rela menghadapi berbagai tantangan, kekurangan, ancaman dan berbagai resiko lainnya.  Tidak bisa kita pungkiri bahwa masih saja guru yang dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena mencubit telinga muridnya. Ada juga guru yang dipukul oleh siswanya sendiri bahkan orang tua murid yang merasa marah karena anaknya dihukum oleh guru. Dan masih banyak kisah lainnya yang menggambarkan pengorbanan seorang guru.

Dengan sistem BDR (Belajar Dari Rumah), mau tidak mau, suka tidak suka, bisa atau tidak bisa orang harus menjadi guru. Di sinilah muncul sekelumit kisah pembuka tabir kesadaran bahwa, menjadi guru itu tidak mudah. Bagaimana tidak, sebelum pandemic covid 19 sebagai orang tua hanya tahu bahwa, anaknya pagi ke sekolah dan kemudian pulang ke rumah. Disamping memenuhi berbagai kebutuhan sekolah anak yang lainnya. Baginya, anaknya mau pintar atau tidak, semuanya ada di tangan seorang guru. Namun sekarang berbeda, karena pintar atau tidaknya seorang anak ada di tangan orang tuanya sendiri. Sebagian waktu orang tua yang selama ini dihabiskan pada urusan rumah tangga (domestik), kini ditambah lagi dengan menjadi guru bagi anaknya sendiri. Suatu kondisi yang jujur membuat para orang tua “lempar handuk” sebagai tanda menyerah; tidak mampu lagi alias KO!!

Belum lagi, ditambah dengan para orang tua yang rata-rata buta teknologi. Jangankan dalam pemakaian (penerapan aplikasi) sehari-hari yang tentu terasa sulit, memilikinya (alat:HP) saja adalah berat. Hal ini sebagai akibat dari dampak buruk/negative pandemic covid 19 pada aspek ekonomi. Mereka (orang tua) terpaksa dan dipaksa untuk memenuhi segala tuntutan sebagai syarat utama dalam menjawab proses BDR (Belajar Dari Rumah). Memang tidaklah semudah” membalikan telapak tangan”, tapi ya sudahlah! Para orang murid begitu stress. Di tempat-tempat tertentu  ketika mereka bertemu, luapan stress mereka tumpah ruah. Tidak peduli tempatnya. Mau di pasar, tempat ibadah, pertemuan keluarga, tetangga samping rumah dan atau  secara kebetulan berpapasan di jalan “diskusi jalanan tercipta”.  Intinya hanya satu, nada stress berbalut harapan besar kepada Tuhan agar pandemic covid 19 segera berakhir, sehingga anak-anak mereka bisa kembali bersekolah seperti sedia kala. Seperti normal lagi.

Semakin jelas bahwa menjadi guru itu tidak mudah bukan? Tidak saja soal penguasaan ilmu dengan strata pendidikannya yang dibutuhkan dalam mendidik anak bangsa. Modal lain juga sangat penting seperti, skill, pengalaman, kesabaran dan keuletan. Lebih jauh lagi seorang guru dituntut untuk terus belajar berinovasi dan menguasai teknologi sesuai dengan tuntutan zaman. Seorang guru juga diajar umtuk memiliki sikap profesionalitas yang teruji dan terukur. Mentalitas yang tangguh sekuat baja, sehingga mampu berdiri sebagai pejuang tangguh dalam era globalisasi. Memiliki  spiritualitas yang bisa diteladani. Semua ini adalah bekal yang harus siapkan oleh seorang guru untuk bisa menciptakan generasi milenial yang bisa bersaing di masa depan, serta melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang jujur, bersih, setia, menjadi teladan serta yang mampu membawa negeri kita adil ,  makmur dan sejahtera serta mampu bersaing di kancah dunia.

Ada lagi yang tidak boleh kita lupakan, bahwa pandemic covid 19 juga menuntut para guru untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat. Aktifitas para guru yang sebelum pandemic covid 19 terjadi didalam ruang kelas (in class), kini berpindah ke luar kelas (out class). Bagi ssdaerah yang mengalami kesulitan dalam keterbatasan sarana dan prasarana akses internet, para guru harus memakai sisstem  LURING (Luar Jaringan) atau “jemput bola”. Tantangan medan yang berat lagi berbahaya, akses jalan yang biasanya hanya dipakai untuk jalan hewan, semuanya itu  ditempuh dengan berjalan kaki  dengan spirit Honda GL Pro alias goyang lutut professional. Semangat tanpa kenal lelah dan putus asa yang dilakukan oleh para guru untuk menjangkau para murid di pedalaman dengan semangat dan mental petarung adalah dedikasi mereka yang tak ternilai bagi negara ini,  khususnya dalam dunia pendidikan. Bagi mereka (para guru), jauh lebih penting anak didik mereka tetap mendapatkan pelajaran, sehingga tidak tertinggal dengan anak-anak lain yang tetap menikmati pelajaran sekolah melalui DARING (Dalam Jaringan),  baik itu dengan system aplikasi zoom, goegle class room, atau pun WhatsApp (WA). Sungguh mulia dan tinggi luhur pengabdianmu guru. Jasamu memang tiada tara.

Hormatilah Gurumu!

Di Jepang guru sangat dihormati begitu tinggi. Orang Jepang, ketika bertemu dengan gurunya pasti akan membungkukkan badannya sampai setengah tinggi badan mereka sebagai tanda hormat mereka akan jasa seorang guru. Boleh jadi apa yang terjadi di Jepang lahir dari sebuah kesadaran spiritual dan cultural bahwa, sehebat dan secanggih apapun teknologi TIDAK bisa menggantikan peran seorang guru. Dari tangan seorang gurulah lahir orang-orang hebat yang memimpin dunia. Dari tangan dingin seorang gurulah lahir peradaban-peradaban baru. Sejarah memang tidak mampu menampung karya-arya ajaib dari tangan seorang guru. Bahkan sejarah TIDAK bisa membayar jasa seorang guru. Jasanya TIDAK bisa disejajarkan  dengan peran yang lain.  Jasanya TIDAK bisa bibalas ,sekalipun dengan emas dan perak. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membalas jasanya? Teruslah menghormati seorang guru. Siapapun dia. Dari mana asalnya, apapun agamanya, apapun rasnya. Tinggi atau pendek badannya.

Ada fakta berceritera lain. Begitu miris, karena masih saja guru yang menjadi korban kekerasan, baik secara fisik, psikis dan mental. Tidak berhenti sampai di sini saja. Kita juga menyaksikan lewat berbagai media (cetak/elektronik) bahwa ada guru yang diadukan ke meja hijau, gara-gara memukul murid yang nakal. Saya teringat saat dulu saya bersekolah. Memori masa sekolah itu tida terlupakan. Dipukul dengan mistar panjang jika tidak mengerjakan tugas atau prilaku kami dinilai melewati batas kesopanan dan kesusilaan. Berdiri dengan kaki satu di depan kelas, jika tidak mampu menjawab soal-soal dari guru. Dan masih banyak lagi kalau diceritakan. Namun semuanya itu tidak kami laporkan ke kepolisian, apalasgi membawanya ke meja hijau. Bahkan melaporkan ke orang tua sendiri saja kami takut, karena tentu akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi. Kenapa? Karena perbuatan kami dinilai telah mempermalukan orang tua kami sendiri di depan guru dan teman-teman.

Sekarang jauh berbeda. Berbanding terbalik dengan masa lalu. Lihat saja, telinga murid dicubit saja, guru dilaporkan ke pihak berwajib dengan alasan HAM. Dampak negative yang timbulkan juga tidak main-main. Banyak anak tidak lagi menghormati gurunya sendiri, sekalipun berpapasan di jalan ditegur saja tidak. Seperti syair pantun ini : “kura-kura naik perahu, pura-pura tidak tahu. Miris, bukan? Kalau sudah begini apa yang akan terjadi dengan generasi kita di masa depan? Mau jadi apa generasi –generasi lembek seperti ini? Bagaimana dengan nasib bangsa kita di masa depan kalau kondisi itu tidak cepat ditolong/diselamatkan?

Ini juga tidak berarti bahwa semua tindakan guru di sekolah bisa dibenarkan. Beberapa kasus tidak senonoh dilakukan oleh oknum guru pernah terjadi di ruang publiks. Semua tahu itu! Karena itu ditelan bulat-bulat tanpa ada tindakan kritis konstruktif adalah sikap salah. Akan tetapi satu hal yang tidak boleh kita abaikan, bahwa mereka (guru) juga manusia biasa. Manusia debu-tanah. Mereka bisa saja khilaf. Mereka bisa saja jatuh dalam kelemahannya sendiri. Mereka bukan malaikat. Toh, malaikat saja bisa saja salah dan karena itu dihukum oleh Tuhan.  Hanya saja cara kita harus persuasive. Jahui tindakan kekerasan dan anarkis yang sama sekali tidak akan menyelamatkan/memperbaiki keadaan, justru bisa sebaliknya. Karena itu lebih bijak serahkan ke pihak berwajib dan biar hukum yang menentukan salah dan benarnya, bukan anak murid, bukan pula orang tua, bukan juga massa. Paham ya!

Kitalah yang membutuhkan tangan seorang guru. Catatan reflektif.

Bisa jadi apa yang saya katakan ini tidak tepat atau bahkan tidak etis, namun layak untuk direnungkan. Bahwa pandemic covid 19 turut menyumbang hal-hal positif diberbagai segi kehidupan, termasuk di dalamnya dunia pendidikan kita. Mulai dari regulasi yang diperbaiki. Dana yang semakin banyak disiapkan untuk dimaksimalkan secara baik dan tepat sasaran. Sarana dan prasaran penunjang pendidikan ditambah, diperbaiki, diperbaharui dan diganti. Tidak ada yang menjadi guru, apa lagi maha guru. Semua kita adalah murid dan gurunya adalah  Virus corona. Virus ini akhirnya memaksa para pemangku jabatan di dunia pendidikan untuk berpikir cerdas, bekerja dengan keras, cepat dan tepat. Para guru belajar berinovasi dengan membuat modul-modul pembelajaran yang kreatif dengan memakai berbagai teknologi aplikasi modern. Tidak kalah juga para orang tua, terpaksa dan dipaksa untuk menjadi guru privat bagi anaknya sendiri. Itulah yang terjadi saat ini. Sungguh menyenangkan tetapi sekaligus menegangkan. Menghawatirkan tetapi sekaligus menantang. Dialektika yang pasti berbuah manis. Entah kapan hal itu akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti akan terjadi.

Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring dan luring berdampak secara tidak langsung kepada para orang tua. Selama proses ini berlangsung sesungguhnya para orang tua kembali untuk belajar. Jika pada waktu normal masalah pendidikan anak diserahkan hampir 75% ke tangan bapak/ibu guru, dan orang tua selalu menghabiskan waktunya dalam mengurus rumah tangga, kini berubah. Orang tua membutuhan waktu dan tenaga ekstra untuk mendampingi anaknya dalam belajar. Mulai dari penguasaan materi sampai pada mengawasi anak dalam mengerjakan tugas. Tidak jarang para orang tua harus berupaya menjawab pertanyaan dari anak yang justru ia (orang tua) sendiri tidak tahu. Tapi inilah kenyataan yang harus diterima dan dimengerti. Pada tingkatan SMP dan SMA  para orang tua harus lebih ketat lagi dalam pengawasan. Anak-anak lebih banyak bermain ketimbang belajar. Tingkat kesulitan para orang tua semakin terasa, apabila dalam keluarga terdapat semua jenjang sekolah. Tidak jarang para orang tua menjadi marah, bahkan mengalami stress yang luar biasa karena bergulat antara kerja di kantor, kerja di rumah (ibu rumah tangga) dan menjadi guru. Hmmmm?

Jujur saja bahwa kondisi ini tidaklah mudah. Tetapi pada titik inilah banyak orang di dorong masuk ke dalam ruang meditasi privat, bahwa bapak dan ibu guru memegang peranan yang sangat vital bagi dunia pendidikan anak-anak mereka. Peran guru sungguh tidak bisa dianggap sepele. Pandangan dengan sebelah mata yang pernah diarahkan kepada guru, saat ini berubah total. Guru adalah kunci yang dapat membuka gerbang masa depan anak-anak mereka semakin terasa dibutuhkan.

Kondisi lain yang penting untuk disimak adalah masih saja terdapat orang tua yang bersikap apatis terhadap pembelajaran anak-anak pada masa pandemic covid 19. Anak-anak dibiarkan bermain sampai lupa untuk mengerjakan tugas sekolah. Bahkan kondisi ini sedikit dimanfaatkan oleh sebagian orang tua untuk memanfaatkan anak mereka untuk mencari uang. Dengan cara berkebun, berjualan di pasar bahkan menjadi buru tukang.  Alasan mereka (orang tua) terbilang sederhana, bahwa ada libur covid 19. Karena itu masa libur ini memang sengaja dipakai bekerja bersama anak. Semuanya boleh-boleh saja, asal orang tua tidak mengabaikan tugas seorang anak sebagai seorang murid.para orang tua mestinya sadar bahwa yang sekalipun libur tetapi banyak pula tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak mereka.

Sampai kapan virus corona ini akan berakhir? Tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan sajalah yang maha mengetahui. Hanya Tuhan sajalah yang mampu mengakhiri drama hidup saat ini. Kita semua tentu tetap waspada. Mematuhi standar kesehatan covid 19 adalah langkah tepat yang harus terus kita lakukan bersama. Bersamaan dengan itu baik guru, para peserta didik dan orang harus terus bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Apapun kondisinya para guru tetaplah mempunyai tugas mulia untuk dikerjakan. Sayang sekali tugas ini terasa sulit untuk dipindahtangankan kepada orang lain. Semangat, dedikasi, loyaliatas dan profesionalitas seorang guru saat ini di uji dan dipertaruhkan. Justru bagi saya, pada kondisi seperti ini terbentuk sebuah momentum pembuktian tentang tugas dan tanggung jawab seorang guru. Ini sebuah pilihan hati dan rasa. Akal dan keilmuan yang selama ini menjadi komponen pembentuk pribadi seorang guru.

Bagi para peserta didik inilah waktunya membentuk citra diri sebagai seorang pembelajar yang mandiri. Dan semuanya harus dimulai sekarang. Jangan ditunda lagi, karena para peserta didik akan kehilangan momentum pembentuk, yakni covid 19. Pandemic covid 19 ini mestinya juga dilihat dengan kaca mata positif. Perlihatkan semangat di masa mudamu. Karena sungguh masa mudamu tidak akan terulang. Buktikan siapa anda sebenarnya. Jangan jadikan kondisi ini untuk bermalas-malasan. Sebaliknya sebagai penyemangat dan pendorong untuk menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan. Bagi para orang tua murid sesungguhnya kita sementara belajar akan hal-hal baru yang bisa jadi tidak terulang. Ini kesempatan emas untuk kita (orang tua) berubah dalam cara pandang baru terhadap tugas dan tanggungjawab seorang guru. Sambil terus bekerja dengan keras demi pendidikan dan masa depan anak-anak kita. Tetaplah berdoa dan teruslah bekerja (ora et labora).

Pos terkait