SINODE GMIT GELAR RAPAT KLARIFIKASI TERKAIT UPAYA PENGAMBILALIHAN DUA SATUAN PENDIDIKAN KRISTEN GMIT DI KUATNANA

  • Whatsapp
Majelis Sinode Harian GMIT

SoE, SALAMTIMOR.COM – Menyikapi surat dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot nomor: 001/Y.NAPO/II/2021 tanggal 19 Februari 2021 perihal Mohon Pamit dari Yapenkris Tois Neno untuk selanjutnya menaungi SMP Kristen 1 Amanuban Barat, SMA Kristen Manek To Kuatnana dan PAUD Mawar Oepuah, maka Majelis Sinode GMIT selaku pemilik sah dari Yayasan Pendidikan Kristen GMIT Tois Neno dan dua satuan pendidikan yakni SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana, mengundang para pihak (Pengurus Yayasan Sonaf Pencerdasan, Pengurus Yapenkris Tois Neno, Majelis Klasis SoE Timur dan Majelis Jemaat Imanuel Kuatanana) untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Pantauan media salamtimor.com, rapat klarifikasi yang berlangsung tanggal 2 Maret 2021 bertempat di Aula Lantai 3 Kantor Sinode GMIT Kupang dipandu oleh Ketua BP Pendidikan GMIT (Pdt. Jahja A. Milu, S.Th, S.PT) dan dipimpin oleh Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT (Pdt. Gayus D. Polin, S.Th), Sekretaris Majelis Sinode GMIT (Pdt. Yusuf Nakmofa, M.Th), Wakil Sekretaris Sinode GMIT (Pdt. Elisa Maplani, M.Si).

Hadir dalam rapat klarifikasi tersebut, Badan Keadilan dan Perdamaian GMIT (Pdt. Hendriana M.S. Taka Logo, M.Th), Sekretaris BP Pendidikan GMIT (Pdt. Daniel Wadu, S.Si), Ketua Majelis Klasis SoE Timur (Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th), Ketua Yapenkris Tois Neno (Marthinus H. Banunaek, BA), Sekretaris Yapenkris (Benyamin Ataupah, BA, SE), Ketua Mejelis Jemaat Imanual Kuatnana (Pdt. Godlif Maunino), Wakil Ketua Majelis Jemaat (Pdt. Elfis L.Y. Lenamah, S.Th) dan sejumlah Majelis Jemaat Imanuel Kuatnana dan Tokoh Adat (Musa Faot).

Akan tetapi, pihak Yayasan Sonaf Pencerdasan Napoleon Faot tidak hadir dengan alasan bahwa peserta yang diundang ada yang terindikasi terpapar Covid-19. Hal ini menuai reaksi dan kritik keras dari peserta karena untuk menyatakan seseorang terindikasi atau terpapar Covid-19 hanya Tim Medis melalui Gugus Tugas. Ini Hoax dan bisa berakibat fatal atau berkonsekuansi hukum karena menuduh sesorang tanpa dasar yang jelas.

Namun ketidakhadiran pihak Yayasan Sonaf Pencerdasan Sonaf Napoleon Faot dalam rapat klarifikasi tersebut, tidak membatalkan rapat yang sudah diagendakan oleh Majelis Sinode GMIT dengan  tetap mendengarkan informasi dari Yapenkris Tois Neno, Majelis Jemaat Imanuel Kuatnana dan Majelis Klasis SoE Timur.

Saat memberi klarifikasi, Ketua Yapenkris Tois Neno menyampaikan bahwa “terkait dengan surat dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napuleon Faot, maka pihaknya sudah membalas dengan surat resmi bernomor: 010/YAP-GMIT/E/Feb/2021 tanggal 23 Februari 2021 yang isinya MENOLAK permintaan Yayasan Sonaf Pencerdasan untuk menguasai (mencaplok) asset Yapenkris GMIT Tois Neno karena SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To berdasar atas akta pendirian Yayasan Pendidikan Kristen Tois Neno nomor 97 Tahun 2011 dan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-7218.AH.01.04 Tahun 2021 tentang Pengesahan Akta Pendirian Yayasan Pendidikan Kristen Tois Neno Kabupaten TTS dan sekolah-sekolah tersebut tercatat di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan untuk PAUD Mawar Oepuah kami tidak berkewenangan karena tidak bernaung di Yapenkris Tois Neno.”

Lanjutnya, “ada informasi yang berkembang bahwa Yapenkris Tois Neno sudah menyetujui peralihan asset ke Yayasan Sonaf Pencerdasan itu tidak benar. Semua asset pada kedua satuan pendidikan tersebut sampai saat ini masih dinaungi oleh Yapenkris Tois Neno yang merupakan milik GMIT.” Tegas Banunaek.

Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT (Pdt. Gayus D. Polin, S.Th), dalam rapat tersebut  menyampaikan bahwa, “biasanya langkah yang diambil oleh Sinode GMIT adalah langkah persuasif dan pastoral. Kita (MSH GMIT) akan  berdiskusi untuk mengambil sikap bersama Majelis Sinode setelah ini. Kita juga punya Badan Keadilan dan Perdamaian yang akan mengurus ini lebih lanjut.”

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekertaris Sinode GMIT (Pdt. Elis Maplani, M.Si) secara tegas menyampaikan bahwa, “pendekatan pastoral akan dilakukan sesuai Tata GMIT. Namun Majelis Sinode GMIT juga bisa mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum apabila langkah-langkah pastoral dan persuasif sudah dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil. Karena secara jelas, ada usaha dari Yayasan Sonaf Pencerdasan untuk menguasai asset-aset GMIT. Ini dapat dikategorikan PENYEROBOTAN dan PERBUATAN MELAWAN HUKUM.” Tegas Maplani.

Pertemuan diakhiri dengan beberapa kesimpulan, diantaranya:

  1. Pernyataan dari Pengurus Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot bahwa Yapenkris Tois Neno sudah menyetujui peralihan asset dua satuan pendidikan Kristen GMIT, yakni SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana adalah sebuah kebohongan dan karena itu, permintaan Yayasan Sonaf Pencerdasan untuk mengambil alih aset-aset GMIT DITOLAK;
  2. SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana tetap menjadi milik GMIT yang pengelolaannya dipercayakan sepenuhnya kepada Yapenkris Tois Neno;
  3. Majelis Sinode GMIT dengan tegas menolak klaim terhadap SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana oleh Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot;
  4. Majelis Sinode GMIT akan membuat surat penegasan resmi kepada Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot terkait dengan posisi gereja seperti yang telah disampaikan oleh Yapenkris;
  5. Pengangkatan Pelaksana Tugas Kepala Sekolah pada SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana adalah SAH. Dan karena itu, menugaskan kepada kedua PLT Kepala Sekolah untuk segera melakukan rapat dalam rangka pembentukan Komite Sekolah dan mengamankan asset-aset yang ada dengan berkoordinasi dengan para pihak (Yayasan dan Gereja);

Bila dalam perjalanan waktu, setelah penegasan ini, Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot tetap berkeras mengklaim ataupun mengambilalih kelola kedua sekolah itu, maka gereja menganggap itu sebagi sebuah perbuatan melawan hukum dan sebagai warga masyarakat yang taat hukum, maka dipertimbangkan untuk menempuh jalur hukum sebagai bentuk penyelamatan asset GMIT.

Namun sebelum sampai kesana (mengambil langkah-langkah hukum), aspek pendekatan pastoral akan tetap kita kedepankan. Untuk itu, maka Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Ketua Yapenkris Tois Neno dan Ketua Majelis Jemaat Imanuel Kuatnana tetap melakukan langkah-langkah pastoral.

Pdt. Elisa Maplani, saat ditanya mengenai sikap gereja kedepan untuk memperhadapkan pelantikan para Kepala Sekolah GMIT dalam kebaktian seperti di Kuatnana, menjelaskan bahwa “Sebenarnya perhadapan Kepala Sekolah GMIT dalam kebaktian ini bukan yang pertama kali. Di Tetaf ini sudah ketiga kalinya. Ke depan kita rencanakan dalam sebuah kebaktian pegurus organ Yayasan dan Kepala Sekolah diperhadapkan dalam kebaktian. Hal ini dilakukan untuk membangun pola hubungan yayasan dan gereja agar terbangun dengan baik. Mengapa? karena Kepala Sekolah Kristen akan bertanggungjawab megimplementasikan visi dan misi GMIT dalam satuan pendidikan.” Tutupnya

Pdt. Elfis L.Y. Lenamah, S.Th saat dimintai tanggapan terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dhasilkan menyampaikan bahwa, “Saya mengapresiasi inisiatif MSH menghadirkan semua pihak terkait persoalan  Dua Satuan Pendidikan di Kuatnana. Pertemuan ini  sebenarnya menunjukkan kepedulian serius GMIT Terhadap  pendidikan Umumnya dan Satuan Pendidikan Kristen GMIT khususnya.”

Lanjut Lenamah, “Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah Kesepakatan bersama sebagai tindak lanjut terhadap upaya mengalihkan sejumlah aset pendidikan Kristen di Kuatnana. Dan secara khusus menyepakati sejumlah tindak lanjut untuk pelayanan dalam dua satuan pendidikan di Kuatnana.”

“Harapan saya semoga setiap pihak yakni: Gereja dalam semua lingkup, Yayasan dan satuan pendidikan dapat menindaklanjuti semua kesempatan tersebut sesuai wewenang dan tugas masing-masing.” Harapnya

“Saya membayangkan bahwa kalau semua yang diundang dalam pertemuan tersebut bisa hadir mungkin kesepakatan kita akan lebih baik demi pengembangan Penjdidikan dalam dua satuan Pendidikan di Kuatnana.” Tutup Pendeta Elfis.

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait