BAKTERI STAPHYLOCOCCUS MENJADI PENYEBAB KERACUNAN MAKANAN DI TETAF AKIBAT PENGOLAHAN YANG KURANG BAIK

  • Whatsapp
Foto: Dr. Irena Atte, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan

SoE, Salamtimor.com – Hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan yang menyebabkan 180 orang keracunan (baik yang bergejala maupun tidak), pada saat mengikuti kegiatan HUT Anak GMIT jemaat Imanuel Kuatnana tanggal 17 November 2020 yang lalu di lapangan Nekmese Tetaf, telah selesai pemeriksaannya di Balai POM Kupang dan penyebab keracunan tersebut adalah adanya bakteri staphylococcus.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Dr. Irena Atte kepada media on line salamtimor.com melalui pesan Whats Up.

“Penyebab keracunan makanan di Tetaf akibat bakteri staphylococcus yang ditemukan di mie pada saat pengolahan. Baktery staphiloccus adalah bakteri gram positif yang bisa menyebabkan orang yang makan mengalami mencret, mual, muntah, kepala sakit dll….” Jelas Dokter Irene.

Ditanya oleh media ini, apakah bakteri ini terdapat pada mie sebelum di olah atau sesudah di olah, maka Dokter Irena menjelaskan bahwa, “bakteri tersebut ada karena olahan yang kurang baik. Jika olahannya baik, maka bakteri tidak mungkin ada di mie tersebut.” Tutup Dokter Irene.

Keterangan Foto: Kepala Desa Tetaf (Yulius Talan), Kepala Dinas Kesehatan Kab. TTS (dr. Irene Atte), Camat Kuatnana (Yuliana Woy) dan Kepala Puskesmas Tetaf (Alfred Benu, S.Kep)a
Kepala Desa Tetaf (Yulius Talan), Kepala Dinas Kesehatan Kab. TTS (Dr. Irene Atte), Camat Kuatnana (Yuliana Woy) dan Kepala Puskesmas Tetaf (Alfred Benu, S.Kep) pada saat memantau kondisi para pasien keracunan makanan di Kantor Desa Tetaf (Foto tanggal 18/11/2020)

Sebagai informasi bahwa keracunan makanan yang dialami oleh peserta HUT Anak GMIT jemaat Imanuel Kuatnana pada tanggal 17 November 2020 berjumlah 180 orang (baik yang bergejala maupun tidak menunjukan gejala sama sekali). Dari 180 orang yang terdaftar karena mengkonsumsi makanan tersebut, hanya 40’an orang yang mendapatkan perwatan dalam bentuk infus. Sementara sisanya hanya diberikan obat dan disuruh pulang malam itu juga (tanggal 17/11 malam).

Dari 40’an orang yang di infus tersebut, terdapat 21 orang yang mendapat perawatan intensif dari Puskesmas Tetaf pada saat itu, karena menunjukan tanda-tanda dehidrasi. Dan pada keesokannya, atau tepatnya tanggal 18 November 2020 siang, semua pasien sudah diperbolehkan pulang oleh tim medis Puskesmas Tetaf karena kondisi mereka sudah pulih total.

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O Toy, S.Th saat memberikan arahan dan mendoakan para pasien keracunan makanan di Kantor Desa Tetaf (Foto tanggal 18/11/2020)

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O Toy, S.Th, ketika dikonfirmasi oleh media ini mengapresiasi tim medis Puskesmas Tetaf yang berhasil menangani semua pasien sehingga kurang dari 24 jam, para pasien ditangani secara baik dan tidak ada korban jiwa. Juga kepada Kepala Dinas Kesehatan Kab. TTS yang telah menyampaikan hasil pemeriksaan sehingga gereja dapat lebih berhati-hati dalam pengolahan makanan pada momen-momen Hari Raya Gerejawi.

“Saya mengapresiasi langkah cepat Kepala Puskesmas Tetaf dan tim medisnya yang dapat mengendalikan situasi sehingga kurang dari 24 jam, semua pasien dapat diselamatkan dan kondisi setiap pasien pulih 100% seperti sedia kala. Kita percaya dan imani bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan jemaatNya melalui tangan para medis di Puskesmas Tetaf. Kiranya Tuhan yang membalas setiap kebaikan pelayanan dari semua tim medis.” Tutur Pendeta Toy.

Kepala Puskesmas Tetaf, Alfred Benu, S.Kep saat menangani para pasien keracunan makanan di puskesmas Tetaf (Foto tanggal 17/11/2020)

“Juga kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS dan jajarannya yang telah berkenan menyampaikan hasil pemeriksaan sampel makanan ini sehingga ke depan kami (pihak gereja) berhati-hati dalam menyiapkan makanan menyambut momen-momen pada perayaan Hari Raya Gerejawi.” Ungkapnya.

Lanjut Pendeta Toy,”dengan adanya hasil pemeriksaan sampel makanan di Balai POM Kupang terkait dengan keracunan makanan yang dialami oleh jemaat Imanuel Kuatnana, desa Tetaf pada beberapa waktu yang lalu, maka diharapkan agar semua Majelis Gereja dalam lingkup pelayanan GMIT Klasis SoE Timur dapat lebih berhati-hati mengolah makanan jika tidak ingin membuat orang lain dan diri sendiri berada dalam kesulitan. Bapak Bupati sudah menghimbau agar melibatkan pihak Puskesmas terdekat apabila ada acara-acara baik acara di rumah, gereja, kantor dll…’ Imbaunya.

Sambungnya, “kita akan segera masuk pada perayaan Natal dan Tahun Baru. Akan ada begitu banyak syukuran-syukuran dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam pengolahan makanan, dan tentunya saat ini kita dihadapkan pada situasi Pandemi Covid-19. Kepada Majelis Gereja agar tetap waspada dan berhikmatlah. Jangan menganggap remeh situasi dan keadaan disekitar kita.” Tutup Pendeta Lebrik.

Keracunan makanan adalah segala gejala yang timbul akibat makanan yang terkontaminasi. Makanan terkontaminasi dapat mengandung organisme infeksius berupa bakteri, virus, maupun parasit atau toksin yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Organisme infeksius atau toksin dapat mengkontaminasi makanan pada segala titik dari mulai proses, produksi atau distribusi suatu makanan. (_Tim_)

Pos terkait