HANYA TUHAN DAN DIRI KITA YANG TAHU ISI HATI KITA

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh: Pdt. Elisa Maplani, M.Si

Setiap manusia punya pengalaman dalam menjalani hidup. Pengalaman hidup itu dapat saja mengemuka dan diekspresikan secara berbeda. Menangis bisa saja jadi ekspresi kesedihan tapi juga kegembiraan. Sedih karena kematian membuat orang menangis. Tapi menangis boleh jadi karena sukacita mendengar berita kelahiran seorang anak, berita promosi jabatan, berita lulus studi atau seleksi PNS bahkan berita lolos dari maut seperti salah seorang penumpang yang menangis tersendu karena tidak jadi berangkat dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ke Pontianak-Kalimantan Barat akibat terlambat membeli tiket, lalu beberapa saat kemudian membaca berita tetang jatuhnya pesawat tersebut yang menewaskan seluruh isi penumpang di perairan kepulauan Seribu beberapa menit saat lepas landas dari bandara Soekarno- Hata, Minggu 10 Januari 2021.

Ada orang yang hidup dengan beban penderitaan batin yang hebat, apakah dikarenakan penyakit yang dialami, persoalan rumah tangga sebagai suami- istri yang sedang diambang kehancuran, beban ekonomi yang berat dipikul, ditinggal sendiri dalam kesepian dan kesunyian hidup oleh anak- anak yang jauh di rantau dan beban derita lainya tapi ekspresi wajah selalu tersenyum, berupaya menyembunyikan agar tidak terlihat kesedihan itu di mata sesama.

Prinsipnya: Jangan beban hidup yang saya alami menjadi pengetahuan banyak orang. Cukuplah Tuhan yang tau dan diri sendiri yang tau. Intinya, selian Tuhan, hanya pribadi kita yang tahu tangisan kita apakah tangisan itu pertanda kesedihan atau kegalauan hati atau ekspresi sukacita/ kegembiraan hati.

Salomo, sebagai seorang guru bijaksana pernah menulis demikian: ”Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya (Amsal 14:10). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) tertera: ”Suka maupun duka tersimpan dalam kalbu; orang lain tak dapat turut merasakannya.”

Penulis Kitab Amsal menyatakan mengenai rahasia hati. Tak ada yang tahu hati seseorang. Bahkan, ketika orang tersebut menumpahkan isi hatinya kepada kita, tetap saja tidak ada jaminan tak ada yang disembunyikannya. Sebab bisa terjadi, mengutip syair lagu kenangan, ”lain di bibir lain di hati”. Atau dengan mengutip peribahasa: ”dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu.”

Apa arti semua ini dalam kehidupan interaksi sosial di tengah- tengah hidup bertetangga, bergereja, bermasyarakat dan dalam lingkup kerja kita ? Sederhana saja: Belajar untuk mendengarkan, berempati, mendukung dengan memberi motivasi dan doa dan dukungan- dukungan lain bila diminta. Jangan cepat menilai dan berbicara atas setiap ekspresi yang diperlihatkan sebelum mendengarkan dengan tuntas dan menangkap dengan jelas makna dibalik semua ekspresi dan kata- kata seseorang.

Lebih waspada lagi adalah: “Jangan menghakimi orang lain! Misalnya ketika ada orang bertindak buruk, janganlah kita buru-buru berprasangka negatif dan menilainya buruk lalu menghakiminya atau menghukumnya. Bisa jadi dia punya alasan untuk itu. Sehingga kita pun perlu menahan bibir kita untuk cepat berkata, atau jari kita dalam mengetik kata- kata hinaan atau pujian dalam berkomentar dan mengirim melalui media sosial (WhatsApp, Messenger, Voicenote, dll).

Selain itu, jika ada orang yang curhat kepada kita, jangan buru-buru mengatakan bahwa kita memahami perasaannya. Itu hanya membuat kita mencap diri sendiri sebagai sok tahu. Sikap yang bijaksana adalah: diamlah pada saat yang dibutuhkan untuk diam dan bicaralah pada saat yang dibutuhkan untuk berbicara. Jangan berbicara pada saat yang dibutuhkan untuk diam dan jangan diam pada saat yang sebenarnya dibutuhkan untuk berbicara.

Di atas segala- galanya, kita mesti sungguh- sungguh menyadari bahwa bagaimanapun, yang sungguh-sungguh memahami perasaan adalah orang itu sendiri, selain Tuhan yang pada hakekatnya adalah MAHA TAHU. Kesadaran yang demikian menolong kita untuk bersikap bijaksana dan memberi tanggapan atas setiap ekspresi pengalaman hidup seseorang bila orang tersebut dengan tulus memintai pertolongan kita dan membawa dalam doa kepada Tuhan yang sungguh mengetahui setiap pergumulan hidup setiap orang dan yang mengasihi hidup setiap orang dengan kasih- Nya yang kekal. Ya……, ”Tak mudah bagi kita untuk memahami setiap beban pergumulan dan ekspresi pengalaman batin seseorang selain Tuhan dan diri orang tersebut.”

SOLI DEO GLORIA

Pos terkait