IMAN MELAWAN PERBUDAKAN

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh : Pdt. Elisa Maplani, M.Si

(Pendekatan Naratif Terhadap Teks Alkitab Filemon 1:8-20)

I. Latar belakang Surat Filemon
Surat Filemon merupakan tulisan Rasul Paulus yang terpendek dan bersifat pribadi. Hampir semua ahli Biblika setuju bahwa pada waktu Paulus menulis surat ini, ia sedang berada di penjara Roma ( (Ay 1,9). Dengan demikian surat ini kemungkinan besar ditulis pada akhir masa penawanan Paulus sekitar tahun 59-62 dan ditujukan kepada Filemon,Apfia Arkhipus dan jemaat di rumah Filemon.
Surat Filemon berdasarkan tradisi masuk dalam kategori surat dari penjara bersama dengan Surat Efesus, Filipi dan Kolose (Ada juga ahli yang menyebut II Timotius serta I dan II Tesalonika juga ditulis Paulus dari penjara). Namun dari segi isi, surat ini dapat disebut sebagai surat pastoral.mengingat pokok bahasan surat ini lebih terarah kepada permohonan Rasul Paulus pada seorang Kristen kaya bernama Filemon. Filemon diminta agar mau menerima kembali seorang budak yang telah dianggap sebagai saudara di dalam Tuhan yang melarikan diri karena mencuri uang tanpa menghukum dia seberat hukuman yang diberlakukan oleh pemerintahan Romawi.
Dalam hukum Romawi seorang majikan adalah pemilik dan penguasa mutlak terhadap budak-budaknya. Karena itu seorang majikan dapat berlaku apa saja terhadap para budaknya termasuk menghukum mereka bila bersalah (kerja paksa di pabrik atau di ladang, dapat dirantai, dipotong telinga, memukul dengan tongkat atau cambuk dan dapat disalibkan bila mencuri dan melarikan diri). Budak yang mencuri dan melarikan diri bila kedapatan akan dicap di dahi dengan tulisan F=FUGITIVUS artinya pelarian dan karena itu siap untuk dihukum mati).

II. Penokohan
Hal yang penting untuk diingat dalam metode tafsir naratif adalah Para tokoh yang terlibat dalam narasi suatu teks merupakan figur pelengkap. Peran mereka ditampilkan tapi tidak untuk merampas tokoh sentral. Allah di dalam Yesus Kristus adalah Tokoh sentral dalam setiap narasi yang harus diperhatikan.

1. Rasul Paulus
Tokoh yang dipenjarakan karena pemberitaan Injil Yesus Kristus. Ia berjumpa dengan Onesimus di penjara dan melayaninya dalam kasih Kristus sehingga bertobat. Ia adalah tokoh yang berusaha mempersatukan Filemon dan Onesimus dengan kasih Kristus sehingga diantara Filemon dan Onesimus timbul adanya persamaan derajat.

2. Filemon
Filemon adalah seorang tuan tanah berkebangsaan Yunani dan bermukim di lembah Lycus wilayah Kolose. Ia pengusaha swasta yang kaya yang membangun usaha peternakan domba dan pabrik tekstil (Kain) khusunya kain wool atau bulu domba. Ia memiliki banyak budak belian dan Onesimus adalah salah satu budak yang dibeli. Filemon juga adalah pemilik jemaat yang bertempat di Kolose (Kol 4:9).

3. Onesimus.
Ia adalah seorang budak dari Filemon. Setting sosial kala itu memperlihatkan bahwa perbudakan terjadi dalam masyarakat Yahudi. Seseorang dapat menjadi budak dikarenakan : Terlahir sebagai budak, dibeli sebagai budak, tawanan perang yang dijadikan budak, dan lain-lain. Status budak adalah pribadi yang kehilangan hak. Hari-hari hidup dan pengabdian seorang budak adalah untuk kesenangan sang tuan/majikan.
Sebagai seorang budak ia ingin hidup sebagai orang merdeka/bebas dan untuk maksut itu ia mencuri uang milik majikannya dan melarikan diri yang pada akhirnya sampai ke Roma dan bertemu dengan Paulus dalam penjara lalu bertobat. Tidak jelas apakah keberadaan Onesimus dalam penjara karena tertangkap dalam pekarian atau tindak kejahatan lain namun yang pasti adalah penjara menjadi tempat perjumpaan Onesimus kepada Kristus melalui pelayanan Paulus dan kemudian diutus oleh Paulus untuk melayani umat percaya di Kolose (Filemon :1:10; Kol 4:9).
Peran para tokoh Paulus, Filemon dan Onesimus dalam narasi teks ini menjelaskan tokoh sentral itu : Paulus memerankan fungsi mediator untuk rekonsiliasi karena Kasih Kristus. Onesimus rela kembali kepada Filemon sang majikan karena pertobatan kepada Kristus. Filemon rela menerima dan mengampuni Onesimus karena kasih Kristus.

III. Narasi Teks Filemon 1:8-20

a. Kasih Kristus Sebagai Landasan Perdamaian
Pendekatan Paulus dalam menyelesaikan masalah antara Onisemus dengan Filemon adalah pendekatan selaku rekan sepelayanan dalam kasih Kristus. Paulus adalah seorang Rasul dan melekat dalam dirinya otoritas/wibawa Rasulinya tapi ia tidak memakai otoritas dan wibawa Rasuli untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Ia malah menyebut diri sebagai seorang hukuman karena Kristus dan Filemon sebagai rekan sekerja/sepelayanan. Ia mengutamakan kerendahan hati dan kehangatan kasih dalam memberi nasehat kepada Filemon selaku saudara se-Imannya. Tidak ada nada memerintah karena itu ia mengajukan permintaan kepada Filemon untuk menerima Onesimus kembali sebagai saudara yang kekasih.
Meskipun pada abad pertama perbudakan sudah diterima menjadi bagian dari tatanan kehidupan, dengan cara Paulus menasehati Filemon agar menerima kembali Onesimus bukan sebagai budak tapi sebagai saudara se-Iman, memperlihatkan bahwa ia memperlihatkan perbudakan tidak berarti lagi. Ia membuktikan pada publik saat itu kesaksian percaya bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi budak atau orang merdeka (Gal 3:28;Kol 3:11).
Semangat Paulus melakukan rekonsiliasi yang bermuara pada Onesimus diperdamaikan dengan Fillemon membuka ruang bagi Onesimus mendemonstrasikan Imannya kpada Kristus dengan cara melayani Filemon sebagai majikannya lebih baik berlandaskan kasih Kristus. Pola pendekatan sebagai saudara se-Iman dalam menyelesaikan masalah akan menjadi jembatan yang kokoh terjalinnya persaudaraan kasih.

b. Transformasi Cara Pandang
Paulus memiliki cara pandang Allah terhadap Onesimus sebagai orang yang telah bertobat dari dosa. Karena itu ia tidak mengasingkan Onesimus sebagai orang berdosaa yang tidak berguna. Bagi Paulus seorang yang melakukan kesalahan yang fatal/dosa di masa lalu masih dapat berubah dan berguna dalam Kristus. Sejak Onesimus menyesali perbuatannya dan bertobat, Paulus menerima Onesimus dengan segenap hati dan memberlakukannya sebagai saudara kekasih dan se-Iman. Paulus melihat kesungguhan pertobatan Onesimus yang setelah pertobatannya meluangkan waktu bersama Paulus dalam penjara dan ia sangat berguna bagi Paulus (Ay 11-12).. Berangkat dari cara pandang yang demikian, Paulus siap mengambil resiko memikul beban kesalahan Onesimus pada dirinya, rela membayar segala utang Onesimus pada Filemon dan mengharapkan Filemon menerima kembali Onesimus sebagai saudara yang sesungguhnya telah bertobat sebagai saudara se-iman dalam Kristus (Ay 16-20).

IV. Kerygma Teks

Inti berita dari teks Fil 1:8-20 dapat ditarik bila kita mencermati dengan teliti teladan Iman yang diperlihatkan para tokoh yang mengemuka dalam bacaan ini. Berikut teladan Iman yang nampak dalam kehidupan para tokoh

• Rasul Paulus
1. Sosok pembawa Damai di tengah –konflik atau pertentangan hidup yang melanda. Paulus adalah pribadi yang peduli dengan persoalan sesama dan berusaha membawa damai meski ia sendiri ada dalam penderitaan hidup karena pemberitaan Injil Yesus Kristus. Dasar dari kepedulian hidup dan upaya perdamaian itu adalah cinta kasih Kristus.
2. Pribadi yang melayani tanpa membeda-bedakan : Kaya-miskin, Tuan- Hamba, Pejabat – Rakyat jelata, Tua-muda. Semua orang berharga di mata Tuhan dan harus mendapatkan pelayanan yang sama dalam kasih Kristus. Terhadap Filemon orang kaya maupun Onesimus sang budak, ia membangun komunikasi dan berusaha memperlihatkan pelayanan yang terbaik agar boleh hidup bersama sebagai saudara dalam Yesus Kristus.

• Filemon
1. Kesediaan untuk mengampuni dan menerima kembali Onesimus yang telah bersalah dan menyakiti hatinya.
2. Rendah hati untuk mendengarkan dan menerima nasehat Rasul Paulus

• Onesimus
1. Pribadi yang mau bertobat dari kesalahan/dosa yang diperbuat
2. Pribadi yang Berkomitmen untuk kembali kepada majikan/tuan-nya dan melayani majikannya secara lebih baik dalam kasih Kristus.

V. Catatan Aplikatif Bagi Jemaat.

1. Jadikanlah hidup kita selaku pembawa damai.

Dimana ada petentangan dan konflik, iri hati, benci dan dendam, serta permusuhan yang mencabik-cabik kebersamaan, persaudaraan dan kerukunan hidup, orang Kristen/gereja haruslah proaktif untuk mengupayakan adanya kehidupan yang penuh damai. Kasih Krisstus menjadi dasar kita terpanggil untuk membawa damai dalam hidup bersama.

2. Belajar untuk menerima nasehat yang baik dalam hidup bersama.

Tuhan dapat berbicara kepada kita dan mengoreksi jalan hidup dan perbuatan kita yang salah melalui nasehat orang lain. Salah satu ciri hidup orang yang rendah hati adalah kerelaan untuk menerima nasehat atau teguran dari orang lain.

3. Melayani tanpa membeda-bedakan seorang akan yang lain.

Allah menciptakan semua manusia dan mengasihi semua manusia. Semua orang dimata Tuhan sama dan berharga karena telah sama-sama ditebus dan dimerdekakan Allah melalui putera tunggal-Nya Yesus Kristus.

4. Bertobat dari kesalahan dan dosa.

Kesalahan dan dosa yang kita perbuat tidak boleh jadi batu sandungan yang membuat kita semakin terpuruk dalam hidup. Bangkit dari kesalahan dan dosa yang diperbuat dan mulai lagi hidup dalam kasih Yesus. Dia Tuhan yang selalu menanti kita di setiap kesalahan dan kegagalan hidup. Dikala manusia mengakui kesalahannya dan mau berbalik kepada Allah (Bertobat), Allah bersedia menyambut dan memperbaiki hidupnya.

5. Belajar untuk mengasihi dan mengampuni.

Kasih dan pengampunan adalah karakter Allah. Betapa pentingnya kasih dan pengampunan diantara orang beriman. Setiap orang beriman wajib membuka pintu maaf kepada siapapun yang meminta pengampunan. Memberi kasih dan ampun atau menerima kasih dan ampun sesungguhnya adalah tindakan Iman dari seseorang yang telah dimerdekakan Kristus. Mengasihi dan mengampuni merupakan pintu rekonsiliasi apabila terjadi pertikaian hidup dalam bermasyarakat dan berjemaat. Kasih itu menutupi segala kelemahan dan dosa. Origenes pernah berujar : Kasih itu kawajiban utama dari segala kewajiban. Setiap kali kita mengasihi kita berhutang kasih dan hutang kasih itu harus dibayar dengan cara mengasihi. Ya… Kasih dan pengampunan itu tidak mengenal batasan ruang dan waktu. Dasar dari kasih dan pengampunan orang percaya adalah kasih dan pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus yang telah kita terima dalam hidup.

6. Sistem perbudakan yang tampil dalam berbagai wajah dengan mengeksploitasi nilai-nilai hidup kemanusiaan harus dihapuskan sebagai wujud pengakuan Iman bahwa di dalam dan bersama Yesus semua manusia adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari budak/perhambaan dosa.

Untuk Kemuliaan Nama Tuhan Yesus

Pos terkait