Legendaris Atletik “KHATARINA NESIMNASI” Asal SoE/TTS : Nama Besarmu Dulu TIDAK Sebaik Nasibmu Kini

  • Whatsapp

Oleh : David Boimau (Anggota DPRD Kabupaten TTS)

Seminggu ini grup Pemuda TTS melalui postingan saudaraku Hermensen Ballo, seolah tersengat untuk membangkitkan sukma. Saat mencorat-coret tulisan ini, sudah 549 like dan komentar menghiasi dinding grup PEMUDA TTS. Salut, prihatin, empati dan ungkapan miris atas perhatian pemerintah yang kurang diungkap dalam bentuk berbagai versi.

Melalui perjuangan panjang, akhirnya sore ini bisa bertemu mama Katharina Nesimnasi. Tinggal di rumah reot, terasing dan harus ditempuh dengan jalan yang sangat parah akhirnya saya bisa menjumpai mama Katharina.

Mengajak adik perempuanku, Yupick F. Boimau, yang juga Anggota DPRD TTS Dapil I menjelajah sampai kediaman mama Khatarina. Hunian ukuran sekitar 14 M2 adalah satu-satunya tempat bernaung dari janda 4 orang anak ini.

Keterangan gambar: Khatarina Nesimnasi (Legenda Lari asal TTS), David Boimau (Anggota DPRD TTS), Yupick F. Boimau (Anggota DPRD TTS)

Prestasi gemilangnya dulu tidak seglamour hidupnya kini. Juara 3 PON, 81 mewakili NTT, Juara 2 Kejuaraan Atletik di Filipina, Juara 1 Kejuaraan atletik di Hongkong, Juara 2 Kejuaraan Atletik di Thailand, juara 6 Kejuaraan Atletik di Malaysia (karena terjatuh saat itu), Juara 1 Kejuaraan Pordat 3.000 M, 800 M, 1.500 M di SoE.

Selalu bergantian posisi antara juara 1 atau 2 dengan temannya Welmimce Sonbai. Saat itu masih di bangku SD Kelas 2 dengan usia 12 tahun. Malang melintang di dunia Atletik tidak membuatnya meraih prestasi gemilang di dunia sekolah. Putus sekolah di SD Kelas 4 karena kala itu orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkannya lagi.

Segudang prestasi kala itu ternyata tidak dihargai dengan hadiah yang setimpal. Hadiah paling istimewa saat itu adalah sebagai orang kampung pertama yang Naik Pesawat Terbang secara ulang-aling. Apalah daya sampai dengan saat ini belum ada balas jasa dari Pemda setempat, Pemprov apalagi pemerintah Pusat.

Berlinang air mata menerima kunjungan kami terbersit berjuta harap, ADAKAH PERHATIAN PEMERINTAH untukku sebelum ajal datang menjemput???? Ironis memang, tetapi jika tidak disikapi, maka secara tidak sadar kita telah memulai membunuh karakter para olahragawan disegala cabang untuk apatis.

Ayo ….. mari memberikan perhatian, INGAT JAS MERAH ….. Setidaknya mereka, termasuk Khatarina telah mengharumkan nama TTS, NTT, bahkan Indonesia …… Ungkapan berbelangsukawa dan krans bunga tidak akan berharga sebelum sukma meninggalkan raga. Semoga ada perhatian!

Pos terkait