Siswa SMK Hilang Tengah Malam Dari Rumah, Ternyata Ini Oknum Yang Menjemputnya

  • Whatsapp

TTS, Salamtimor.com — Belakangan ini tersiar kabar yang beredar luas di kalangan masyarakat atas kelakuan oknum guru yang mengajar disalah satu SMK Kristen di TTS yang diduga melakukan persetubuhan kepada anak di bawah umur sejak tanggal 10 Januari 2023.

Demikian kutipan surat laporan pendiri sekolah SMK Kristen dimana korban mengenyam pendidikan pada lembaga tersebut, tertanggal 24 Januari 2023 yang ditujukan kepada Ketua Yayasan Toisneno.

Diketahui korban berinisial VO alias mawar (17) merupakan salah satu siswi pada salah satu SMK Kristen di kabupaten TTS.

Begini kronologis berdasarkan press release yang diterima media dari pendiri sekolah.

Surat setebal 4 (empat) halaman dengan pelapor adalah pendiri sekolah yang di tujukan kepada Ketua Yayasan Tois Neno, Nomor: Istimewa, Perihal Laporan tentang Persetubuhan Guru dengan Anak Sekolah.

Surat tanpa lampiran tersebut mengurai kronologis kejadian bahwa pada jam 11 malam oknum guru berinisial (SR) menjemput anak sekolah atau siswa katakan saja bunga (nama samaran) di rumahnya, setelah keluar rumah pintu rumah di gembok dari luar.

Pada saat orang tua (ayah) korban merasa untuk buang air kecil pada jam 12 malam, maka pintu terkunci sehinga sang ayah sempat bertanya siapa yang tutup pintu dari luar. Kemudia ibunya korban terbangun dan langsung mengecek korban dan ternyata korban tidak ada di dalam kamar tersebut.

Setelah anak (korban) tidak berada di dalam kamar, maka orang tua keluar dari pintu lain dan mencari disekitar tetangga tetapi korban tidak di ketahui keberadaannya, sepanjang malam tersebut orang tua tidak bisa tidur dan baru pada jam 4 dini hari, maka anak tersebut (korban) kembali ke rumah.

Bahwa setelah korban masuk ke dalam rumah, maka orang tua terbangun dan menanyakan kepada anaknya (korban), “kamu dari mana” dan terus didesak oleh kedua orang tuanya.

Korban setelah didesak oleh orang tuanya maka korban menjelaskan atau menyampaikan secara jujur bahwa pada jam 11 malam saya dijemput dan dibawah pergi oleh pak guru sebut saja inisial SR ke konternya di salah satu tempat di Niki-Niki sehingga baru di antar pulang jam 4 subuh.

Lanjut pendiri SMK Kristen (pelapor) dalam tulisannya menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh oknum guru dan siswa tersebut adalah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku bahkan sangat bertentangan dan merusak nama baik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Yayasan Tois Neno, Marwa Lembaga Pendidikan Kristen serta orang tua anak tersebut.

Lanjutnya, “bahwa lembaga-lembaga pendidikan kristen merupakan cerminan kristus sehingga setiap guru, pegawai dan siswa-siswi memiliki kewajiban moral untuk menjaganya,” tulis Pelapor yang adalah salah satu pengacara di kab. TTS.

Agustinus T. K. Banamtuan, S.H mengatakan bahwa perbuatan oknum guru tersebut di atas telah melanggar undang-undang RI No. 23 Tahun 2022 dan UU RI No. 35 Tahun 2014 kususnya pasal 1 ayat 2 mengatakan hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara dan pemerintah.

Pasal 1 ayat 15a yang mengatakan kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual dan atau penelantaran termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Ditambahkan pelapor bahwa perbuatan oknum guru tersebut juga bertentangan dengan undang-undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen antara lain:

“Pasal 1 ayat 1 mengatakan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar membimbing, mengarahkan, melati, menilai dan mengevaluasi pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah,” jelasnya.

Sang pendiri sekolah (pelapor) menambahkan lagi bahwa tindakan oknum guru tersebut bertentangan dengan kode etik guru Indonesia.

“Dalam melaksanakan profesi, guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa kode etik guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan berprilaku yang mengejewantahkan dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putra-putri bangsa,” tulisnya.

Dalam tuntutannya, Pendiri sekolah (pelapor) menyampaikan hal – hal :

Bahwa oknum guru berinisial SR diproses sesuai dengan hukum yang berlaku dan diberhentikan dengan tidak hormat dari SMK Kristen tersebut sejak surat ini disampaikan sebab perbuatan guru tersebut persis seperti manusia yang merusak dan membunuh masa depan anak-anak bangsa (predator) juga mencoreng nama baik orang tua korban, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Yayasan Tois Neno

Ketua yayasan Tois Neno Martinus Banunaek. BA, ketika dihubungi awak media via jaringan whatsapp pribadi sekitar Pukul 09:32 Wita tidak merespon hingga berita ini diturunkan.

Pos terkait