KEMERDEKAAN YANG SEBENARNYA

- Redaksi

Senin, 19 Oktober 2020 - 14:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 13 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : PDT. DR. NIMROD FINI FAOT

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36).

✍️ Inilah kemerdekaan yang sebenarnya, atau yang sesungguhnya. Kata “jadi” di sini menunjuk kesimpulan  percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi (Yoh. 8:30-36).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terjadi salah pengertian antara orang Yahudi tentang kata “kemerdekaan” yang Yesus gunakan. Orang Yahudi yakin mereka keturunan Abraham, tidak pernah menjadi budak siapa pun. Hal ini dikarenakan tradisi sosial Yahudi itu sifatnya saling sepenanggungan sehingga tidak ada orang Yahudi yang menjadi budak karena miskin (Im. 25:39-42). Prinsip ini menempatkan manusia berharga di mata TUHAN.

✍️Tetapi kata “kemerdekaan” yang Yesus gunakan berkaitan dengan “dosa.” Kata Yesus: “sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (ayat 34).

 Selisih pendapat karena sudut pandang yang berbeda terhadap kata “kemerdekaan.”

Keributan sering terjadi, karena salah paham atau berbeda sudut pandang dalam menyikapi sesuatu. Keributan suami-istri, saudara sekandung, tetangga, tidak jarang terjadi karena “sudut pandang yang berbeda.” Perbedaan sudut pandang sulit diatasi, jika masih hidup dibawah perbudakaan dosa. Dalam hal ini, komunikasi punya peran penting untuk membangun saling pengertian dan kesepahaman. Namun komunikasi yang efektif harus didasarkan pada kemerdekaan spiritual.

✍️ Menurut orang Yunani, orang yang merdeka adalah mereka yang tidak dikuasai keinginan daging. Socrates berkata: Tidak ada kemerdekaan, jika seseorang masih dikuasai, diperintah oleh keinginannya sendiri. Orang Yunani dari aliran filsafat Stoa berusaha bertarak, menahan diri agar bisa “merdeka” dari keinginan daging, sikap egois, hidup yang curang (Kis.17:17-18).

✍️Tiap tgl 17 Agustus kita merayakan kemerdekaan politik bangsa Indonesia. Tahun ini kita memasuki kemerdekaan tahun ke-75. Kita bersyukur atas kemerdekaan ini. Sebab melaluinya kita hidup tenang di rumah, bukan di pengungsian seperti yang terjadi dengan saudara seiman kita di Negeria karena terus dikejar oleh kelompok Bokoharam yang anti kekristenan.

Namun kemerdekaan politik, bukanlah segala-galanya. Setidaknya ada 4 priponsi termiskin di Indonesia, khusus Indonesia Timur: Papua Barat, Papua, NTT dan Maluku.  Ke-4 propinsi tersebut  yang kesemuanya wilayah Kristen, butuh kemerdekaan ekonomi, pendidikan dan hak hidup layak. Merdeka 75 tahun adalah waktu yang lama. Maka apa bila keadilan sosial dalam Pancasila diterapkan secara seimbang, merata, maka pasti tidak ada lagi wilayah miskin di negeri ini. Jika korupsi mega proyek dgn dana puluhan milyard yg dikorupsi, memiskinkan rakyat. Kupang Tribun News com.15 Agustus 2020, memuat pernyataan Gubernar NTT bahwa pulau Sumba dan Timor adalah “penyumbang terbesar orang-orang miskin dan bodoh.” Tetapi kenapa hal ini terjadi? Hal ini “bukan pilihan” masyarakat setempat, melainkan “perbuatan” yang tidak adil, keegoisan, ketamakan. Kemiskinan di kedua pulau itu adalah kemiskinan “buatan manusia” yang belum sungguh-sungguh merdeka sebagaimana kata Yesus. Penyebab utama kemiskinan fisikal adalah karena ketiadaan kemerdekaan spiritual.l sebagai penentu kehidupan  yg berhasil. Selain itu, minimnya kebijaksanaan dalam mengurus rakyat. Jika ada kebijaksaan yang merata, pasti tidak ada lagi rakyat miskin, sebagaimana cita2 bangsa yg tertuang dlm UUD 1945, alinea 1 dan alinea 4.  Kalau kita berjalan ke pedalaman Papua, pulau kaya di ujung Timur, sebagian rakyatnya masih jauh dari hidup layak sebagai masyarakat dari negera yang merdeka.

Banyak orang “belum dimerdekakan baik fisik, maupun spiritual sebagaimana kata Yesus.

✍️Kemerdekaan dari dosa, sama artinya dengan kemerdekaan dari sikap egois, hidup dendam, benci,  monopoli dalam berbagai bentuk di semua lini  kehidupan serta berlapis-lapis kecurangan di berbagai tingkat sosial. Karena itu, betapa pentingnya dimerdekakan oleh Tuhan Yesus yang adalah kebenaran (Yoh. 14:6).

✍️Kita perlu memanfaatkan kemerdekaan politik, untuk menyebar berita tentang kemerdekaan spiritual yaitu merdeka dari perbudakan dosa. Selama dosa masih berkuasa, yang miskin akan tetap miskin dan yang akan semakin kaya. Para pebisnis sering ditipu oleh sesama teman seprofesi yang masih belum merdeka dari perbudakan dosa.

✍️ Bersama rasul Paulus kita bersyukur dulu kita hamba dosa, tetapi sejak menerima Yesus (lahir baru, bertobat) sudah hidup dalam kemerdekaan rohani. Hal ini menjadi dasar untuk menjalani kemerdekaan politik dengan benar (Rm. 6:17-23). Merdeka dari perbudakan dosa adalah kemerdekaan yang sebenarnya (benar-benar merdeka) yang mengantar kita pada hidup kekal.

Kemerdekaan politik, banyak pahlawannya. Kemerdekaan dari perbudakan dosa, hanya satu yang dapat melakukannya bagi kita yaitu Tuhan Yesus Kristus.

✍️Tanggung jawab kita dalam menghirup udara kemerdekaan politik adalah terus berjuang untuk ikut membangun bangsa di bidang spiritual, sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup.  Kiranya melalui setiap kita, sesama saudara kita, teman kita dapat mengalami kemerdekaan dari perbudakan dosa. Sekali merdeka tetap merdeka di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bersyukurlah. Shalom🌈nf

Berita Terkait

Menguatkan Iman Generasi Muda di Soe Melalui Kebaktian Kebangunan Rohani
Pemuda GMIT Klasis SoE Akan Gelar Pawai Paskah, Diikuti Oleh 27 Peserta
Pemuda GMIT Syalom Mokdale Sambut Paskah Dengan Menggelar Malam Puji-Pujian
Rayakan Paskah, Jemaat GMIT Ebenhaezer Bonleu Gelar Berbagai Lomba
Jelang Perayaan Natal,YBKM Salurkan Paket Natal Untuk Para Lansia Di Gereja GMIT Petra SoE
Manusia Adalah Makhluk Berharga di Mata Allah
Kenapa Bernama Maria Bunda Segala Bangsa? Dan Siapa Yang Memberikan Nama Itu?
Bertemu Tuhan di Tubuh

Berita Terkait

Sabtu, 3 Februari 2024 - 22:58 WITA

Syukuran Tahunan, IPPAT dan INI Berbagi Kasih Kepada Anak-Anak Stunting di Desa Kesetnana

Selasa, 19 Desember 2023 - 11:12 WITA

Lantik 12 Pejabat Eselon II, Bupati TTS: Kita Harus Pertahankan Opini WTP

Minggu, 10 Desember 2023 - 23:03 WITA

Bupati TTS Hadiri Kegiatan Sosialisasi Transparansi PBJ Satuan Pendidikan dan Onboarding UMKM Lokal

Kamis, 7 Desember 2023 - 09:21 WITA

Pemkab TTS Raih Predikat B Akuntabilitas Kinerja Tahun 2023 Setelah Sepuluh Tahun Memperoleh Nilai CC

Selasa, 5 Desember 2023 - 23:52 WITA

Kepsek SMPN Nefotes: YASPENSI Beri Warna Tersendiri Dalam Pendampingan Literasi

Selasa, 5 Desember 2023 - 16:53 WITA

Hadiri Hari Bhakti PU, Bupati TTS Tegaskan ASN Harus Netral Pada Pemilu 2024

Sabtu, 2 Desember 2023 - 23:34 WITA

Upah Masyarakat Pekerja Jalan Rabat Belum Dibayarkan, Ini Penjelasan Kepala Desa Hoi

Rabu, 29 November 2023 - 17:29 WITA

Gigitan HPR di Kabupaten TTS Capai 2.132 Kasus, 11 Orang Meninggal Dunia

Berita Terbaru