PARA MEDIS IBARAT SIFRA DAN PUA: Pengabdi Kehidupan Demi Kehidupan Sesama

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh: Pdt. Elisa Maplani, M.Si

(Bacaan: Keluaran 1:1-22)

Sifra dan Pua, dua perempuan yang namanya dapat kita sejajarkan dengan tokoh Iman perempuan lain dalam Alkitab seperti Sara, Rut, Ester, Ribka, dll. Apa sebab ? Sebab Sifra dan Pua, merupakan dua tokoh perempuan yang juga sangat berperan dalam perjalanan hidup umat Tuhan.

Siapakah Sifra dan Pua?

Mereka adalah para bidan yang menolong perempuan Ibrani melahirkan. Kepada Sifra dan Pua, raja Mesir memerintahkan demikian “apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir; jika anak laki laki kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan bolehlah dia hidup (Kel 1;16).

Manakala Yusuf, keturunan Yakub yang pernah jadi pejabat penting di Mesir telah lama meninggal dunia, Raja baru yang memerintah Mesir tidak mengenal Yusuf. Karena itu ketika bangsa Israel berkembang dan bertambah banyak jumlahnya, hal itu dilihat raja sebagai ancaman. Karena takut, raja mengambil keputusan: “marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka (Kel 1:10). Dan tindakan yang bijaksana itu menurut pandangan raja adalah menyuruh Sifra dan Pua membunuh para bayi laki laki di Israel.”. kita lihat disini tindakan penguasa yang kejam dan sadis (perintah membunuh) dipahami sebagai yang bijaksana, baik, dan benar.

Bagaimana Sifra dan Pua menanggapi perintah raja Mesir itu? Ternyata keduannya berani berkata tidak. Sekalipun itu perintah raja, mereka tidak akan taat kalau itu terkait dengan tindakan yang jahat; Bagi Sifra dan Pua, perintah untuk bertindak yang meniadakan kehidupan meski datang dari raja tidak perlu diindahkan.

Sifra dan Pua adalah pribadi-pribadi yang mengabdi pada kehidupan; Kini mereka berdua diminta untuk mengabdi kepada maut atau kematian dengan cara membunuh. Ini tindakan yang tidak lasim dan tidak boleh. Tindakan mencabut hidup seseorang yang baru lahir bertentangan dengan tugas sebagai pengabdi kehidupan. Akan mengusik nurani kemanusiaan. Itu sebab Sifra dan Pua tidak mau mengkhianati nurani yang tulus. Tidak mau tangan berlumuran darah karena mencabut kehidupan seorang bayi yang tidak berdosa. Tidak mau mengabdi pada penguasa yang menghendaki kematian anak manusia yang tidak berdosa. Kalau tunduk pada perintah penguasa (raja) berarti, kehidupan para bayi yang tidak berdosa itu manjadi lenyap.

Sifra dan Pua tau bahwa para bayi Ibrani yang akan lahir itu tidak bersalah. Itu sebab tidak ada alasan untuk membunuh. Mereka terus berkerja di dalam pengabdian kepada hidup dan bukan di dalam pengabdian kepada maut. Hormat dan penghargaan mereka tentang kehidupan sebenarnya adalah hormat dan penghargaan kepada Allah. Mereka memilih untuk tetap setia kepada kehendak Tuhan, dari pada kepada perintah raja yang jahat. Itulah keberanian percaya, lebih memilih taat pada Allah dari pada kepada pemerintah raja yang jahat apapun resiko yang harus diterima atau harga yang harus dibayar.

Sifra dan Pua rela membayar harga yang mahal, rela menerima resiko, mempertaruhkan hidup demi kehidupan orang lain. Keberanian iman selalu mengutamakan kehendak Allah, tanpa memperhitungkan resiko bagi diri mereka sendiri. Sifra dan Pua pasti tau, akibat atau resiko yang akan mereka terima kalau melanggar perintah raja. Namun Sifra dan Pua juga tau, Allah selalu ada bersama dengan mereka bila pilihan dan tindakan yang mereka ambil adalah pilihan dan tindakan yang benar.

Sifra dan Pua percaya bahwa bila mereka melakukan kebenaran yakni mengabdi bagi kehidupan orang lain, Allah akan melindungi mereka dari malapetaka yang mengancam. Umat Allah tidak mungkin hilang dari rancangan kuasa kejahatan dunia ini; Suka tidak suka umat Allah akan tetap ada karena Allah punya rencana dengan umat pilihan-Nya.

Setia pada kehendak Allah bukan perkara yang gampang. Ada harga yang harus dibayar. Ada resiko yang harus dipikul. Hanya orang orang yang setia dan takut kepada Allah yang mampu untuk membayar harga yang mahal dan yang siap menerima resiko, sebagai bentuk ketaatan dan kesetiaan kepada Allah. Itu ada pada Sifra dan Pua.

Ayat 17 memberi kesaksian bahwa dasar yang kokoh bagi Sifra dan Pua menolak kompromi dengan perintah raja: “tetapi bidan bidan itu takut akan Allah.”.Hidup yang takut akan Tuhan membuat kita mampu untuk menolak segala bentuk kejahatan dan siap membayar harga yang mahal, siap menerima resiko yang terburuk sekalipun dalam hidup.

Lalu bagaimana nasib dan masa depan Sifra dan Pua? Karena ketaatan dan hidup yang takut akan Allah, Allah berbuat baik kepada mereka. Ada upah yang diperhitungkan Allah bagi Sifra dan Pua manakala mereka siaap kehilangan kehidupan demi mengabdi pada kehidupan. Allah memberkati hidup Sifra dan Pua. Allah mengingat ketulusan hati mereka dalam memelihara kehidupan para bayi Israel. Allah membuat mereka berumah tangga sebagai bukti Allah membentuk masa depan Sifra dan Pua melalui hidup berumah tangga (ayat 20a,21).

Pendemi Covid 19, makin melanda dunia ini dan tak seorangpun tahu kapan akan berlalu. Maut yang disebar melalui virus Corona selalu mengintai hidup setiap manusia di belahan dunia ini. Banyak orang tak terkecuali tenaga medis (dokter dan perawat) telah terpapar bahkan kehilangan nyawa akibat virus Corona. Virus Corona memang telah membawa cerita yang menyayat hati bagi tenaga medis. Di Indonesia banyak tenaga medis meninggal dalam pengabdian merawat kehidupan sesama manusia yang terpapar.

Para petugas medis memang merupakan para pengabdi kehidupan yang ada di garda terdepan memerangi virus Corona karena berhadapan langsung dengan pasien yang terjangkit virus Covid 19. Di tengah-tengah keterbatasan alat dan fasilitas kesehatan, para petigas medis amat rawan terpapar virus Covid 19. Banyak para tenega medis telah kehilangan nyawa karena berjuang bagi kehidupan banyak orang yang terpapar Virus Covid 19.

Meskipun banyak tenaga medis (dokter dan perawat) telah meninggal dan masih banyak lagi tenaga medis yang melayani dalam bayang-bayang ketakutan akan maut yang menimpa kapan saja melalui Virus Covid 19, mereka terus bersemangat untuk bekerja, memberikan pelayanan dan pengobatan kepada para pasien.

Para medis harus relakan diri dibalut Alat Pelindung Diri (ADP) seperti masker, kacamata pelidung, pakaian pelindung tubuh dan sebagainya dan berdiri berjam-jam hanya untuk menyelamatkan kkehidupan sesama manusia yang terpapar virus Covid 19. Mereka diharuskan tinggal di tempat khusus yang disediakan, jauh dari suami, istri, anak-anak, saudara, kawan karib demi mengabdi bagi kehidupan banyak orang.

Para medis adalah para pengabdi kehidupan. Meskipun situasi yang dihadapi para medis tidak jatuh sama dengan yang dihadapi oleh Sifra dan Pua yang berhadapan dengan sisitem kekuasaan yang ingin melenyapkan kehidupan, spirit dan ketulusan melayani bagi upaya penyelamatan kehidupan banyak orang adalah spirit dan ketulusan pelayanan Sifra dan Pua. Pengabdian para medis adalah pengabdian bagi kehidupan manusia dan sungguh sangat mulia di hadapan Tuhan.

Tuhan selalu memperhitungkan segala karya mulia para medis yang mengabdi bagi kehidupan sesama sebagai upah dan merancang masa depan mereka begitu indah di tangan-Nya. Sebagaimana Kebaikan dan rencana indah Allah dinikmati oleh Sifra dan Pua karena dalam sikap taat dan takut akan Tuhan mengabdikan diri bagi kehidupan banyak orang, biarlah hidup dan masa depan para medis yang mengabdikan diri bagi kehidupan banyak orang ada dalam rancangan indah Tuhan.

Ya, Para medis adalah pengabdi kehidupan. Mereka layak mendapat dukungan dan doa semua orang kepada Tuhan dan biarlah mereka melihat dan mengalami kasih dan kebaikan Allah atas hidup dan masa depan mereka.

SOLI DEO GLORIA.

(Catatan: Tulisan ini pernah tayang di Koran Harian Timor Ekspress, Tanggal 4 Oktober 2020)

Pos terkait