PERNAH MEWAKILI INDONESIA DITINGKAT INTERNASIONAL, KINI NASIB MANTAN ATLET LARI BERPRESTASI ASAL TTS MEMILUKAN

  • Whatsapp
Keterangan Gambar: Ketua YPKM dan KASOGI TTS, foto bersama mantan pelari nasional, Khatarina Nesmnasi

SoE, SALAMTIMOR.COM – Menjadi juara hingga bertabur gelar nampaknya tidak selalu menjanjikan masa depan yang cerah bagi sebagian para mantan atlet NTT, khususnya di TTS. Mirisnya, beberapa dari mereka justru harus membanting tulang demi bisa bertahan hidup, bahkan rumah yang ditempati saat inipun dapat digolongkan tidak layak huni.

Hal inilah yang dialami oleh Katarina Nesimnasi, mantan atlet pelari putri asal Desa O’of, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Provinsi NTT yang pernah mengharumkan nama Indonesia di level Internasional dan nama daerah di level nasional.

Keterangan gambar: Peraih Medali Cabang Olahraga Atletik Nomer 3000 meter Puteri pada PON X di Jakarta tahun 1981. Emas/DKI Jakarta, Perak/Welmince Sonbay-NTT, dan Perunggu/Khatarina Nesimnasi-NTT

Atlet putri yang namanya tenggelam dan tak pernah diingat lagi sejak berprestasi di level daerah, nasional dan internasional tersebut, pernah mewakili Provinsi  NTT sebagai pelari putri PD PON X di Jakarta tahun 1981 dengan meraih medali perunggu pada nomor lari 3000 meter.

Pada di level daerah, Khatarina pernah meraih juara 1 kejuaraan Pordat 3000 meter, 800 meter, dan 1500 meter di TTS.

Khatarina bersama rekannya Welmince Sonbai juga pernah mewakili Indonesia untuk ikut lomba atletik “lari” di level internasional di 4 (empat) negara yang berbeda diantaranya, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Hongkong.

Pada level Internasional tersebut, Khatarina pernah menjadi juara 2 (dua) kejuaraan atletik di Filipina, juara 1 (satu) kejuaraan atletik di Hongkong, juara 2 (dua) kejuaraan atletik di Thailand, dan juara 6 (enam) pada kejuaraan atletik di Malaysia.

Khatarina dan Welmince Sonbai merupakan pelari perempuan asal TTS yang pernah menjuarai beberapa even “atletik lari” pada Tahun 1981 s/d 1984. Pada rentan waktu tersebut, berbagai prestasi dan penghargaan mereka raih baik pada level daerah, nasional bahkan internasional.

Namun sejumlah prestasi yang pernah di raih bernasib buruk dengan kisah memilukan di masa tua. Tuntutan ekonomi yang kian sulit, membuat kehidupan mantan atlet yang pernah mengharumkan nama negara dan daerah tersebut semakin tidak menentu. Bahkan untuk makan saja, mereka harus membanting tulang sekeras-kerasnya. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan prestasi yang pernah diraih pada masa lalu.

Khatarina Nesimnasi, janda 5 orang anak ini harus menjadi tulang punggung keluarga pasca meninggalnya almarhum suaminya dengan keadaan ekonomi yang sulit serta kondisi rumah yang sangat memprihatikan, bahkan bisa dikatakan tidak layak huni.

Ditemui media ini, Sabtu 21/11 di kediamannya, Khatarina Nesimnasi mengisahkan  bahwa “dirinya bersama Welmince Sonbai (rekan pelarinya) pernah mewakili daerah ini untuk megikuti lomba atletik lari pada PON X Tahun 1981 di Jakarta dan kami berhasil meraih medali perak dan perunggu. Tidak hanya PON X saja, kami juga pernah mewakili Indonesia untuk megikuti lomba lari di tingkat internasional yakni di negara Filipina, Thailand, Malaysia, dan Hongkong.” Ucap Khatarina.

Khatarina bercerita bahwa, “Saya bersama rekan saya Welmince Sonbai menjuarai beberapa even atletik lari untuk nomer lari 3000 meter dan kami berhasil memenangi medali emas dan perunggu pada tahun 1981 s/d 1984. Kami juga pernah sempat di tawarkan pemerintah Filipina waktu itu untuk menjadi warga negara Filipina dan menjadi atlet mereka. Namun pemerintah Indonesia saat itu tidak menyetujuinya.” Tutur Katarina

Keterangan gambar: Welmince Sonbay dan Khatarina Nesimnasi pada PON X tahun 1981 di Jakarta. Mereka berlomba tanpa sepatu.

Lanjut Nesimnasi, “Waktu pertama kali kami ke Jakarta untuk mengikuti PON X, kami di undang oleh Presiden Soeharto untuk tinggal di Istana. Kami ini pelari pertama yang mewakili TTS sebelum saudara Almarhum Eduard Nabunome. Namun semua prestasi yang pernah kami ukir berakhir seperti ini. Tidak di perhatikan oleh pemerintah dari waktu ke waktu sampai saat ini.” Ungkapnya.

Sambung Khatarina, “Bahkan tidak ada kontribusi apapun selama ini sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi yang kami raih, karena prsetasi yang kami raih juga ikut mengharumkan nama daerah dan bangsa, tidak hanya untuk diri kami sendiri. Tidak hanya itu saja, saya bersama keluarga saya selama ini tidak pernah di sentuh oleh bantuan apapun dari pemerintah desa melalui program Dana Desa termasuk BLT Covid-19. Saya hanya mendapatkan bantuan lansia, itu saja. Beban untuk mengasuh dan membesarkan anak-anak juga cukup berat, apalagi sebagai seorang janda. Tinggal dirumah dengan kondisi seperti ini” Tutur Khatarina dengan suara terbata-bata dan berurai air mata.

Ceritera Khatarina Nesimnasi yang beberapa hari terakhir ini cukup viral di media sosial, rupanya menggerakkan pihak-pihak yang merasa perduli untuk menyambangi Khatarina di kediamannya. Setelah di kunjungi Wakil Bupati TTS, kali ini Yayasan Pelita Kehidupan Masyarakat (YPKM) dan Komunitas SoE Berbagai (KASOGI TTS) yang gantian mendatangi Khatarina.

“Saya bersyukur dan berterima kasih, karena hari ini saya di kunjugi  oleh Yayasan Pelita Kehidupan Masyarakat (YPKM) dan Komunitas SoE Berbagai (KASOGI TTS) dan memberikan bantuan berupa beras, gula minyak goreng dan kebutuhan sembako lainnya kepada saya bersama keluarga saya di sini untuk pemenuhan kebutuhan keluarga kami.” Tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pelita Kehidupan Masarakat (YPKM), Sandy Matias Rupidara, menuturkan bahwa, “hari ini kami bersama Komunitas SoE Berbagai (KASOGI TTS) memberikan sedikit sembako untuk mama Khatarina. Kami melihat kondisi mama Khatarina  lewat media sosial. Ini bukan pertama kalinya YPKM dan KASOGI berbagai kasih dengan sesama. Kami ada untuk melihat fenomena sosial di tengah begitu banyak ketimpangan dan kesenjangan sosial yang ada di masyarakat. Kemudian kami tindak lanjuti dengan aksi sesuai kemampuan kami.” Tutur Sandy.

Lanjut Sandy, “Melihat akan kisah dari mama Khatarina, sebagai mantan atlet berprestasi yang perna mengharumkan nama daerah ini di tingkat nasional dan internasiol, semestinya mereka di berikan penghargaan dengan kehidupan yang layak. Sejatinya profesi atlet  layak disebut sebagai “pahlawan olahraga” karena kontribusinya mengharumkan nama daerah ini. Tak mengherankan ada banyak daerah lain yang memberi apresiasi dan penghargaan sangat tinggi atas jasa dan prestasi atlet-atletnya. Tapi sayang sekali, disini nasib para atlet seperti terabaikan.” Tutup Sandy.

Prestasi olahraga dapat memberikan kesan yang baik bagi Indonesia di mata dunia. Maka sudah seharusnya negara memperhatikan kesejahteraan para atlit, khususnya yang sudah pensiun. Kedepannya diharapkan dapat menjamin kesejahteraan para atlet, baik yag masih aktif maupun yang telah pensiun.

Jaminan kesejahteraan yang baik juga merupakan salah satu upaya untuk dapat menghasilkan atlet-atlet yang tangguh, sehingga ke depannya Indonesia akan terus mencetak prestasi olahraga yang gemilang. (Inyo Faot)

Pos terkait