PENGENALAN AKAN BUDAYA, PEMPROV NTT MELALUI UPTD MUSEUM NTT MENGGELAR PAMERAN MUSEUM DI SMK NEGERI 2 SOE

  • Whatsapp
Pembukaan Pameran Museum Keliling di SMK Negeri 2 SoE oleh Kepala UPTD Museum NTT. (Foto: Inyo Faot)

SoE, Salamtimor.com – Meseum merupakan tempat penyimpanan, perawatan, pegamanan dan pemanfaatan barang-barang bersejarah yang dapat dipelajari dari zaman ke zaman.

Berbagai macam peristiwa sejarah masa lampau di buktikan dengan berbagai macam benda-benda peningalan purbakala, yang mempunyai nilai historis/sejarah  dari peradaban manusia dari waktu ke waktu, di antaranya mengenal budaya yang hidup dari zaman dulu sampai sekarang.

Sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk belajar dan mengenal akan nilai-nilai budaya yang hidup pada masa lampau.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi NTT dalam rangka melestarikan kekayaan budaya leluhur, maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui UPTD museum NTT menggelar pameran museum keliling. Kegiatan ini akan berlangsung selama 4 hari di kabupaten Timor Tengah Selatan (SoE) mulai dari   Rabu, (02/12/2020) hingga Sabtu, (5/12/2020).

Dengan mengusung tema “Kebudayaan Nusa Tenggara Timur Dalam Ruang dan Waktu”, dibawah sub tema “Lestarikan Kebudayaan Untuk Nusa Tenggara Timur Yang Bermartabat”, pameran museum keliling ini sebagai momen refleksi dan momen belajar tentang kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur.

SMK Negri 2 SoE memanfaatkan momen pameran bertepatan dengan mata pelajaran seni budaya. Para siswa diwajibkan untuk membuat laporan terkait kegiatan pameran. Kegiatan dimaksud sementara berlangsung dan baru akan berakhir pada tanggal 05/12.

Kepala Sekolah SMK Negeri 2 SoE, Ayup Sanam (Foto: Inyo Faot)

Kepada media ini, Kepala Sekolah SMK Negeri 2 SoE (Ayup Sanam) menjelaskan bahwa, “pameran ini menampilkan koleksi-koleksi yang mempunyai nilai-nilai budaya. Dari pameran seperti ini, anak-anak dapat belajar tentang makna dari nilai-nilai budaya yang di tampilkan dari koleksi-koleksi ini . Kita menyadari betul kalau pengaruh tehnologi dan perkembangan zaman yang begitu pesat telah menjadi ancaman tersendiri bagi nilai-nilai sejarah dan budaya lokal. Sekarang anak-anak tidak mengenal dan mau belajar akan budaya serta nilai-nilai yang terkandung dalam suatu budaya.” Tutur Ayup.

Lanjut Ayup, “untuk itu, kita mewajibkan anak-anak untuk membuat laporan kunjungan terkait pameran ini. Jadi tidak cuman mau jalan untuk lihat-lihat saja, tapi mereka dapat menguraikan makna dari koleksi-koleksi yang ada dalam bentuk Laporan. Kita sudah mengatur para siswa agar setiap hari melihat koleksi di museum yang di tampilkan. Ada 951 siswa, kita bagi 3 shift berdasarkan protokol Covid-19.”

Sambungnya, “makna dan tujuan dari kegiatan ini yang pertama, anak-anak dapat mengerti budaya daerah. Dan yang kedua, anak-anak dapat merangkai apa yang di lihat dari pameran ini dalam bentuk laporan.” Tutup Sanam… (Inyo Faot)

Pos terkait