Radja Ama Djabi Bertemu Raja Sonbai di Fatukoko

  • Whatsapp
David Imanuel Boimau, A.Md (Anggota DPRD Kabupaten TTS asal Fraksi HANURA)

CERITA SEJARAH/MELAWAN LUPA (EDISI VI)
Oleh: David I. Boimau, A.Md

Ketika Raja Ama Djabi sampai di Kupang beberapa tahun lamanya, maka ia datang bertemu Raja Sonbai di Fatukoko untuk mencari beberapa orangnya yang lari pada waktu terjadi perang. Setelah bertemu, kemudian mereka berpesta ria sambil Bonet.

Waktu melangsungkan Bonet itu, maka Sonbai dan Ama Djabi bersepakat jika dalam melantunkan syair-syair pantun dan Sonbai kalah maka harus memberikan kembali orang-orangnya, tetapi jika Ama Djabi kalah maka harus memberikan tanah kepada Raja Sonbai.

Pada saat itu Raja Sonbai hampir kalah, lalu datang meminta bantuan kepada Amanuban seorang yang pintar mengangkat syair-syair pantun bernama Lasa Taifa untuk membantu mengangkat pantun dalam acara bonet tersebut dan akhirnya Raja Sonbai menang.

Setelah acara Bonet selesai, maka Lasa Taifa kembali ke kampungnya Amanuban.
Raja Sonbai mencari akal lagi untuk bagaimana melemahkan pengaruh kekuasaan Raja Ama Djabi, lalu ia memotong seekor anjing berwarna kuning dan menggulungnya di dalam tikar dan menaruhnya dekat tempat beristirahatnya Raja Ama Djabi. Besoknya Raja Sonbai sengaja datang mencari anjingnya dan ternyata ditemukan di dekat tempat tidurnya Raja Ama Djabi.

Raja Ama Djabi sakit hati dan merasa sedih sekali karena rakyatnya sebagian sudah diambil oleh Kerajaan Amanuban pada saat perang dan sekarang juga ketahuan anjing milik Raja Sonbai yang mati ditemukan di dekat tempat tidurnya. Maka ia naik ke atas sebuah gunung lalu mengangkat pantun “Oemoen kae kowa naen hem setoel, setoel sna o” tan sain hane baoen. Setoel sna o” ta sain moema baoen.

Enoes san koko sanoe mnanu” (dibaca : Umun kaet koa naen hem setul, setul sna o’ tan sain Hane baun. Setul sna ‘o tan sain muna baun, Enus san koko sanu mnanu). Setelah mengucapkan pantun ini, sang Raja Enus Djabi menerjunkan dirinya dari atas gunung lalu meninggal.

Ketika mendengar kematian bapaknya, maka anaknya Lelo Djabi datang dari Kupang untuk mengangkat jasad ayahnya. Setelah bertemu mayat ayahnya ternyata ditemukan tidak berkepala lagi. Maka dia mengundang raja-raja di daratan Timor seperti Amanatun, Belu, Insana dan Amanuban tetapi yang datang hanya Raja Amanuban.

Ketika mereka berkumpul di tempat mayat Raja Enus Djabi, maka anaknya Lelo Djabi membayar 4 (empat) nyiru muti salak dan 4 (empat) nyiru uang perak kepada Raja Sonbai untuk meminta kembali kepala bapaknya.

Raja Sonbai tidak mau berbicara selama 4 hari dan tangannya terus memegang tanah sambil memainkannya di jarinya berulang kali. Dia tidak mau menerima bayaran muti dan uang perak tetapi ia meminta bayaran pembagian tanah milik Kerajaan Ama Djabi.

Kapitan Portugis yang hadir di situ mengerti maksud Raja Sonbai yang terus memainkan tanah, lalu membagikan tanah kepada Raja Sonbai dan Raja Amanuban tanah.

Raja Amanuban mendapatkan tanah mulai dari laut Menifo melewati sungai Noemina sampai Noeleke, melewati Noeleke sampai Bibnoko, Talmanu, Napi, Kbiti, Lao, Po’ Meto, Besa Boni, Penkase, Popetita, Matmanus, Kiu Ola, Niti Panan, Kiu Taeboi’ terus ke gereja Noemuti lalu melewati sungai Bo’en sampai ke Benenain (yang tahu nama-nama tempat ini bisa memberikan komentarnya utk penelusuran lebih lanjut).

Sesudah pembagian tanah ini, lalu Raja Sonbai memberikan serorang laki-laki kepada raja Amanuban bernama Besi Babu sebagai bukti bahwa antara Sonbai dan Amanuban tidak boleh terjadi peperangan. Dan Besi Babu kemudian mempunyai keturunan dan keturunannya menjadi tamukung Oepuah, distrik Noeliu.

Lalu Kaptein Portugis membungkus mayat Raja Enus Djabi untuk dikuburkan dengan memberikan uang seringgit kepada Raja Amanuban untuk membawa mayat tersebut dari Fatukoko ke Hane untuk dikuburkan.

Selanjutnya Kapitan Portugis itu menyerahkan 1 (satu) tongkat berkepala perak dan menyerahkannya kepada Raja Seo Bil II untuk membawa mayat Raja Enus Djabi dan telah menguburkannya di atas sebuah bukit. Dan kuburannya masih ada sampai dengan saat ini (perlu ditelusuri). Pembagian wilayahnya seperti yang tergambar dalam peta Edisi sebelumnya di Edisi 5.

BERSAMBUNG ……. Raja Seo Bil II mengangkat lagi panglima Kuna, Saefatu, Banu dan Tasesab ….

(Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten TTS dari Partai HANURA)

Pos terkait