Manusia Adalah Makhluk Berharga di Mata Allah

- Redaksi

Rabu, 9 Maret 2022 - 13:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 303 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sandy Matias Rupidara

Manusia adalah makhluk yang sangat berharga di mata Allah Bapa. Tentu kalau berharga di mata Allah Bapa berarti memang saudara dan saya sangat berharga adanya. Karena Allah sangat menghargai sesuatu yang bernilai dan yang bernilai itu ada dalam hidup saudara dan saya.

Allah tidak bisa di sejajarkan dengan manusia, karena saudara dan saya adalah buatan tanganNya. Dia pencipta dan kita adalah hasil dari ciptaanNya. Walau saudara dan saya adalah buatan Tangan Tuhan, namun sesuatu yang luar biasa adalah bahwa dalam diri kita ada unsur-unsur Allah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Unsur Allah yang yang di tempatkan Allah dalam diri kita adalah roh Allah. Roh Allah ini yang membuat kita begitu bernilai dan berharga di hadapan Allah (Kej. 2:7; Yak.4:5). Secara tidak langsung, manusia adalah bagian dari diri dan hidup Allah sebagai Bapa, sebagaimana anak-anak adalah bagian hidup dari orang tua. Itulah sebabnya Allah Bapa menghendaki roh itu kembali kepada-Nya (Pkh. 12:7).

Jika kita memperhatikan kisah penciptaan manusia, maka kita dapati bahwa “roh” manusia bukanlah sesuatu yang berasal dari sumber lain. Roh manusia bukan diciptakan, tetapi “dikeluarkan” dari dalam diri Allah. Jadi roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah sendiri. Roh manusia tidak bisa dikatakan diciptakan, sebab keluar dari diri Allah ketika Allah menghembuskan nafas-Nya (Kej. 2:7).

Itulah sebabnya dikatakan dalam Yakobus 4:5 bahwa roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu. la menghendaki roh manusia, sebab roh itu milik-Nya. Dalam Ibrani 12:9 dikatakan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, artinya semua roh yang ada berasal dari Dia, termasuk roh manusia berasal dari Allah Bapa.

Itulah sebabnya pula dengan tegas Alkitab menyatakan bahwa orang percaya adalah “manusia Allah” (Ing. man of God. Yun. Anthrope tou theou; Άνθρωπε του θεού) (1Tim. 6:11). Maksudnya manusia Allah di sini bukan berarti manusia sejajar dengan Allah atau bisa menjadi Allah, tetapi manusia bisa memiliki karakter atau moral seperti Allah yang adalah Bapanya.

Dengan demikian bisa dimengerti kalau Allah Bapa rela memberikan Putra Tunggal-Nya. Hal tersebut jelas menunjukkan seakan-akan nilai jiwa manusia seharga dengan nilai Putra Tunggal-Nya, padahal nilai Putra Tunggal-Nya tak terhingga, sebab Dia adalah anak Tunggal-Nya.

Dalam hal ini seakan-akan demi menyelamatkan manusia, Allah Bapa memberikan diri-Nya sendiri. Sehingga betapa mahal harga keselamatan yang Tuhan berikan tersebut. Itulah sebabnya kita tidak boleh menyia-nyiakan anugerah keselamatan ini (Ibr. 2:3).

Dengan memahami hal ini, maka seseorang dapat menghargai dirinya sendiri dengan benar, sebab menyadari betapa mulia dirinya itu. Itulah sebabnya kita tidak boleh membuat diri merasa berharga karena faktor lain (kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas, dan lain sebagainya). Kita berharga sebab memang kita bernilai tinggi sebagai keturunan Allah sendiri. Banyak orang menghargai diri secara salah yang berakibat justru menyia-nyiakan hidupnya.

Kalau seseorang sudah tidak menghargai dirinya secara benar dan mengalihkan penghargaan kepada hal-hal lain, maka ia tidak pernah mengenal keselamatan yang Tuhan berikan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan saudara dan saya kepada rancangan-Nya yang semula. Rancangan semula Allah adalah menjadikan manusia berkeadaan sebagai anak-anak Allah dengan kualitas hidup yang berstandar hidup sebagai anak-anak Allah.

Yohanes 10:10, bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup, agar manusia memiliki hidup tersebut dalam kelimpahan. “Hidup” dalam teks ini adalah zoe, yang lebih menunjuk hidup yang berkualitas, bukan bios yang menunjuk kehidupan makhluk pada umumnya.

Sedangkan kata “berkelimpahan” dari teks aslinya adalah perissos (περισσός), yang artinya sangat tinggi dalam kualitas. Hidup yang berkelimpahan menunjuk pada kualitas moral yang tinggi. Moral di sini menyangkut hubungan dengan Tuhan, dengan sesama dan cara memandang dunia ini. Hidup yang berkelimpahan bukan berarti berlimpah materi, tetapi memiliki suatu kualitas hidup yang berkenan kepada Allah Bapa. Di dalamnya termasuk menikmati damai sejahtera walaupun tidak ditopang oleh materi.

Tuhan Yesus datang memberikan hidup, artinya la hendak mengembalikan manusia pada rancangan semula, memiliki kualitas hidup yang berstandar sebagai anak-anak Allah. Hal ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya atau secara otomatis. Orang Kristen atau yang mengaku percaya kepada Dia, tidak dengan sendirinya memiliki hidup yang berkelimpahan tersebut. Oleh sebab itu, orang percaya harus mau mengikuti gaya hidup-Nya. Ia datang memberi hidup, sama artinya Ia datang mengajarkan hidup-Nya.

Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, maksudnya bahwa manusia telah kehilangan pola hidup yang di kehendaki oleh Allah sebagai pencipta. Dalam hal ini kita harus memahami bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak dan absolut. Kehendak-Nya harus di taati, larangannya harus di jauhi. Dari ini Sebenarnya peta hidup manusia sudah jelas, bahwa arah kehidupan itu hanya ada dua arah yaitu kematian kekal atau kehidupan kekal.

Dan Alkitab dengan jelas mengarahkan kita untuk mencapai kehidupan kekal pada akhirnya (Kej 2:15-17). Bahwa sejak semula, tidak ada tujuan Tuhan untuk membawa kita kepada kematian kekal. Dan sejak semula, sebelum manusia jatuh dalam dosa, Allah telah memberikan Firman kepada manusia bahwa pelanggaran terhadap perintah mengakibatkan kematian. Inilah keistimewaan dalam diri manusia, dengan kehendak bebas (free will).

Namun Tuhan selalu menghendaki agar pada ujung jalan manusia mengalami kehidupan kekal, itulah Allah mengutus AnakNya untuk datang ke dalam dunia sebagai manusia dan menderita mati di salib untuk memulihkan membuka kembali jalan kepada kehidupan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya (Yoh 3:36). Hanya ada dua arah perjalanan manusia pada akhirnya, yaitu kehidupan atau kematian di ujung perjalanan ini.

Jika kita mati, maka tidak ada satu pun benda dan kehormatan manusia yang kita telah perjuangkan selama hidup akan kita bawa. Sebagaimana kita datang sendiri, kita akan pulang sendiri. Sebagaimana kita datang tanpa membawa apa-apa ke dunia ini, maka kita akan kembali dengan tidak membawa apa pun juga. Ini adalah sesuatu yang pasti. Seharusnya kita memikirkan apa yang bisa kita bawa sebagai bekal kekal dalam kehidupan yang akan datang nanti.

Penulis adalah Ketua Yayasan Pelita Kehidupan Masyarakat – YPKM

Berita Terkait

Menguatkan Iman Generasi Muda di Soe Melalui Kebaktian Kebangunan Rohani
Pemuda GMIT Klasis SoE Akan Gelar Pawai Paskah, Diikuti Oleh 27 Peserta
Pemuda GMIT Syalom Mokdale Sambut Paskah Dengan Menggelar Malam Puji-Pujian
Rayakan Paskah, Jemaat GMIT Ebenhaezer Bonleu Gelar Berbagai Lomba
Jelang Perayaan Natal,YBKM Salurkan Paket Natal Untuk Para Lansia Di Gereja GMIT Petra SoE
Kenapa Bernama Maria Bunda Segala Bangsa? Dan Siapa Yang Memberikan Nama Itu?
Bertemu Tuhan di Tubuh
Rayakan HUT Ke-65, Jemaat GMIT Imanuel Masikole Gelar Syukuran

Berita Terkait

Sabtu, 3 Februari 2024 - 22:58 WITA

Syukuran Tahunan, IPPAT dan INI Berbagi Kasih Kepada Anak-Anak Stunting di Desa Kesetnana

Selasa, 19 Desember 2023 - 11:12 WITA

Lantik 12 Pejabat Eselon II, Bupati TTS: Kita Harus Pertahankan Opini WTP

Minggu, 10 Desember 2023 - 23:03 WITA

Bupati TTS Hadiri Kegiatan Sosialisasi Transparansi PBJ Satuan Pendidikan dan Onboarding UMKM Lokal

Kamis, 7 Desember 2023 - 09:21 WITA

Pemkab TTS Raih Predikat B Akuntabilitas Kinerja Tahun 2023 Setelah Sepuluh Tahun Memperoleh Nilai CC

Selasa, 5 Desember 2023 - 23:52 WITA

Kepsek SMPN Nefotes: YASPENSI Beri Warna Tersendiri Dalam Pendampingan Literasi

Selasa, 5 Desember 2023 - 16:53 WITA

Hadiri Hari Bhakti PU, Bupati TTS Tegaskan ASN Harus Netral Pada Pemilu 2024

Sabtu, 2 Desember 2023 - 23:34 WITA

Upah Masyarakat Pekerja Jalan Rabat Belum Dibayarkan, Ini Penjelasan Kepala Desa Hoi

Rabu, 29 November 2023 - 17:29 WITA

Gigitan HPR di Kabupaten TTS Capai 2.132 Kasus, 11 Orang Meninggal Dunia

Berita Terbaru