Kerajaan Amanuban Mula-Mula dan Perang Melawan Kerajaan Tkesnai

  • Whatsapp
David Imanuel Boimau, A.Md (Anggota DPRD Kabupaten TTS asal Fraksi HANURA)

CERITA SEJARAH/MELAWAN LUPA (EDISI IV)

Oleh: David I. Boimau, A.Md

Walaupun banyak yang memperdebatkan tulisan-tulisan saya sebelumnya, tetapi saya tetap menyampaikan Edisi IV ini kepada para sahabat untuk bisa menjadi pembanding atas referensi pengetahuan yang di peroleh selama ini.

Saya tetap berkeyakinan bahwa buku usang yang menjadi referensi semua tulisan saya dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya untuk meluruskan sejarah yang hampir terlupakan.

Setelah Raja Salim/Seo Bill/Olak Mali (selanjutnya semua istilah penyebutan Salim/Olak Mali saya hanya menggunakan nama Seo Bill) mengangkat panglima-panglimanya yaitu Sole dan Nome, maka terbentuklah wilayah kekuasaan Amanuban mula-mula sebagaimana yang ada pada Gambar 1.

Seo Bill kemudian memperisterikan saudaranya Nomnafa bernama Oepoe/Upu Nomnafa dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Olbanoe/Olbanu Bill. Sedangkan isteri pertamanya yang bernama Fnatoen Banunaek melahirkan seorang anak laki-laki bernama Nipoesai (Nakamnanoe).

Sesuai tradisi adat Timor, Nakamnanu dipulangkan kepada neneknya raja Amanatun yang diistilahkan dengan “sebi uik ana ma teuf ana” tetapi tidak diterima oleh Raja Amanatun karena seharusnya perempuan. Yang menjadi raja pada saat itu adalah Olbanu Bill.

Olbanu Bill kemudian menikah dengan bi Bia Nitbani dan melahirkan Bil Banoe/Bil Banu yang menggantikan Raja Olbanu setelah tua.  Raja Bil Banu menikah dengan bi Takae Nitbani dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Seo Bil (yang selanjutnya disebut dengan Seo Bil II sebagai turunan ke-empat jika di hitung dari Olak Mali).

Di masa pemerintahan  Seo Bil II, maka diaturlah perang dengan Raja Tkesnai. Asal mula terjadinya perang karena seorang dari Raja Tkesnai mencuri kerbau kepunyaan Raja Seo Bil II bernama Peol Kalalu/Peol Noa Oki.

Setelah Raja Seo Bil II mengetahui kasus pencurian ini, maka disuruhlah utusan untuk menghadap Raja Tkesnai supaya ternak kerbaunya dikembalikan tetapi raja Tkesnai menolak, maka terjadilah perang.

Raja Tkesnai terdesak mundur dan lari dengan orang-orangnya pergi dan menetap di kampung Toko (kampung Toko di Teluk diatas Oe Uisneno).

Di kampung Toko dan Aihoni kedua raja berdamai di situ. Di kampung itu sebagai bukti damai, maka raja Tkesnai memberikan 2 orang kepada raja Amanuban yaitu Haoetae alias Oeas dan Lioesae alias Baknenok.

Kedua orang ini kemudian menjadi tamukung besar ….. (nama temukungnya akan disampaikan setelah saya berkunjung sampai 2 tempat ini).

Sesudah satu tahun lamanya mereka berdamai, rumah  Raja Nenometa yang terbuat dari atap lidi enau terbakar.

Raja Nenometa mencurigai orang-orang Raja Tkesnai yang membakar rumahnya sehingga dia datang meminta bantuan kepada Raja Amanuban untuk membantu.

Raja Amanuban setuju dan terjadilah perang melawan Raja Tkesnai. Raja Tkesnai kalah dan lari ke Belu sehingga wilayahnya dikuasai Kerajaan Amanuban tetapi sebagiannya dibagikan kepada Raja Amanatun dan Raja Nenometa (Kerajaan Anas). Peta wilayah kekuasaan Amanuban setelah kekalahan raja Tkesnai seperti pada Gambar 2.

Sesudah perang ini, maka Raja Seo Bil II mengangkat lagi 2 panglima perang yaitu NABUASA dan TEFLOPO. Dan orang-orang dari Tkesnai yang tidak ikut lari ke Belu tunduk dibawah kekuasaan Raja Amanuban. Suku-suku itu adalah Kause, Nitano dan Taopan.

Bersambung ke edisi V,.

(Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten TTS dari Fraksi Partai HANURA)

Pos terkait