Home / TTS

PROSES PEMAKAMAN JENAZAH PROBABLE COVID-19 OLEH TIM GUGUS TUGAS DINILAI TIDAK MANUSIAWI

- Redaksi

Selasa, 2 Februari 2021 - 08:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 6 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto: Reny Marlina Un (Anggota DPRD Propinsi NTT Dapil NTT VIII-TTS, asal Partai DEMOKRAT)

Keterangan Foto: Reny Marlina Un (Anggota DPRD Propinsi NTT Dapil NTT VIII-TTS, asal Partai DEMOKRAT)

SoE, SALAMTIMOR.COM – Kasus penyebaran COVID-19 di kabupaten TTS semakin meningkat setiap hari. Baik itu yang berstatus KONTAK ERAT, SUSPEK, PROBABLE maupun  TERKONFIRMASI POSITIF.

Terbaru, tepatnya Senin 01/02/2021 salah satu warga kelurahan Niki-Niki, kecamatan Amanuban Tengah berinisial HU (68 tahun) meninggal dunia sekitar Pukul 14.02 Wita di RSUD SoE dengan status probable.

Pihak keluarga melalui anak kandung almarhumah, Reny Marlina Un melalui media salamtimor.com menyayangkan kinerja Gugus Tugas COVID-19 yang dalam pelayanannya dinilai tidak tuntas, mengecewakan dan tidak manusiawi. Kondisi ini di alami sendiri ketika berada di TPU Oebaki untuk memakamkan jenazah ibu kandungnya yang meninggal dengan status probable.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketika kami ada di lokasi TPU, justru kami ditanya apakah sudah koordinasi dengan desa disini atau belum untuk tim lokal mau tutup kubur? Lalu kami ditanyakan apakah bawa peralatan sekop atau tidak? Saya jadi heran, kalau kami yang harus koordinasi dan siapkan peralatan, lalu Tim Gugus ini tugasnya apa? Setahu saya, saat saya tandatangan Surat Pernyataan itu, maka saya berhubungan dengan Tim Gugus Tugas COVID-19 bukan dengan desa Oebaki atau tim lokal disini. Ini sungguh mengecewakan.” Kata Reny.

Lanjutnya, “Katanya tim yang dari sana (SoE) hanya angkat jenazah dan masukan dalam kubur saja dan tidak menutup lubang. Karena ada petugas lain (tim lokal) yang nanti bertugas untuk menutup lubang tersebut. Tapi tim lokal tersebut tidak ada ditempat. Saya sempat protes, kalau seandainya tim lokal malam ini tidak datang untuk tutup, berarti lubang yang sudah berisi jenazah ibu saya ini dibiarkan menganga? Dan kalau hujan, berarti lubang tersebut pasti tergenang air. Tapi masyarakat disitu bilang biasa begitu (entah benar atau tidak). Mereka hanya datang drop saja atau masukan dalam lubang, lalu nanti besoknya baru tim lokal itu datang untuk tutup lubangnya.   Ini sangat tidak manusiawi. Sistem ini harus secepatnya dibenahi.” Katanya.

Sambung Reny, “Akhirnya proses penguburan liang lahat dilakukan oleh keluarga. Ini sangat disayangkan. Seandainya kalau tau kondisinya seperti ini, maka tadi kami bawa pulang saja jenazah ibu saya ke Niki-Niki. Tetapi kami ingin menghargai pemerintah dan tunduk serta taat pada SOP yang ada. Namun kalau perlakuannya seperti ini, maka sangat-sangat mengecewakan. Sementara akses jalan menuju ke TPU oebakipun sulit dijangkau apalagi saat musim hujan seperti ini. Ini akan membuat keluarga mau ziarah ke makam’pun akan menyulitkan. Kecuali menggunakan kenderaan double kabin.”

Tambah Anggota DPRD Provinsi NTT ini, “Saya berharap kondisi seperti ini cepat dibenahi. Gugus Tugas COVID-19 TTS harus bertanggungjwab penuh terhadap setiap pasien yang meninggal, baik yang berstatus probable maupun terkonfirmasi positif COVID-19 sampai selesai pemakaman. Koordinasi harus cepat dan tidak terputus mulai dari Rumah Sakit sampai TPU. Ini katanya ada pelibatan tim lokal untuk penggalian kubur dan penutupan kubur. Namun sungguh disayangkan tidak difasilitasi dengan APD yang memadai. Hanya dibekali dengan masker dan sarung tangan” Sesalnya.

“Kita setuju untuk tim lokal yang berasal dari masyarakat sekitar di libatkan agar bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Namun harus juga diperhatikan perlengkapannya agar mereka tidak terpapar. Jangan sampai niat mereka membantu akhirnya mereka justru yang menjadi korban, kan kasian.” Tutup Politisi Partai Demokrat tersebut.

Reny juga menyayangkan adanya pemberlakuan standar ganda dalam hal pemakaman jenazah yang berstatus probable. Pihaknya mempertanyakan kenapa Tim Gugus Tugas mengijinkan pasien yang meninggal dengan status probable beberapa hari lalu di Supul, dibawa pulang oleh keluarga tanpa dilengkapi dengan APD… (Tim)

Berita Terkait

Syukuran Tahunan, IPPAT dan INI Berbagi Kasih Kepada Anak-Anak Stunting di Desa Kesetnana
Lantik 12 Pejabat Eselon II, Bupati TTS: Kita Harus Pertahankan Opini WTP
Bupati TTS Hadiri Kegiatan Sosialisasi Transparansi PBJ Satuan Pendidikan dan Onboarding UMKM Lokal
Tanggap Terhadap Wilayah Terdampak Kekeringan, BPBD TTS Salurkan Air Bersih
Pemkab TTS Raih Predikat B Akuntabilitas Kinerja Tahun 2023 Setelah Sepuluh Tahun Memperoleh Nilai CC
Kepsek SMPN Nefotes: YASPENSI Beri Warna Tersendiri Dalam Pendampingan Literasi
Hadiri Hari Bhakti PU, Bupati TTS Tegaskan ASN Harus Netral Pada Pemilu 2024
Upah Masyarakat Pekerja Jalan Rabat Belum Dibayarkan, Ini Penjelasan Kepala Desa Hoi

Berita Terkait

Sabtu, 3 Februari 2024 - 22:58 WITA

Syukuran Tahunan, IPPAT dan INI Berbagi Kasih Kepada Anak-Anak Stunting di Desa Kesetnana

Selasa, 19 Desember 2023 - 11:12 WITA

Lantik 12 Pejabat Eselon II, Bupati TTS: Kita Harus Pertahankan Opini WTP

Minggu, 10 Desember 2023 - 23:03 WITA

Bupati TTS Hadiri Kegiatan Sosialisasi Transparansi PBJ Satuan Pendidikan dan Onboarding UMKM Lokal

Kamis, 7 Desember 2023 - 09:21 WITA

Pemkab TTS Raih Predikat B Akuntabilitas Kinerja Tahun 2023 Setelah Sepuluh Tahun Memperoleh Nilai CC

Selasa, 5 Desember 2023 - 23:52 WITA

Kepsek SMPN Nefotes: YASPENSI Beri Warna Tersendiri Dalam Pendampingan Literasi

Selasa, 5 Desember 2023 - 16:53 WITA

Hadiri Hari Bhakti PU, Bupati TTS Tegaskan ASN Harus Netral Pada Pemilu 2024

Sabtu, 2 Desember 2023 - 23:34 WITA

Upah Masyarakat Pekerja Jalan Rabat Belum Dibayarkan, Ini Penjelasan Kepala Desa Hoi

Rabu, 29 November 2023 - 17:29 WITA

Gigitan HPR di Kabupaten TTS Capai 2.132 Kasus, 11 Orang Meninggal Dunia

Berita Terbaru