Perkuat Kelembagaan, GMIT Klasis SoE Timur Gelar Pelatihan BP4K, BP4J dan Pelatihan Pembuatan Database Berbasis Digital

  • Whatsapp
Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th saat membuka kegiatan pelatihan BP4K dan BP4J se-Klasis SoE Timur pada tanggal 17 Juni 2021.

SoE, SALAMTIMOR.COM – Dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan di dalam gereja, maka Majelis Klasis SoE Timur menggelar pelatihan Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Pelayanan (BPPPP/BP4) se-Klasis SoE Timur serta pelatihan Pembuatan Database Klasis dan Jemaat Berbasis Digital.

Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama dua hari mulai dari tanggal 17-18 Juni 2021 bertempat di gereja Imanuel Oenali, Klasis SoE Timur dengan nara sumber berasal dari Tim BP4 Sinode GMIT yakni, Pdt. Saneb Y.E. Blegur, S.Th., Pdt. Dr. Yuda Hawu Haba., dan Bapak Abba Lobo.

Tampak peserta pelatihan BP4K dan BP4J se-Klasis SoE Timur mengikuti materi pelatihan.

Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th dalam suara gembalanya saat membuka kegiatan tersebut pada Kamis, 17/06/2021 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud implementasi hasil persidangan Majelis Klasis SoE Timur II tahun 2021.

“Kegiatan hari ini adalah tindaklanjut dari hasil Persidangan Majelis Klasis SoE Timur II tahun 2021 yang berlangsung di Haumenibaki pada bulan Februari 2021 lalu dan tertuang dalam program pelayanan bidang Oikonomia.” ucap Toy.

Lanjutnya, “dalam mendesain dan menyusun program pelayanan di lingkup Klasis dan Jemaat, tentu kita tidak boleh bermain bebas. Kita punya bingkai dalam mendesain dan menata pelayanan kita yakni Rencana Induk Pelayanan (RIP) dan Haluan Kebijakan Umum Pelayanan (HKUP).”

“Jadi anggota BP4K dan BP4J adalah orang-orang yang harus bisa menerjemahkan RIP dan HKUP ke dalam Program Pelayanan Tahunan (PPT) pada lingkup Jemaat maupun Klasis. RIP dan HKUP disusun berdasarkan keadaan sebelum adanya pandemi Covid-19 dan badai Seroja. Sekarang kita sebagai desainer harus mampu melihat kesenjangan antara HKUP, PPT dan kenyataan yang kita alami saat ini. Jadi bapak/ibu anggota BP4K dan BP4J perlu punya indera tambahan sehingga mampu untuk melihat yang tidak tampak dan mampu mendengar yang tidak disuarakan demi kebaikan pelayanan khususnya dimasa pandemi ini.” jelas Pendeta Lebrik.

“Selama ini memang kita terbiasa bersidang untuk menetapkan program. Kita juga sering mengukur sejauh mana pelaksanaan Program Pelayanan Tahunan (PPT) di jemaat masing-masing. Namun kegiatan hari ini dan besok, kita akan dibimbing dan diperkaya oleh BP4 Sinode GMIT agar PPT yang kita rancang dan susun pada lingkup masing-masing tetap berdaya guna dalam pelayanan agar tidak sekedar kita membuat program, namun dapat terwujud dengan baik sesuai konteks dan kebutuhan masing-masing.”

Foto bersama peserta dan para Nara Sumber seusai kegiatan pelatihan.

“Selanjutnya bahwa diera digitalisasi ini, data sangat penting dalam pengelolaan pelayanan. Untuk itu, data jemaat sudah harus valid dan pasti sehingga ketika ditanya jumlah jiwa dalam jemaat misalnya, maka kita sudah tau jumlah pastinya. Tidak lagi menggunakan istilah “kira-kira atau sekitar”. Sekarang kita ada dimasa dimana sesuatu dilakukan, diperhitungkan dan direncanakan berdasarkan data. Jika kita tidak punya data maka kita sendiri akan kesulitan untuk buat apa dan mulai dari mana.” ungkap Pendeta Lebrik.

“Oleh karena itu, hari ini dan besok kita juga akan dilengkapi untuk bagaimana mendata kekuatan-kekuatan serta potensi-potensi yang ada disetiap jemaat yang akan menunjang pelayanan, perekonomian dan berbagai sektor di lingkup masing-masing demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.” tandas Toy.

Foto bersama peserta dan para Nara Sumber seusai kegiatan pelatihan.

Ketua BP4 Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y.E. Blegur, S.Th., menyampaikan bahwa, “BP4K dan BP4J menjadi tokoh kunci dalam merencanakan, mendesain dan/atau merumuskan PPT berdasarkan HKUP.” Kata Blegur.

Lanjutnya, “Hasil perencanaan harus sesuai dengan kondisi jemaat. disamping itu, ketika memilih orang untuk ada dalam struktur BP4K dan BP4J, maka harus memilih orang yang punya kapasitas dibidang perencanaan dan penelitian. Tujuan penelitian, perencanaan dan pengambangan harus mencapai target dari visi dan misi GMIT.”

Sambung Pendeta Blegur, “Kita akan terus bertumbuh dalam era digitalisasi. Kembali ke system tradisional-konvensional sudah tidak mungkin lagi. Maka kita harus terus belajar menyesuaikan. Akan tetapi, budaya harus tetap dijunjung tinggi sebagai fondasi pengembangan pelayanan kita. Karena budaya merupakan indentitas kita.”

Foto bersama peserta dan para Nara Sumber seusai kegiatan pelatihan.

“Gereja sudah harus menata dan mengembangkan pelayanannya berdasarkan data. Karena database memiliki arti penting dalam mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa tugas dan pelayanan kita dalam usaha mencapai visi dan misi GMIT. Akan tetapi setiap data yang dihasilkan harus melalui riset agar hasil yang dicapai benar-benar objektif dan tidak subjektif.” Kata Blegur.

Abba Lobo (anggota Tim Kerja BP4 Sinode GMIT Bidang Pengembangan) menyampaikan bahwa, “Database merupakan salah satu komponen yang penting dalam sistem informasi, karena merupakan basis dalam menyediakan informasi bagi para pemakai. Dengan database, informasi yang dibutuhkan lebih akurat, aktual, konsisten dan dapat dikelola menjadi data yang informatif bagi siapa saja.”

Abba Lobo, (anggota Tim Kerja BP4 Sinode GMIT Bidang Pengembangan) saat meyampaikan materi tentang Database Gereja Berbasis Digital.

Sambungnya, “Isi database menentukan kualitas informasi yaitu cepat, akurat, dan relevan, sehingga infromasi yang disajikan tidak basi. Informasi dapat dikatakan bernilai bila bermanfaat. Database harus bisa berkembang sesuai tuntutan kebutuhan dari waktu ke waktu (selalu up to date).” ungkap Lobo.

Pantauan media Salamtimor.com, kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh Ketua, Sekretaris dan semua anggota BP4K SoE Timur dan tiga orang perutusan anggota BP4J se-Klasis SoE Timur. Kegiatan ini berlangsung dalam penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait