Obet Isu Tanggapi Pernyataan Frangky Nope Tentang Ceritera Sejarah Lapangan Boibalan Niki-Niki

  • Whatsapp

SoE, SALAMTIMOR.COM – Saling klaim terhadap status kepemilikan lapangan sepak bola Boibalan antara kelurga besar Isu dan kelurga besar Nope terus berlanjut dengan tutur sejarah berdasarkan versi masing-masing pihak.

Kelurga besar Isu yang diwakili oleh Obet Isu, menanggapi pernyataan Frangky Nope (salah satu anak dari Usif Alm. Karel Kela Nope/Usif Noemeto) di media ini yang dirilis pada tanggal 21 Oktober 2021 lalu.

Berdasarkan press rilis yang diterima media ini, Obet Isu mempertanyakan fakta sejarah mana yang melandasi penuturan/peryataan Frangky Nope.

Obet membenarkan bahwa saat ini tanah lapangan Boibalan Niki-Niki berada di pusat kota administrasi Kelurahan Niki-Niki.

Akan tetapi Frangky Nope sendiri tidak tahu dimana sebenarnya letak pusat Istana (Sonaf) kerajaan Amanuban pada saat masih menggunakan sistem pemerintahan monarki atau daerah swapraja Amanuban yang selanjutnya dibentuk menjadi Daerah Tingkat II yang termasuk dalam Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur pada tahun 1958 berdasarkan UU RI No. 69 Tahun 1958.

“Selanjutnya apabila merujuk pada kutipan buku berjudul “Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor” yang ditulis oleh A.D.M Parera, dituliskan bahwa seorang Amabi yang tertembak bernama Boibalan pada perang Amanuban dan Amabi yang terjadi sekitar tahun 1653, jika dikaitkan dengan perpindahan ibukota kerajaan Amanuban dari Tunbes ke Pili Besabnao hingga ke Niki-Niki terjadi sekitar tahun 1808 pada saat kepemimpinan Raja Don Luis III, dimana pada saat itu nama Niki-Niki pun baru muncul.’’ tulis Obet

Obet juga menyampaikan bahwa Frangky Nope dalam mengutip buku karya A.D.M Parera dan Editor oleh Drs. Gregor Neonbasu,.SVD yang terbit Tahun 1994, belum membaca secara keseluruhan sehingga tidak dapat mengerti atau memahami substansi dari isi buku tersebut.

Hal ini dapat dibuktikan bahwa di halaman 190 A.D.M Parera mengutip dari tulisan G. Heijmering yang mendasarkan tulisannya pada cerita-cerita rakyat dari orang-orang Amarasi pada tahun 1847, sehingga tidak diketahui secara pasti apakah sumber cerita rakyat tersebut mengandung kebenaran sesuai dengan fakta tutur lisan adat atoin meto pah Amanuban atau hanya cerita asal-asalan.

Dalam kesempatan ini, Obed Isu atas nama Keluarga Besar Isu dapat menerangkan ketidak jelasan atau ketidak akuratan tulisan G. Heijmering yang merupakan misionaris dari Nederlandsch Zendeling Genootshcap (NZG) yang dimuat oleh A.D.M Parera dalam bukunya sebagai berikut :

1) Halaman 188 dinyatakan sendiri oleh A.M.D Parera bahwa cerita yang ditulis oleh G. Heijmering terkesan sama kocar kacirnya dengan ceritera-ceritera rakyat sendiri;

2) Halaman 190 dinyatakan sendiri oleh A.D.M Parera bahwa bahan-bahan sejarah yang tertulis hanya bersifat sepihak bisa sama simpang siurnya dengan cerita rakyat;

3) Kemudian pada halaman 194-195 terdapat juga pernyataan seorang bernama Prof. Dr. W. Ph. Coolhaas yang meragukan catatan G. Heijmering karena tidak terdapat di dalam daghregister yaitu dokumen harian yang mencatat setiap kejadian yang terjadi di Batavia, pusat VOC untuk Asia, dari tahun 1624 mencapai tahun 1682;

4) Dan pada halaman 197 disebutkan oleh A.D.M Parera bahwa G. Heijmering belum menulis apa-apa tentang Amanuban dan Amanatun;

Dari pernyataan-pernyataan A.D.M Parera dalam bukunya sendiri mengenai tulisan G. Heijmering masih dipertanyakan kebenarannya.

“Akan tetapi Frangky Nope dengan beraninya tetap mengutip tulisan dari buku berjudul “Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor” yang ditulis oleh A.D.M Parera yang memuat tulisan G. Heijmering, mengenai status tanah lapangan Boibalan Niki-Niki, maka hal ini semakin jelas membuktikan ketidaktahuan Frangky Nope mengenai sejarah Amanuban itu sendiri, karena ia hanya berlandaskan pada tulisan orang luar Amanuban yang tidak jelas siapa sumber tutur penulisan buku sejarah tersebut.” kata Obet

Lanjutnya, “seharusnya Frangky Nope lebih mengetahui dimana letak Istana Kerajaan Amanuban, yang di kelilingi oleh para pengikut raja. Apabila Frangky Nope tidak dapat menjelaskannya berarti dapat dipastikan Frangky Nope tidak tahu sejarah leluhurnya dan apabila Frangky Nope tetap tidak mengakui kedudukan Fettor Boi Isu (Alm) atas tanah yang saat ini disebut Boibalan berarti ia sendiri juga telah
mengkhianati leluhurnya sendiri yang telah membangun sistem pemerintahan kerajaan Amanuban saat berada di Niki-Niki bersama dengan para pengikutnya.” Jelas Obet Isu

Menurutnya,’’Keluarga Besar Isu tetap berlandasakan pada tutur adat (natoni) yang telah diwariskan turun temurun oleh leluhur sampai saat ini yang tetap dipegang teguh oleh atoin meto
pah Amanuban.”

“Hal ini sejalan dengan pernyataan A.D.M Parera dalam bukunya pada halaman 23 yang menyatakan cerita rakyat yang mengandung sejarah hanya bisa diperdengarkan secara bisik-bisik dan kepada orang-orang yang cukup berani. Karena pada hakekatnya, cerita yang mengandung sejarah hanya boleh dikemukakan pada saat upacara-upacara adat tertentu dan oleh orang tertentu.” tegas Isu

“Oleh karena itu, kami Keluarga Besar Isu menyarankan kepada Frangky Nope untuk lebih mendekatkan diri kepada para tetua adat yang lebih mengetahui sejarah. Bukan mengambil cerita rakyat dari pihak lain yang masih perlu dipertanyakan kebenarannya. Keluarga Besar Isu yakin bahwa kebenaran yang diperjuangkan ini akan didukung oleh leluluhur dan masih banyak masyarakat Amanuban yang paham sejarah amanuban yang sebenarnya.’’ tutup Obet

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait