MENGALAMI KEBANGKITAN KRISTUS DENGAN MENJADI BERKAT

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh: Pdt. Elisa Maplani, M.Si

Ayat Bacaan Alkitab: (Kisah Para Rasul 4:32-37)

Saling memberi dan melayani adalah sifat dan tindakan yang terpuji dan mulia dalam hidup manusia. Namun kebanyakan manusia yang hidup di zaman ini telah terjebak pada pementingan diri dan kelompok.

Ada roh zaman yang telah menguasai hidup kebanyakan manusia modern yakni roh individualisme (pementingan diri sendiri), roh materialisme (memupuk harta untuk diri) dan roh hedonisme (mencari kenikmatan sendiri). Akibat dari hidup kebanyakan manusia yang dikuasai roh zaman tersebut, buat manusia tidak lagi belajar untuk hidup dalam kebersamaan dan belajar berbagi berkat dengan apa yang dimiliki.

Cara hidup seperti ini sangat kontras dengan cara hidup jemaat perdana. Jemaat perdana adalah ciri jemaat yang merayakan Paskah yakni peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari, tidak saja dalam bentuk kata tapi perbuatan nyata.

Kristus yang bangkit itu dirayakan tidak saja dalam bentuk kesaksian yang bersifat verbal yakni pemberitaan Injil tapi juga dengan cara hidup saling melayani dan memberi. Itulah yang diperlihatkan dalam teks bacaan Kisah Para Rasul 4:32-37.

Pertama, Jemaat hidup sehati dan sejiwa (ay 32-33).

Artinya, jemaat berada pada satu keyakinan/percaya dalam hal kesatuan. Kesatuan yang dimaksudkan di sini bukanlah kesamaan dalam segala hal tapi kesatuan yang diikat-satukan dalam spirit hidup dalam damai sejahtera. Kesatuan dalam ikatan damai sejahtera atau Syalom Allah di dalam Yesus Kristus.

Sehati dan sejiwa yang dinyatakan jemaat perdana tidak dalam bentuk yang abstrak (kata-kata semu). Bila kita membaca Kisah Para Rasul 2:42,46, nampak bahwa hidup sehati dan sejiwa itu dinampakkan oleh jemaat perdana dengan cara bertekun dalam doa dan dalam pengajaran Rasul-Rasul dan dalam persekutuan. Jadi ada perasaan untuk saling menopang satu dengan yang lain melalui doa dalam ikatan persekutuan sebagai orang percaya.

Doa menjadi kekuatan yang mengikat dan mempersatukan mereka sebagai umat Allah. Selain itu, aspek pertumbuhan Iman juga menjadi hal penting yang diperhatikan. Guna bertumbuh, berakar dan setia di dalam Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup, pengajaran Iman pada Kristus oleh para Rasul jadi hal penting yang tidak diabaikan.

Pengajaran Para Rasul tentang Yesus yang bangkit dan menang atas maut akan menolong mereka untuk tetap hidup bersama Kristus di tengah-tengah berbagai tantangan kehidupan yang mereka alami selaku murid Kristus.

Kedua, Belajar Menjadi Berkat Bagi Sesama (ay 32b-34).

Sehati dan sejiwa jemaat perdana dinyatakan tidak secara abstrak (kata-kata semu: Doa dan pengajaran Iman). Sehati-sejiwa jemaat perdana itu dinyatakan pula secara konkrit (tindakan nyata). Sedemikian konkritnya sehingga setiap jemaat yang berkumpul berkata bahwa segala sesuatu yang menjadi milik mereka menjadi kepunyaan bersama (ay 32).

Bahkan setiap anggota jemaat dalam tindakan nyata menyatakan kasih dengan harta mereka berupa rumah dan tanah yang dimilki guna berbagi dengan sesama (ay 34).

Setiap pemberian dari Tuhan, tidak diagung agungkan sebagai milik pribadi yang penggunaannya untuk melayani diri dan kelompok sendiri.

Apa yang mereka punyai tidak membuat mereka hidup berorientasi pada diri tapi orientasi hidup adalah menjadi berkat bagi sesama. Mereka yang diberkati membagikan hartanya kepada yang berkekurangan sehingga semua diberkati. Ya…, Mereka belajar berbagi berkat dengan sesama dari apa yang mereka miliki. Saling memberi dan melayani adalah wujud yang terlihat dalam gereja perdana.

Ketiga, Jemaat percaya penuh kepada para pemimpin gereja untuk mengelola persembahan yang diberikan (ay 35a,37).

Jemaat Tuhan memberi berkat untuk melayani sesama bukan sekedar karena paksaan atau asal-asalan. Tidak memberi dengan sembarangan atau maunya sendiri. Mereka memberi berkat untuk melayani sesama dengan percaya penuh kepada para Rasul yang menjadi pemimpin gereja saat itu.

Hal ini menunjukkan kedewasaan Iman dalam hal memberi dan bukti kepercayaan pada pemimpin gereja dalam hal mengorganisir dan menyalurkan segala berkat bagi sesama anggota jemaat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yusuf yang disebut oleh para Rasul dengan nama Barnabas.

Yusuf merupakan sosok orang Kristen mula-mula yang memiliki kasih yang besar kepada Yesus yang menderita, mati dan bangkit untuk menyelamatkan dirinya. Kasih Yusuf pada Yesus dinyatakan juga dengan cara mengasihi sesamanya. Yusuf rela menjual harta miliknya dan membawa uang itu di kaki para Rasul untuk kepentingan melayani sesama. Yusuf rela memberi tanpa pamrih untuk melayani sesama.

Baik jemaat maupun Yusuf, tidak sekedar tampil sebagai sosok jemaat yang murah hati. Mereka tampil dengan rendah hati, berkorban untuk melayani sesama dengan datang meletakkan di depan kaki para Rasul (ay 35a,37).

Tujuan diletakkan di depan kaki para Rasul adalah sebagai tanda bahwa:
a. Persembahan yang diberikan dilakukan dengan penuh kerelaan bukan dengan paksaan atau dengan duka.
b. Persembahan yang diberikan pada sesama harus dimulai pertama- tama dari memberi diri kepada Tuhan. Artinya segenap hidup harus dipersembahkan terlebih dahulu kepada Tuhan barulah memberi persembahan dalam bentuk lain (uang, materi dll) untuk melayani sesama.
c. Agar para Rasul dapat mengelola persembahan tersebut bagi kepentingan melayani sesama secara seimbang. Tidak boleh ada yang dirugikan atau membuat sebagian dirugikan atau menjadi kekurangan dan sebagian pihak berlimpah dan yang lain kekurangan. Aspek keadilan distribusi diperhatikan.

Teks bacaan memberi kesaksian tentang segala sesuatu yang mendasari tindakan jemaat mula-mula hidup sehati-sejiwa, kerelaan berbagi berkat dan kepercayaan penuh pada para Rasul mengorganisir dan menyalurkan segala berkat untuk kepentingan pelayanan bagi sesama.

Dasarnya adalah Jemaat menyadari oleh kuasa kebangkitan Kristus, mereka telah menerima kasih karunia yang berlimpah-limpah (ay 33b). Jemaat sadar, Kebangkitan Kristus membuat mereka menerima kasih karunia Allah yang berlimpah. Kasih karunia Allah yang berlimpah bagi mereka itu juga harus dinikmati oleh sesama mereka. Dengan demikian semua orang boleh menikmati kasih karunia Allah yang melimpah dalam hidup.

Beberapa hari terakhir ini, sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami musibah yang hebat akibat badai Seroja. Dampak Badai Seroja telah meluluh-lantakkan dan melenyapkan sebagian besar rumah penduduk, lahan pertanian, ternak, infrastruktur bangunan, jalan, penerangan, komunikasi dan berbagai sumberdaya alam dan lingkungan bahkan korban jiwa. Segala aktifitas dan perekonomian masyarakat untuk sementara lumpuh.

Ada tangis pilu terdengar tapi juga kesedihan mendalam terekpresi dari wajah-wajah yang dijumpai di berbagai posko penangan bencana. Kekuatan alam telah mempertontonkan kedasyatannya dan menginterupsi canda ceria dan kebersamaan mayoritas masyarakat NTT.
Bahu sebagian besar masyarakat NTT seolah-olah tak kuat lagi memikul beban pergumulan yang semakin kompleks, melengkapi cerita dari derita dan air mata dikarenakan pendemi Covid 19 yang tak kunjung berakhir.

Di tengah realitas kehidupan mayoritas masyarakat NTT yang menderita karena pendemi Covid 19, Badai Seroja dan penderitaan lainnya, kisah tentang cara hidup jemaat mula-mula dapat menjadi contoh atau model hidup orang percaya (Role Models).

Pertama, Topang dalam doa saudara- saudari kita yang menderita karena terdampak oleh pendemi Covid 19, Badai Seroja dan berbagai bentuk penderitaan yang diakibatkan hal lain.

Doa kita kepada Tuhan jadi kekuatan yang meneguhkan mereka untuk tetap hidup bersama Yesus di tengah berbagai pergumulan yang melanda.

Kita sehati dan sejiwa dengan saudara- saudari kita dalam doa kepada Yesus yang sanggup menyembuhkan dan memulihkan hidup dari aneka derita yang melanda.

Kedua, Mari memberi dan melayani sesama yang menderita dengan berkat Tuhan yang ada pada kita.

Setiap orang Kristen (Gereja) dipanggil untuk memberi dan melayani sesama yang menderita. Paskah harus dirayakan setiap orang Kristen dalam kata dan perbuatan nyata. Panggilan Kristen untuk memberi dan melayani sesama adalah sebuah akta Iman pada Yesus yang telah bangkit dan menang atas kuasa penderitaan dan kematian.

Panggilan Kristen (Gereja) untuk menjadi berkat dan menolong sesama yang menderita bukan sekedar keterlibatan sosial kemanusiaan belaka. Bukan pula sekedar sebuah tindakan yang digerakkan oleh belas-kasihan semata.
Dasar dari panggilan Kristen untuk menjadi berkat dan menolong sesama yang menderita adalah pada Allah di dalam Yesus Kristus yang ikut terlibat menderita bersama manusia.

Allah yang aktif terlibat langsung dalam penderitaan manusia dan berupaya membebaskan manusia dari belenggu penderitaan guna memulihkan manusia dari penderitaan hidup.

Setiap orang yang telah menikmati kasih karunia Allah yang melimpah melalui kebangkitan Yesus Kristus, hendaknya berperan aktif menjadi menyalur-penyalur kasih karunia Allah itu dengan cara melakukan pelayanan kasih (Berdiakonia) bagi sesama yang membutuhkan pelayanan kasih kita.

Kita dapat ber-Diakonia melalui gereja sebagai wujud persembahan dan syukur kita kepada Yesus Kristus yang telah bangkit dan menebus kita dari dosa. Kita belajar berbagi berkat kepada sesama yang sedang menderita bukan dari kelebihan/kelimpahan kita tapi dengan apa yang ada pada kita bahkan di tengah-tengah kekurangan kita sekalipun.

Keunikan Ke-Kristenan yang hidup dalam spirit Paskah adalah mau berbagi berkat dari kelimpahan atau berkekurangan hidup pada sesama yang berkekurangan atau yang membutuhkan dalam hidup. Cara hidup jemaat perdana, mesti jadi teladan cara hidup orang Kristen masa kini dalam situasi sulit.

Ketiga, Penting untuk menjaga integritas diri dalam melayani sesama.

Sebagaimana para Rasul, mereka dipercaya jemaat mengelola dan menyalurkan segala bentuk persembahan yang diberikan jemaat dengan meletakkan di depan kaki mereka, demikianlah hendaknya setiap orang Kristen belajar meneladani mereka.

Setiap orang Kristen baik yang ada di pemerintahan, di Lembaga Swadaya Masyarakat atau di berbagai provesi yang dipercaya mengorganisir dan menyalurkan banatuan dinasehati untuk sungguh-sungguh menjaga integritas pelayanan kepada sesama yang menderita. Tidak memanfaatkan penderitaan sesama untuk mencari popularitas diri dan meraup keuntungan bagi diri dan kelompok.

Hindarkan diri dari sikap hidup yang berorientasi bagi diri dan kelompok di tengah-tengah jeritan derita dan derai air mata banyak orang yang tertumpah akibat berbagai penderitaan yang melanda terutama di masa pendemi Covid 19 dan bencana Seroja yang melanda saudara-saudari kita.

Biarlah setiap orang Kristen yang mengalami kebangkitan Kristus dengan nurani yang murni dan dilandasi cinta kasih Kristus dapat memberi diri melayani sesama yang menderita dengan berpegang teguh pada Firman Tuhan:
ÔÇťApapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu adalah hamba-Nya (Kolose 3:23-24).”

SOLI DEO GLORIA.
Catatan: Tulisan ini dapat dibaca di Koran Harian Timor Ekspress, tgl 18 April 2021.

Pos terkait