Pengaruh Paham Antroposentris Dalam Keseimbangan Kosmos

  • Whatsapp

Oleh: Gunsales Moensaku

Antroposentris adalah sebuah konsep dari etika lingkungan yang menganggap bahwa manusia adalah pusat dari alam atau kosmos. Paham ini menganggap manusia adalah yang paling istimewa. Jika dilihat, semua makhluk hidup bergantung pada lingkungan sekitarnya yaitu alam yang menunjang kehidupan termasuk manusia. Namun dengan cara pandang antroposentris, manusia mulai dengan serakah mengeksploitasi alam dan merusak sistem keseimbangan kosmos.

Kerusakan alam yang diakibatkan oleh manusia, sudah sampai tingkat mengkhawatirkan dan mengancam kestabilan alam. Manusia secara serakah mengeksploitasi alam secara besar-besaran untuk kepentinganya tanpa akibat yang akan terjadi. Manusia menjadi serakah di zaman kapitalisme dan melakukan eksploitasi alam hanya untuk mengejar kekayaan.

Kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat dan teknologi yang semakin canggih tidak mampu memberikan jawaban kepada manusia. Penemuan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya membantu manusia, kini menjadi penyebab kerusakan alam yang sulit ditangani. Penemuan seperti transportsi, alat-alat komunikasi, senjata api, nuklir dan lain sebagainya awalnya sangat membantu manusia, tetapi kemudian salah dimanfaatkan oleh manusia dan menjadi dampak kerusakan alam semesta.

Orang-orang di Eropa Barat yang adalah penganut agama Yudeo Kristen, percaya bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari alam. Hal ini membuat Max Weber memandang agama Kristen Protestan sebagai awal munculnya semangat kapitalisme. Pada awalnya, eksploitasi alam hanya terjadi di masyarakat Barat sejak abad 18, tetapi kemudia meluas ke luar Eropa akibat adanya kolonialisme dan imperiallisme.

Agama menjadi mediator terjadinya perang yang sebenarnya untuk kepentingan segelintir orang saja. Peperangan terjadi baik sesama agama dan juga dengan agama lain. Akibat dari peperangan itu sendiri adalah kerusakan alam yang tidak dapat terelakkan.

Bertolak dari masalah ini, saya mencoba memberi komentar berlandaskan pandangan filsafat sebagai alternatif pencegahan kerusakan lingkungan. Kita tentu saja tahu bahwa Filsafat sebagai sebuah cara berpikir manusia dengan akal-budinya dan dengan berfilsafat juga manusia dituntut untuk mau berpikir dan akhirnya menjadi bijaksana dalam pikiran serta tindakannya.

Menjadi seorang filsuf berarti belajar menjadi orang bijaksana. Orang bijaksan selalu bertindak selaras dengan apa yang dikatakan dan dipikirkan. Menjadi bijaksana adalah cita-cita luhur setiap manusia, tetapi tidak semua manusia boleh menjadi bijaksana, hanya manusia yang mau menggunakan akal-budinya yang menjadi bijaksana.

Ekoteologi (teologi lingkungan) adalah ilmu yang membahas tentang inter-relasi antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agama dengan alam, khususnya lingkungan. Dengan demikian, teologi dalam konteks ini tidak hanya menyangkut aspek kebutuhan semata, tetapi juga memiliki dimensi ekologis. Dalam perspektif teologis, krisis krisis lingkungan yang saat ini terjadi tidak lepas dari cara pandang dan perilaku manusia yang secara sadar ataupun tidak telah mengubah ekosistem bumi menjadi terancam keseimbangannya.

Fakta-fakta tersebut di atas mendorong banyak pihak untuk terlibat aktif memperbaiki kondisi lingkungan hidup global yang saat ini berada dalam titik nadir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sebuah organisasi pengambil keputusan-keputusan di tingkat internasioanal merespon persoalan krisis lingkungan dan keberlanjutan sejak lama, salah satunya dengan cara menyelenggarakan satu seri internasional mengenai lingkunagn hidup pada tahun 1972 di Stockhholm, Swedia. Di samping menguraikan karakter global dari masalah lingkungan, konferensi ini mengakui bahwa perlindugan lingkungan haruslah menjadi unsur pokok dalam perkembangan sosial dan ekonomi.

Dalam buku “ Senanam Sebelum Kiamat”, Seyyed Mohsen Miri memetakan dua pendekatan yang digunakan untuk memahami dan mencari solusi untuk mengatasi krisis lingkungan, yaitu: pertama, pemecahan krisis melalui pertimbangan atas segala sesuatu yang terlihat, situasi yang sedang berlangsung, membuat perubahan jangka pendek dan membuat perencanaan ulang; kedua, pemecahan krisis melalui penjabaransebab dan faktor yang mendorong mmunculnya krisis (aspek ontologis), melalui dasar keilmuan (aspek epistomologis), kerangka rohani, kerangka intelektual, serta paradigma budaya yang menyebabkan krisis tersebut terjadi dengan tetap mengacu pada pendekatan pertama.

Nampaknya pendekatan kedua merupakan solusi yang memberikan pengaruh lebih nyata. Jika hanya berpegang pada pendekatan pertama, maka asalah akan muncul kembali dan menjadi lebih serius karena krisis sebelumnya masih aktif. Meskipun beberapa percobaan penting telah dilakukan, misalnya membuat bahan bakar non-fosil dan merancang teknologi ramah lingkungan. Pendekatan pertama tidak dapat menghapus krisis lingkungan dan tak dapat menjadi solusi yang memadai bagi masalah terebut.

Terkait hal itu, sejumlah ilmuwan menawarkan analisa untuk mencari akar persoalan krisis lingkungan. Salah satu ilmuwan yang menyumbangkan pemikirannya yakni Seyyed Hossein Nasr, menilai bahwa krisis lingkungan dewasa ini berkorelasi erat dengan krisis spritual-eksistensial yang telah diidap oleh kebanyakan manusia modern. Hal ini disebabkan, akibat cara pandang humanisme-antroposentrisme yang memutlakkan manusia. Implikasinya, yang menjadi korban adalah bumi, alam dan lingkungan yang diintimidasi dan diperkosa atas nama hak-hak manusia.

Dengan demikian, spiritualitas dan paradigma, sebagaimana ditemukan dalam agama-agama, yang selama ini digunakan manusia untuk memahami alam memiliki posisi yang penting. Dalam hal ini, filsuf sekaligus matematika terkemuka, Alfred North Whitehead menegaskan bahwa agama, di samping sains, merupakan satu kekuatan terbesar yang mempengaruhi manusia.

Pada titik inilah kondisi lingkungan hidup global yang kian memburuk dan kritis tidak cukup di atasi hanya dengan seperangkat aturan hukum dan undang–undang sekuler, tetapi juga kesadaran otentik dari perenungan mendalam setiap individu dalam rangka memahami teks-teks suci agama.

Munculnya pemikiran teologi lingkungan atau ekoteologi atau ekosofi mencerminkan pergeseran baru yang serius dalam masalah-masalah krisis lingkungan. Nilai-nilai agama dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam memengaruhi cara pandang pemeluknya dan menggerakkan dengan sangat kuat perilaku dan tindakan mereka dalam melestarikan lingkungan.

Manusia dianggap sebagai penguasa alam yang boleh melakukan apa saja terhadap alam, termasuk melakukan eksploitasi alam dan segala isinya, karena alam/lingkungan dianggap tidak mempunyai nilai pada diri sendiri. Etika hanya berlaku bagi manusia. Segala tuntutan mengenai kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan hidup, dianggap sebagai tuntutan yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Kewajiban dan tanggung jawab terhadap alam hanya merupakan perwujudan kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia. Pola hubungan manusia dan alam hanya dilihat dalam konteks instrumental. Alam dinilai sebagai alat bagi kepentingan manusia. Kepedulian manusia terhadap alam, semata-mata dilakukan demi menjamin kebutuhan manusia. Suatu kebijakan dan tindakan yang baik dalam kaitannya dengan lingkungan hidup akan dinilai baik apabila mempunyai dampak yang menguntungkan bagi kepentingan manusia.

Hubungan manusia dan alam tersebut bersifat egoistis, karena hanya mengutamakan kepentingan manusia. Sedangkan kepentingan alam semesta dan makluk hidup lainnya, tidak menjadi pertimbangan moral. Paradigma Antroposentrisme yang bersifat instrumentalistik dan egoistis tersebut, mendorong manusia untuk mengeksploitasi dan menguras alam demi kepentingannya, tanpa memberi perhatian yang serius bagi kelestarian alam. Kepentingan manusia disini, sering kali diartikan sebagai kepentingan yang bersifat jangka pendek, sehingga menjadi akar dari berbagai krisis lingkungan.

Oleh karena memiliki ciri-ciri tersebut, maka paradigma Antroposentrisme dianggap sebagai sebuah etika lingkungan yang dangkal dan sempit (Shallow environmental ethics). Etika Antroposentrisme bersumber dari pandangan Aristoteles dan para filsuf modern. Aristoteles dalam bukunya The Politics menyatakan: tumbuhan disiapakan untuk kepentingan binatang, dan binatang disediakan untuk kepentingan manusia.

Berdasarkan argumen tersebut, maka dapat dipahami bahwa setiap ciptaan yang lebih rendah dimaksudkan untuk kepentingan ciptaan yang lebih tinggi. Karena manusia merupakan ciptaan yang paling tinggi dari pada ciptaan yang lain, maka manusia berhak menggunakan semua ciptaan, termasuk semua makluk hidup lainnya, demi memenuhi kebutuhan dan kepentingannya.

Manusia boleh memperlakukan ciptaan yang lebih rendah sesuai dengan kehendaknya dan menggunakan sesuai dengan keinginannya. Hal itu sah, karena demikianlah kodrat kehidupan dan tujuan penciptaan. Pada gilirannya, manusia adalah alat dan siap untuk digunakan sesuai kehendak Tuhan.

Thomas Aquinas, Rene Descartes dan Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya, karena manusia adalah satu-satunya makluk bebas dan rasional (The free and rational being). Manusia adalah satu-satunya makluk hidup yang mampu menggunakan dan memahami bahasa, khususnya bahasa symbol untuk berkomunikasi.

Manusia adalah makluk hidup yang mampu menguasai dan menggerakkan aktivitasnya sendiri secara sadar dan bebas. Ia adalah makluk berakal budi yang mendekati keilahian Tuhan, sekaligus mengambil bagian dalam keilahian Tuhan. Manusia menentukan apa yang ingin dilakukan dan memahami mengapa ia melakukan tindakan tertentu.

Demikian pula, ia mampu mengkomunikasikan isi pikiranya dengan sesama manusia melalui bahasa. Kemampuan-kemampuan ini tidak ditemukan pada binatang dan makluk lainnya, sehingga manusia dianggap lebih tinggi kedudukannya dari pada ciptaan yang lain. Sebagai makluk yang lebih tinggi, karena bebas dan rasional, Tuhan menciptakan dan menyediakan segala sesuatu di bumi ini demi kepentingan manusia.

Rene Descartes lebih lanjut menegaskan bahwa manusia mempunyai tempat yang istimewa diantara semua makluk hidup, karena manusia mempunyai jiwa yang memungkinkannya untuk berpikir dan berkomunikasi dengan bahasa. Sedangkan binatang adalah makhluk yang lebih rendah, karena hanya memiliki tubuh, yang hanya sekedar sebagai mesin yang bergerak secara otomatis. Binatang tidak mempunyai jiwa yang memungkinkan bisa bergerak berdasarkan pemikirannya atau pengetahuannya sendiri. Binatang hanya bergerak secara mekanis dan otomatis, seperti halnya arloji, yang telah disetel Tuhan untuk bergerak secara tertentu.

Memperkuat pendapat tersebut, Immanuel Kant menegaskan bahwa hanya manusia yang merupakan makhluk rasional, sehingga diperbolehkan menggunakan makluk non rasional lainnya untuk mencapai tujuan hidup manusia, yakni mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.

Oleh karena makhluk selain manusia dan semua entitas alamiah lainnya tidak memiliki akal budi, maka mereka tidak berhak untuk diperlakukan secara moral dan manusia tidak mempunyai kewajiban serta tanggung jawab moral terhadapnya. Semua entitas alam dan binatang hanyalah sebagai alat dan sah digunakan untuk memenuhi tujuan hidup manusia. Apabila manusia melakukan kewajiban terhadap alam semesta dan binatang, maka kewajiban tersebut merupakan kewajiban tidak langsung terhadap sesama manusia lainnya.

Ilmu pengetahuan dipandang bersifat otonom sehingga dikembangkan dan diarahkan hanya untuk ilmu pengetahuan. Dengan demikian, penilaian baik buruk ilmu pengetahuan dan teknologi beserta segala dampaknya dari segi moral atau agama dinilai tidak relevan. Hal ini melahirkan sikap dan perilaku manipulatif dan eksploitatif terhadap alam yang pada giliranya melahirkan berbagai krisis ekologi seperti sekarang ini.

Pendapat yang berbeda, dikemukakan oleh penganut paradigma antroposentrisme lainnya, yaitu W.H. Murdy dan F. Frase Darling. Menurut Murdy bahwa semua makluk di dunia ini ada dan hidup sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, wajar dan alamiah apabila manusia manilai dirinya lebih tinggi dibanding makluk lainnya. Demikian juga makluk yang lainnya. Tetapi manusia mau tidak mau akan menilai tinggi alam semesta beserta seluruh isinya, karena kelangsungan hidup manusia dan kesejahteraannya sangat tergantung dari kualitas, keutuhan dan stabilitas ekosistem seluruhnya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Pos terkait