HIDUP KEKAL SEBAGAI ANUGERAH ALLAH DI DALAM YESUS KRISTUS

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh: Pdt. Elisa Maplani, M.Si

Masih Muda, terkenal dan kaya tentu jadi impian banyak orang. Injil Matius mencatat orang ini sebagai: Orang Muda (20,22); Banyak Harta/Kaya (22); Orang yang taat pada Allah dan baik (18-19). Injil Lukas mencatat orang muda ini sebagai seorang Pemimpin (Luk 18:18). Punya kedudukan/jabatan, berpengaruh dalam masyarakat; dihargai dan dihormati; Kehadirannya sangat dihargai dan sangat menentukan.

Mengapa orang muda ini terkenal ?

Selain karena kaya, orang muda ini punya sifat yang baik; Pemimpin yang taat pada hukum Allah (tidak membunuh; tidak mencuri, tidak bersinah, tidak bersaksi dusta, selalu menghormati ayah dan ibu serta sesama manusia dan tidak mengurangi hak orang lain Matius 19:18-20; Markus 10: 19 ).

Orang muda ini tidak seperti kebanyakan orang muda zaman ini yang hanya kerja cari uang dan lupa beribadah tapi seorang yang taat beragama dan pertumbuhan rohaninya mantap. Ia juga peduli bagaimana untuk dapat hidup yang kekal. Jadi ia tipe orang muda yang berpikir tentang bagaimana harus hidup pada masa kini (di dunia) dan bagaimana harus hidup pada masa depan (di sorga) setelah mati.

Ia bukan tipe orang muda yang berfoya-foya dengan uang yang diperoleh tapi kerja keras, dapat uang dan hidup irit/hemat dan karena itu jadi kaya; Model pemuda seperti ini pasti jadi buruan banyak gadis untuk jadi suami atau ibu-bapak untuk jadi anak mantu; Ia peduli tentang hidup setelah mati (Hidup kekal).

Injil Markus mencatat: Ia sampai berlari-lari, berlutut di depan kaki Yesus untuk dapat jawaban tentang bagaimana caranya untuk dapat hidup yang kekal (Mark 10: 17). Ada sesuatu yang kurang di tengah segala harta dan kekayaan yang melimpah dan yang tidak dimiliki pemuda ini yakni kebutuhan akan hidup yang kekal.

Ternyata kekayaan/harta yang berlimpah; Kedudukan dan kehormatan; Kuasa dan popularitas diri bukanlah segala-galanya dalam hidup. Masih ada yang lebih dari itu: Hidup setelah mati (Hidup di sorga kelak)

Henry Ibsen menulis: “Segala hal dalam hidup butuh uang tapi uang bukan segala-galanya. Uang dapat dipakai untuk dapat beli makanan tapi bukan untuk beli selera makan. Uang dapat dipakai untuk beli obat tapi bukan kesehatan. Uang dapat dipakai untuk beli tempat tidur tapi bukan tidur yang nyenyak. Uang dapat dipakai untuk bangun rumah mewah dan tinggal tapi bukan beli rasa aman. Uang dapat dipakai untuk pergi ke tempat rekreasi yang menyenagkan tapi bukan untuk beli kebahagiaan dan kedamaian. Uang dapat dipakai beli segala sesuatu untuk hidup di dunia tapi UANG TIDAK DAPAT MEMBELI HIDUP KEKAL.

Kalimat terakhir yang ditulis Henry Ibsen yakni Hidup di sorga/kekal, itu yang jadi pergumulan pemuda ini; Yang buat pemuda ini rasa hidup belum sempurna, merasa ada yang kurang, tidak tenang, gelisah dan merasa kebahagiaan jauh dari hidup.

Persis seperti yang dikatakan Yohanes Calvin, salah seorang Tokoh Reformasi Gereja abad 16 demikian: ”Dalam hidup ini selalu ada celah yang kosong dan celah yang kosong itu tidak dapat diisi dengan apapun juga (Harta, kekayaan, jabatan dan popularitas diri) selain oleh kehadiran Yesus di dalamnya”.

Pemuda ini sebenarnya telah datang pada alamat dan pribadi yang tepat yakni Yesus jalan kebenaran dan hidup. Namun sangat disayangkan, kehadirannya pada alamat dan pribadi yang tepat itu berakhir sekejap saat ia mendengar Yesus berkata: “Pergi dan juallah hartamu itu dan berikanlah pada orang-orang miskin” (21).

Alkitab catat keputusan si pemuda ini saat dengar kata-kata Yesus: “Pergilah ia dengan sedih sebab banyak hartanya (22). Takut kehilangan harta yang banyak bila dijual untuk berbagi dengan sesama telah membuat hati si pemuda ini merasa begitu sedih.

Bila dicermati, terdapat dua kesalahan fatal pemuda ini buat:

Pertama, Kesalahannya bukan karena ia kaya tapi pada hati yang melekat pada kekayaan (Band. Matius 6: 19-21).

Yesus tidak menolak kekayaan dan membenci orang kaya. Harta dan kekayaan pada dirinya sendiri bukanlah benda jahat yang harus dihindari. Bukan pula barang buruk yang dapat mendatangkan celaka atau malapetaka bagi diri. Yang ditolak Yesus adalah harta atau kekayaan yang memiliki nilai yang bersifat instrumental (alat pelayanan) telah berubah jadi nilai yang bersifat intrinsik (faktor penentu utama dalam kehidupan).

Jadi yang ditolak Yesus adalah kekayaan yang tidak dipakai untuk belajar berbagi dengan sesama bahkan jadi jerat hati dan batu sandungan untuk mengikuti Yesus dalam hidup. Kekayaan menyebabkan pemuda ini merasa cukup sehingga tidak membutuhkan apa-apa termasuk tidak membutuhkan Tuhan (Band. Lukas 12: 16-21; Wahyu 3:17).

Saat orientasi hidup si pemuda jadikan kekayaan/harta sebagai sesuatu yang sebenarnya bersifat instrumental jadi nilai intrinsik, saat itu pula pemuda ini kehilangan harta yang sesungguhnya yakni hidup kekal.

Kedua, Pemuda ini pikir hidup yang kekal (Kerajaan Sorga) dapat dibeli dengan uang dan dibarter atau ditukar dan diperoleh dengan cara berbuat baik.

Keselamatan atau hidup kekal itu hanyalah anugerah Allah semata-mata. Tidak dapat dibeli dan tidak dapat ditukar dengan apapun juga. Keselamatan hanyalah anugerah Allah semata yang diberikan Allah melalui suatu pengorbanan diri putera tunggal-Nya Yesus Kristus.

Simak baik-baik apa yang pemuda ini tanyakan saat sudah datang di hadapan Yesus: ”Guru yang baik apa yang harus kuperbuat untuk peroleh hidup yang kekal (16). Dengan nada lain pemuda ini sebenarnya mau mengatakan pada Yesus: Berapa biaya atau harga yang harus aku bayar untuk dapat hidup yang kekal ?

Pemuda ini berpikir ada semacam transaksi di sekitar masalah hidup yang kekal. Kalau transaksi mendatangkan profit (Keuntungan) dapat dibayar lunas dengan uang, jika tidak mendatangkan keuntungan maka tidak dapat dibeli.

Yesus melihat ada ketidak-tulusan tersirat dari pertanyaan si pemuda ini. Itu sebab Yesus berkata: “Jikalau engkau hendak mau sempurna, pergilah, Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Ay 21).

Mendengar jawaban Yesus, si pemuda ini hatinya sedih. Ternyata untuk dapat hidup kekal ia harus kehilangan harta kekayaan yang telah dikumpulkan sekian lama. Tidak ada profit yang didapat. Saat si pemuda ini hitung biayanya ternyata sangat mahal (semua harta pasti lenyap). Ia pergi dengan sedih. Ia kehilangan hidup kekal.

Apa yang membuat manusia celaka/hilang hidup kekal ? Saat harta yang merupakan tambahan (bernilai instrumental) dijadikan sebagai yang utama dalam hidup (Bernilai intrinsik). Saat Kerajaan Allah yang utama ditukar dengan segala hal yang bersifat sementara. Itu sebab Yesus tegaskan: “Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Band. Matius 6:33). Kerajaan Allah adalah nilai yang sangat intrinsik (Nilai utama) dalam hidup yang semestinya jadi orientasi hidup manusia.

Apa Pesan Bacaan ini bagi setiap orang Kristen ?

Pertama, Hidup di dunia ini penting dan Hidup di Sorga juga penting; Jangan abaikan keduanya.

Kerja keras dapat uang; Hidup baik di dunia tapi harus ber-Iman pada Yesus; Uang, harta-kekayaan, nama baik, jabatan, kuasa kita perlu untuk hidup di dunia ini tapi jangan hati kita terikat pada semua itu; Hati harus terarah hanya pada Tuhan sumber segala berkat dan sumber hidup yang kekal

Kedua, Pakai berkat Tuhan yang ada pada kita untuk melayani sesama;

Belajar untuk peduli dengan orang lain dalam hidup. Jangan hidup untuk kesenangan dan kenikmatan diri. Rahasia hidup kekal bukan pegang erat apa yang kita miliki tapi rela kehilangan apa yang kita miliki;

Pemuda ini kehilangan hidup kekal karena pegang erat apa yang ia rasa dapat buat ia hidup saat ini (Aspek kekinian). Ia hanya jaga kehidupan tubuhnya dengan hartanya tapi tidak jaga kehidupan jiwanya dengan memberi apa yang ia punya.

Ketiga, Keselamatan/Hidup kekal tidak dapat dibeli dengan apa yang kita miliki;

Tidak perlu dibeli karena memang tidak mungkin terbeli. Keselamatan adalah anugerah Allah yang akan kita terima dengan Iman yang tertuju kepada Yesus. Dalam hidup boleh cari uang/harta; Jabatan dan kedudukan tapi jangan lupa harta yang paling berharga yakni hidup yang kekal.

Belajar menghargai anugerah keselamatan Allah itu dengan tetap setia bersama-Nya sampai garis akhir kehidupan. Apa sebab ? Sebab hidup kekal tidak dapat dibeli dengan uang. Juga tidak dapat dibarter dengan apapun juga.

Ingatlah selalu: Hidup kekal adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Karena itu, hiduplah selalu di dalam dan bersama Yesus.

SOLI DEO GLORIA

Keterangan: Tulisan ini pernah tayang di Koran Harian Timor Ekspress, Tanggal 19 Juli 2020.

Pos terkait