Kota Batam Cetak Angka Pengangguran Tertinggi di Masa Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Wahyu Wahyudin, Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau

BATAM, SALAMTIMOR.COM — Corona Virus Disease (Covid-19) yang muncul pertama kali di Wuhan (China) sejak 2019 lalu dengan sangat cepat menular di seluruh penjuru dunia.

Mewabahnya Covid-19 ini telah banyak berdampak buruk bagi seluruh sektor kehidupan termasuk perekonomian Indonesia.

Dilansir dari berbagai sumber, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka positif virus corona tertinggi. Diketahui, kasus pertama yang terungkap terjadi di Indonesia adalah menimpa dua warga asal Depok, Jawa Barat.

Tak sedikit Media yang mengabarkan terkait dampak Covid-19 ini. Tidak hanya berdampak buruk bagi pertumbuhan perekonomian negara, namun juga diketahui banyak menelan korban jiwa.

Virus yang berhasil menginfeksi seluruh lapisan masyarakat dan memporak-porandakan seluruh aspek kehidupan ini terus berotasi di bumi Indonesia, bahkan diketahui berkembang menjadi varian baru yang siap menerjang.

Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah demi memutuskan mata rantai Covid-19 tersebut. Upaya yang dilakukan mulai dari
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),
Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) baik PPKM Darurat maupun PPKM Level I s/d Level IV dan Vaksinasi.

Melihat hal ini, Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin memandang pandemi Covid-19 yang telah berdampak besar bagi Indonesia, terutama perekonomian yang merosot juga nampak dari tingginya angkah pengangguran.

Menurut Wahyu, Kota dengan angka pengangguran tertinggi di Indonesia saat ini adalah Kota Batam.

“Saat ini pengangguran di Kota Batam itu yang tertinggi,” ucapnya.

Ia menyentil bahwa pengangguran ditengah pandemi ini berkaitan dengan pendidikan. Dikatakannya, tercatat lebih dari 2000 siswa SMA-SMK yang lulus, namun tak banyak dari jumlah tersebut yang masuk ke Perguruan Tinggi sehingga hal inilah yang menambah jumlah pengangguran di Kota Batam.

Selanjutnya, Wahyu mengatakan, Batam yang disebut sebagai kota Madani ini merupakan jendela bagi dunia, terutama jendela bagi Indonesia dimana banyak diminati orang untuk merantau dan bekerja.

“Batam ini adalah jendela bagi dunia. Batam ini jendela bagi Indonesia. Banyak orang di daerah lain atau provinsi dan kabupaten/Kota itu berkeinginan untuk ke Batam. Sehingga, angka penggangguran di Batam tertinggi se-Indonesia,” jelas Wahyu.

Wahyu juga menyentil bahwa pandemi Covid-19 ini telah menghambat para Investor asing yang hendak berinvestasi ke Indonesia terkhususnya ke Batam.

“Karena pandemi ini, maka investor dari luar susah masuk ke Batam untuk saat ini. Namun, berbagai tindakan yang dilakukan oleh Pak Walikota dan Pak Gubernur sudah baik. Hanya pandemi ini yang belum berakhir, tapi saya yakin strategi seperti swab antigen dan lainnya itu sudah baik,” katanya.

Kepada awak media, Wahyu mengungkapkan terkait berbagai upaya yang dilakukan hingga saat ini yang diterapkan yakni PPKM. Menurutnya, penerapan PPKM ini tidak mesti diperketat atau terlalu lama.

“Saya kira PPKM ini jangan terlalu lama diperketatlah. Yang penting saat ini, masyarakat itu disumbangkan vitamin. Jadi kalau ada sisa anggaran, itu dialihkan ke vitamin saja sehingga dapat diberikan kepada masyarakat. Karena kondisi seperti ini, kalau kondisi kita baik, maka Insyaallah virus juga tidak mudah masuk,” pungkasnya.

Selanjutnya, Wahyu juga menuturkan dampak pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perusahaan yang bangkrut. Akhirnya terjadilah PHK besar-besaran.

“Dampak pandemi bagi tenaga kerja saat ini adalah banyak perusahaan yang bangkrut. Mereka tidak menerima order, sehingga mereka memberhentikan atau merumahkan karyawan. Inilah dampak dari pandemi.” ungkap Wahyu.

Pada kesempatan yang sama, Wahyu berharap PPKM level 4 ini dapat ditarik dan dialihkan ke level 3 agar tidak terkesan memberatkan masyarakat.

“Saya berharap, PPKM level 4 ini kalau bisa ditariklah, dialihkan ke level 3 biar lebih menurun dan lebih fleksibel lagi karena ekonomi masyarakat dalam penerapan level 4 ini sangat mengganggu. Kalau level 3 dibuka mungkin bisa sedikit longgar,” harapnya.

Diakhir statemennya, Wahyu menyarankan kepada pihak pemberi bansos agar ke depann bantuan tersebut tidak diberikan di satu titik, melainkan dibagikan langsung ke setiap rumah warga masing-masing demi menghindari kerumunan.

“Terkait BLT atau bansos, seharusnya para penerima BLT itu diantar ke rumah masing-masing, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” tutupnya.

Penulis: Wasti Naitboho

Pos terkait