PERGESERAN BUDAYA TRADISI MENERIMA TAMU DI TTS

  • Whatsapp
David Imanuel Boimau, A.Md (Anggota DPRD Kabupaten TTS asal Fraksi HANURA)

(Tarian Tel Sain : Tidak Cocok sebagai Tarian Pembuka Menerima Tamu Sekelas Presiden)

Oleh : David Boimau, A.Md
Pemerhati Budaya Atoin Meto

Semua media menyorotkan camera, ketika Presiden RI Bapak Ir. JOKO WIDODO melangkahkan kaki menuruni tangga helikopter di depan lapangan Kantor Bupati TTS.

Beliau beranjak secara perlahan, diapit bak pahlawan oleh para pengawal dan rombongan.

Pengawalan ala VVIP, disambut tarian “Tel Sain” (tarian tradisional dari Nunkolo saat orang panen hasil) hahahaha. Sang Presiden cuman melirik sekilas dan berjalan perlahan.

Saya terusik untuk menulis ini, supaya ke depan TTS yang berbudaya jangan terus salah kaprah menterjemahkan semua tradisi leluhur yang kaya makna dan memilih tarian yang tepat di setiap moment.

Presiden Jokowi hari ini datang di tanah bumi cendana wangi. Rakyat jelata menyambut riuh gempita, ibarat pahlawan yang baru pulang dari medan tempur.

Orang nomor 1 Indonesia yang selalu dieluk-elukan, selama ini hanya melihat di TV, sudah nyata menginjak tanah Timor, Kota SoE, tanah pusaka.

Disinilah seharusnya kita yang punya budaya memilih tarian yang tepat. Dan saya memilih tarian para leluhur ketika menyambut para pejuang sewaktu pulang perang, disambut bagaikan pahlawan, tariannya adalah “Gong dan Tambur” akan mengiringi para penari yang meliuk-liuk.

Kenapa tarian ini yang bukan pilihan, sehingga saat beliau mulai beranjak turun dan mulai melangkah, dentuman tambur dan gong dengan teriakan histeris memekakan telinga.

Tak ayal, saya membayangkan beliau bisa saja turut menari merasakan kemenangan membangun Indonesia, membangun NTT dan membangun bumi cendana.

Lagi-lagi, pilihan yang kurang tepat sebagai pemerhati budaya kalau harus dengan tarian “Tel Sain”, semoga kita yang cinta budaya Timor bisa sependapat.

Tarian “Tel Sain” akan lebih tepat ketika beliau duduk santai menikmati snack atau sambil melepas lelah baru para penari mulai meliukan tubuh, menghentakan kaki karena tarian ini cocok dinikmati dgn iringan “cuk” disertai syair-syair pantun yang memikat hati.

Itulah kita, pergeseran budaya ini mulai terasa dari hal-hal yang kecil. Lembaga adat haruslah berperan supaya nilai itu tidak tergerus, termakan perkembangan jaman.

Seharusnya kita semua paham bahwa tradisi yang bergeser makna membuat para leluhur ikut bersedih. Mohon maaf Bapak Jokowi, seluruh rakyat TTS telah menyambutmu seperti PAHLAWAN dan memang Bapak adalah Pahlawan tetapi pilihan tariannya yang menurut saya tidaklah tepat.

Pos terkait