MENGIKUTI YESUS: RELA BERKORBAN (JANGAN MENUNDA UNTUK MELAKUKANNYA)

  • Whatsapp
Keterangan Foto: Pdt. Vinny Tanaem-Bria, S.Th (Ketua Majelis Jemaat GMIT Oefatu, Klasis SoE Timur). Foto diambil sebelum Pandemi COVID-19.

Oleh: Pdt. Vinny Bria, S.Th

Ada banyak cara untuk berterima kasih. Tepat tanggal 14 Februari 2021 kemarin, Jemaat GMIT Oefatu melepas tenaga magang yaitu Calon Vikaris (Cavik) Ance Ndoki, S.Th yang sudah melayani selama kurang lebih 3 tahun di Oefatu. Banyak jemaat yang tidak sempat mengikuti kebaktian pelepasan karena situasi pandemic belum mengijinkan. Meskipun demikian, ada banyak ungkapan terima kasih yang diterima oleh nona Cavik. Ada yang menitip berkatnya berupa uang, selendang dan sarung. Padahal situasi jemaat masih sulit akibat pandemic, tapi semua itu dilakukan karena cinta jemaat dan cara mereka berterimakasih atas pengabdiannya sepanjang masa magang.

Perempuan yang bernama Maria, dalam bacaan hari ini, juga melakukan hal yang sama. Betapa tidak, saudaranya, Lazarus, yang sudah meninggal, dibangkitkan oleh Yesus. Hal yang dianggap mujizat sepanjang sejarah. Tentu saja tidak ada balasan yang setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Lalu, bagaimana atau dengan apakah ketiga bersaudara dari Betania itu harus membalasNya?

½ kati minyak narwastu murni, bagi Maria, itu harga yang pantas bagi Yesus, yang Maria sanggup lakukan. Sekalipun bagi Yudas Iskariot, seorang ahli keuangan, tindakan Maria adalah sebuah pemborosan. Dari sudut pandang Maria, apalah artinya minyak narwastu mahal itu dibanding nyawa Lazarus, saudaranya. Maria merelakan keagungan harta demi rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan, yang menyelamatkan kehidupan keluarganya. Sebab kehilangan Lazarus merupakan kehilangan kekuatan dan harga kehidupan yang harus Maria dan Marta lakukan sepanjang hidup.

Tindakan ini dipandang Yesus sebagai peringatan akan kematianNya:”Enam hari sebelum Paskah …”(ayat 1). Tindakan Maria mendahului tanda Penyelamatan paling luas yang akan dijalani dan dilakukan oleh Yesus; yang berlaku tidak hanya untuk satu atau dua orang, tetapi semua umat manusia. Dimulai dengan satu hal saja, yaitu tindakan rela berkorban.

Yesus benar-benar tahu dan yakin akan penderitaan berkubang maut yang akan Ia jalani. Dan Maria merayakan persiapan jalan derita itu dengan mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Yesus mempersiapkannya di tengah-tengah keluarga yang Ia kasihi, dengan orang-orang terdekatNya, agar mereka mengerti tentang betapa berharganya kesempatan saling berbagi cinta, terima kasih dan hormat dalam jangka waktu 6 hari saja, sebelum Ia “pergi”.

Yesus memberi arti penting tentang waktu-waktu yang berharga ini ketika Ia mengucapkan: ‘orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” Kalau saja Maria mendengarkan Yudas, maka Maria akan menyesal seumur hidupnya, sebab Ia mungkin tak akan bertemu Yesus lagi, untuk menunjukkan ungkapan terimakasihnya.

Penghormatan istimewa yang Ia siapkan untuk Yesus tak ada artinya lagi bila ia menunda-nunda, sekalipun demi kepentingan “menolong orang miskin yang lebih membutuhkan”. Yesus juga sama sekali tidak menunda waktu kesengsaraanNya, hanya karena Ia belum siap meninggalkan keluargaNya atau pengikutNya atau pelayananNya atau apapun di dunia ini.

Pelajaran penting bagi kita sepanjang minggu ini: Pernahkah kita menunda untuk berbuat baik hanya karena belum atau tidak siap rela berkorban? Terkadang kita mengulur banyak waktu untuk memberi maaf, berterima kasih, membantu orang yang susah, dengan banyak alasan : Ah, masih ada besok; ada kebutuhan lain yang mendesak; dll. Kisah di Betania ini menunjukkan kepada kita bahwa Maria, dalam tenang dan percayanya, telah mengisi kesempatan berharga yang singkat tetapi bermakna sepanjang sejarah. Bahwa sejarah dapat terukir ketika setiap detik berharga bagi kebaikan.

Jangan menunda berbuat baik: berterima kasih, memberi maaf, bersyukur, memberi pertolongan – sekalipun demi kepentingan baik lainnya. Prioritas waktu untuk berbuat baik jauh lebih berharga dibanding pilihan kepada siapakah kita harus berbuat baik. Dengan begitu, kita tidak perlu memilah-milah atau pilih kasih, siapa yang pantas menerima rasa terima kasih kita, siapa yang harus lebih dahulu memberi atau menerima maaf, siapa yang harus pertama/terakhir ditolong, dsb. Sebab bila kita percaya bahwa setiap detik waktu kehidupan kita berharga bagi kebaikan, maka dalam diri kita selalu ada kesanggupan untuk rela berkorban bagi siapa saja dan kapan saja. Tidak ada lagi ukuran atau nilai harta/materi yang menandinginya.

Sekarang, kita ada pada masa dimana orang bisa cepat datang atau cepat pergi. Siap atau tidak siap, kita sungguh merana karena situasi ini. Ada banyak orang yang menyesal, tidak sempat berterima kasih, memberi maaf atau berbuat baik lainnya, karena orang yang mereka maksudkan telah meninggal. Penyesalan selalu ada di belakang.

Jika demikian, bila kita masih diberi kesempatan, berilah harga setinggi-tingginya pada waktu berharga itu. Mulailah dari mereka yang ada di dekatmu: orang tua, saudara, sahabat, bahkan musuhmu sekalipun. Jangan menunda, kalau tidak mau menyesal di kemudian hari. Jangan menunda demi apapun; demi rasa sakit, demi dendam yang tak terselesaikan, demi sebuah jabatan atau kepentingan, demi kehormatan apapun yang dunia tawarkan.

Sekali lagi, jangan menunda untuk rela berkorban: merelakan apa yang paling berharga dari kita, demi kebaikan yang tak boleh ditunda-tunda adalah respon iman paling nyata terhadap pengorbanan Kristus demi menebus dosa seluruh umat manusia. Apa jadinya kita, manusia yang binasa ini, bila Kristus menunda berkorban bagi kita? Lalu apa hebatnya kita, manusia yang binasa ini, untuk bertindak dengan perhitungan Yudas: “Pilah-pilih berbuat baik demi .… ada yang lebih penting” atau dengan kata lain “berbuat baik demi penghormatan/keagungan diri sendiri”.

Mari bijaksana. Ikutlah teladan keikhlasan Maria. Jalanilah teladan Kristus : Rela berkorban demi penghormatan setinggi-tingginya terhadap kehidupan manusia. Kristus dimuliakan, bukan semata-mata karena Ia adalah Putra Allah, tetapi karena Ia, Putra Tunggal Allah, yang rela menderita & mati demi penebusan banyak orang. Yohanes 15:13-14, merupakan pernyataan cinta Yesus bagi kita. (silahkan baca).

Demikianlah Allah kita. Ia tak menunda cintaNya bagi umat yang dikasihiNya, sekalipun harus dibayar dengan perngorbanan diriNya (Anak TunggalNya). Jangan menunda untuk jatuh cinta, selamat rela berkorban. Amin.

(Penulis adalah Ketua Mejlis Jemaat GMIT Oefatu – Klasis SoE Timur).

Pos terkait