Perang Melawan Kerajaan Ama Djabi, dan Berakhirnya Kekuasaan Raja Ama Djabi

  • Whatsapp

CERITA SEJARAH/MELAWAN LUPA (EDISI V)
Oleh David I. Boimau, A.Md

Setelah perang melawan Kerajaan Tkesnai, maka 2 atau 3 tahun kemudian Raja Seo Bill II berperang melawan Raja Ama Djabi.

Bermula dari beberapa orang utusan dari Raja Ama Djabi datang untuk mencuri kerbau-kerbau milik dari suku Asbanu.

Kerbau-kerbau tersebut oleh pemiliknya diberikan nama Lakae, Aome, Eke dan Sun Ai.

Pada waktu itu, isteri dari Raja Ama Djabi sedang sakit parah sehingga Raja mengutus seorang rakyatnya bernama Nobita untuk pergi mencari dukun agar mengecek penyebab sakitnya sang isteri.

Setelah bertemu dukun dan dukun memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh Nobita, tetapi pesan itu selalu dilupakan oleh Nobita.

Setelah 3 kali bertemu dukun, maka Nobita pulang memberitahukan kepada Raja Ama Djabi utk mengobatinya dengan cara ******** (maaf hal tabu untuk disampaikan pada cerita ini).

Raja Ama Djabi menuruti apa yang disampaikan oleh Nobita dan pengobatan itu dilakukan tetapi kemudian istri langsung meninggal.

Oleh karena Nobita yang membawa informasi dari dukun, maka Raja Ama Djabi memberikan hukuman dengan cara mengutus Nobita untuk mencuri kerbau di Kerajaan Amanuban guna keperluan pesta kematian istrinya.

Nobita tertangkap dan menghukumnya dengan cara dikebiri di Noefatu sehingga sungai itu sekarang disebut Noehombet.

Raja Ama Djabi marah dan terjadilah perang melawan Kerajaan Amanuban.

Dalam perang tersebut, gugurlah seorang panglima Kerajaan Ama Djabi bernama Makoe/Maku dekat Niki-Niki sehingga nama tempat itu kemudian diberi nama Oemaku.

Di dekat pasar Niki-Niki sekarang, ditembaknya lagi seorang panglima perang Bangsawan Ama Djabi bernama Boi Balan, sehingga tempat itu diberi nama Boibalan.

Pasukan perang kerajaan Amanuban yang dipimpin oleh suku Asbanu kemudian mempasung/memenggal kepala dari Nobita, Maku dan Boi Balan untuk menghadap Raja Seo Bil.

Raja dan panglima-panglima perangnya kemudian bersepakat untuk datang menyerang Raja Ama Djabi yang saat itu berpusat di Neto.

Hampir siang mereka mengepung Sonaf Neto dan mulai menyerang. Panglima perang Teflopo melihat sesuatu yang bergerak dan dia menembak, tetapi setelah didekati untuk memotong kepalanya maka ternyata seekor kambing jantan berwarna putih.

Pasukan kerajaan Amanuban terus menyerang masuk tetapi didalam lingkungan Sonaf Raja Ama Djabi tidak ditemukan siapa pun.

Semuanya sudah lari bersama Raja Ama Djabi waktu itu bernama Lae Djabi dan Raja Muda Enoes/Enus Djabi.

Ketika pasukan Kerajaan Amanuban memastikan bahwa tidak ada orang disitu, maka mereka duduk melingkar mengelilingi kambing jantan yang ditembak tadi kemudian mengangkat sebuah pantun “BI NETO NPE’ET FAI FE TEME, FAFAI BIBI KA KAEL NOPE BOLAN”.

Setelah mengangkat pantun ini, maka mereka bersama Raja Seo Bil kembali ke Tunbesi.

Selang beberapa waktu, Raja Amanuban mendapatkan informasi kalau Raja Ama Djabi berada di Hane, maka raja dan pasukan-pasukannya bersepakat untuk pergi menyerang ke Hane.

Mereka mengejar Raja Ama Djabi dan orang-orangnya sampai menyebrangi sungai Noemina. Mereka berhenti disitu dan tidak menyebrang lagi.

Ketika Raja Ama Djabi lari, ada beberapa suku pengikutnya yg tetap tinggal yaitu Bees, Nome, Nomleni, Liunima, Tualaka dan suku lainnya yang tidak sempat terdata.

Daerah kekuasaan Kerajaan Amanuban kemudian meluas dan terlihat seperti pada gambar 3 diatas.

BERSAMBUNG …. (Raja Ama Djabi bertemu Raja Sonbai di Fatukoko)

Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten TTS asal Fraksi Partai Hanura

Pos terkait