Skenario Pembunuhan Astri Manafe dan Lael Maccabe Sungguh Sadis

  • Whatsapp
Christo Kolimo (Koordinator Umum Aliansi Peduli Kemanusiaan)

Kota Kupang, Salamtimor.com — Koordinator Umum Aliansi Peduli Kemanusiaan, Christo Kolimo kepada media ini menyampaikan bahwa skenario pembunuhan Astri Manafe dan Lael Macabe sungguh sadis.

Sejak Desember 2021, kami (Aliansi) menduga bahwa 60% rencana pembunuhan Astri dan Lael dimulai dari ide sang isteri (Ira Ua) yang dendam kepada korban karena berselingkuh dengan suaminya, Randy Badjihe.

Fakta ini bisa terungkap melalui chat Ira Vs. Astrid yang beredar pasca kematian kedua korban. Dari isi chat ini, Ira rupanya sudah menaruh dendam kesumat yang pada akhirnya harus dibayar dengan dua orang nyawa manusia (Astrid dan Lael).

Namun sebelum sampai pada menghabisi kedua korban, rupanya rencana pembunuhan ini disusun sangat terencana oleh para pelaku dengan berkonsultasi bersama kerabat, sahabat dan tidak lupa oknum.

Bagaimana hubungannya? Mari kita analisis satu per satu……

Pertama: Sewaktu kecil pernahkah kalian membaca atau menonton film Ditektif Conan dalam membongkar kasus-kasus pembunuhan? Yahhh,, alur ini dimulai dari kenalan, dendam, penyusunan skenario, proses jebakan menuju pembunuhan sampai pada menghilangkan jejak. Kalaupun ketahuan, maka ada rencana lain juga yang telah disiapkan kalau sampai masuk persidangan.

Ini juga menjadi pembelajaran penting bagi para pelaku Penkase. Mereka menyiapkan alur sedemikian rupa hingga masuk proses persidangan. Penyusunan skenario biasanya susah dapat klimaks kalau belum bersentuhan dengan orang yang menangani kasus pembunuhan. Walaupun ini hanya bersifat dugaan, tapi saya sangat yakin karena kita sama-sama awam dalam kasus pembunuhan.

Bagaimana menyusun jebakan? Bagaimana proses eksekusi? Bagaimana teknik menghilangkan barang bukti? Bagaimana menyusun skenario seolah-olah tidak terjadi sesuatu? Bagaimana melakukan second opinion dimedia sosial khususnya facebook? Bagaimana memberi diri membela 100% kejahatan? Bagaimana kekompakan dalam menjawab isu-isu? Bagaimana menyerang para pencari keadilan? Bagaimana mengamankan posisi? Bagaimana melegalkan standar ganda dalam argumen bahkan tindakan? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang bisa ditambahkan sendiri…..

Berangkat dari pertanyaan tersebut, mari kita mengingat kembali siapa-siapa yang “pasang badan” untuk membela tersangka dalam kasus Penkase tanpa pengecualian. Ingat….! Tanpa pengecualian.

Untuk bagian ini, saya lupa nama orang dan akun-akun yang biasanya counter attack jadi mohon bantuannya untuk sebut nama-nama yang terkait. Saya cuma mengingat: Oma I, Oma I, RS, RR, HN, PS, K, dan lainnya sekali lagi lupa. Dugaan saya, mereka membela karena hubungan kerabat dan keyakinan atau…………. (Lanjutkan sendiri).

Lalu dimanakan orang-orang itu setelah Ira Ua tertangkap?…. Apakah bisa dihadirkan sebagai saksi? Saya yakin Jaksa dan Hakim tidak mungkin mengabaikan hal ini dengan petunjuk dan fakta persidangan pastilah mereka akan diminta menjadi saksi.

Ohh lupa! Ternyata salah seorang oknum yang bertugas di RS Bayangkara sudah disebutkan sebagai salah satu saksi dalam persidangan kemarin. Memang namanya tidak disebutkan tapi kita bisa membayangkan “siapa” dia sebenarnya. Naketi bos!!!

Kedua: Plan A Gagal Total alias Gatot. Plan B juga sama, Amblas.. Hahhahaha,, ketawa dulu bos. Eitttssss jangan “lengah” diingatkan oleh salah seorang teman baik. Masih ada Plan C bahkan plan D – Z kalau diperlukan.

Terbukti, disaat saksi-saksi lain mengatakan “lupa-lupa dan lupa”, ada seorang saksi dipersidangan kemarin bersaksi agak “lurus” tidak sesuai skenario. Uhhhhh raut muka para “teman” sejagat berubah. Keringat dingin. Kita tinggal menunggu yang mulia destroyer “SM” bersaksi hari Kamis ini! Apakah masih pada skenario atau sudah sadar dan jujur dengan mengingat ada buah hati yang harus dibesarkan menyambut masa depan. Pasti dia akan membaca tulisan ini, sekali lagi saya ingatkan saudari SM bahwa “Kebenaran bisa kalian salahkan, tapi kebenaran tidak bisa di KALAHKAN”.

Ketiga: Mari menelisik keterlibatan saudari SM. Sedari awal kasus ini, dia sendiri yang mengakui bahwa dia tahu siapa mayat tersebut, siapa pelakunya, siapa yang bermain dalam kasus ini. November 2021 dia bernyanyi riang sampai menunjukan kaca rumah yang bertuliskan “You Die”.

Bahkan SM pernah sekali melakukan inbox kepada seorang pencari fakta dan ingin memberikan semua keterangan. Ehhhh ternyata tidak lama setelah itu dia di “amankan” terlebih dahulu. Entah siapa yang melakukan pengamanan tersebut tapi dia diamankan agar menyangkal semua pernyataan sebelumnya. Beliau pun ikut skenario tersebut dengan muncul di Podcast “Saksi Kunci” tanpa dosa.

Fakta persidangan membongkar sesuatu yang baru diketahui publik; sebuah Grup WA “27 Agustus 2021” yang hanya memuat beberapa orang. Grup WA yang pernah berganti nama karena satu dan dua hal yang mereka tahu sendiri. Tapi fakta lain adalah grup tersebut dibuat oleh SM? Diganti nama juga oleh SM! Mengapa oh mengapa?

Jika kembali ke awal, korban dan SM adalah teman rasa sahabat yang berbagi suka duka dan kini berduka terus. Keterlibatan SM bukan tanpa sebab dalam kasus ini, bersama Sonya, Arca, Bayu, dkk lainnya. Dari proses laporan ke IU berdasarkan screenshoot WA Web, patut diduga, kemungkinan besar SM berada di lokasi ketika “Penkase Berdarah”.

Patut diduga juga dia bagian dari Penyusunan skenario. Diduga pula SM turut serta dalam proses-proses lain sehingga saya yakin sekali dalam proses persidangan dia akan “lupa ingatan” dalam banyak pertanyaan Jaksa dan Hakim. Yahhh,,, dugaan ini membuat kita tidak sabar sampai ke Pengadilan nanti.

Keempat: Dugaan terbesar adalah beberapa oknum yang terlibat ini bukan orang biasa-biasa. Kita mulai dari proses pembunuhan sampai menghilangkan barang bukti. Bagi saya, hanya orang yang mengerti forensik yang bisa mengetahui cara-cara tersebut; dibunuh dengan benda tumpul atau tajam, mayat dimasukan ke plastik hitam untuk percepat proses pembusukan, menghilangkan barang bukti, bahkan mungkin saja memanipulasi berkas otopsi, dll. Lalu penemuan mayat dan diotopsi dalam RS Bayangkara dan kabar itu diberikan kepada seorang saksi yakni “SM” menurut salah seorang saksi dalam persidangan kemarin. Mereka tidak sendiri.

Dugaan ini, memaksa kita untuk mari membuat perbandingan kasus Tinus Perko “mudah ditemukan” dan Penkase “susah ditemukan”. Kejanggalan terbesar adalah antara mudah dan susah itu bukan versi Nitizen dan Pencari Keadilan, tapi oleh mereka sendiri yang terlibat di dalam konspirasi.

Tanpa pendasaran bukti yang kuat, memaksakan diri untuk ajukan berkas ke Kejaksaan tanggal 28 Desember 2021! Akhirnya berkas harus bolak balik sebanyak 4 kali sampai tanggal 23 Maret 2022 baru dinyatakan lengkap. Berkas yang bolak balik tersebut diibaratkan “piring kotor” yang ditolak untuk dicuci: yang makan siapa? Yang cuci siapa? Yahh begitulah kira-kira konspirasinya.

Bagi saya, orang yang paling bertanggungjawab untuk berkas yang bolak-balik ini adalah orang lama yang telah berpindah tugas pada waktu yang sama berkas dimasukan dan juga seorang satu tingkat dibawahnya yang telah dipromosi. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu tapi yang pasti tanah Timor ini keramat. Secepatnya NAKETI.

Kelima: Saya coba konsultasi hal ini kepada beberapa praktisi hukum tentang “PH” pelaku karena memang saya awam soal hukum. PH Pelaku RB sama dengan PH pelaku IU. Sejak awal mereka bersikukuh mengatakan ” Pelaku Tunggal” sampai akhirnya ada pelaku lain.

Pelaku tunggal kalau menurut dugaan saya bagian dari skenario plan A dan B (pada tulisan sebelumnya). Ketika banyak kecurigaan kepada IU, mereka tetap berpegang teguh pada pelaku tunggal yakni RB. Banyak orang heran dan terheran-heran, ada PH yang tidak mau ada pelaku lain? Padahal masyarakat awam saja yang sebagai Nitizen dan Pencari Keadilan sangat yakin bahwa pasti ada pelaku lain.

Dugaan ini membuat kita bertanya-tanya; Sebenarnya mereka ini PH dari RB atau IU? Siapa sebenarnya yang dilindungi antara RB atau IU? Siapa yang melakukan skenario ini? Sejak awal kasus atau dalam proses kasus berjalan? Siapa yang mem….. Uppppsss ini ranah profesi jadi terserahlah. PH setahu saya tugasnya membela hak-hak pelaku sampai ada pelaku lain pasti bersyukur sekali karena orang yang dibela tidak sendiri. Tapi ini memang keanehan.

Satu catatan penting adalah ketika PH membeberkan cerita BAP versi pelaku kepada masyarakat tanpa diuji kebenarannya dipengadilan atau sebelum terjadinya fakta persidangan. Saya pikir ini sudah kelewat batas. Sama sekali tidak menghargai perasaan dari Keluarga Korban yang sedang berduka. Ini berulang kali terjadi baik dalam Podcast maupun wawancara langsung. Mohon maaf tapi profesi tanpa hati nurani itu jauh dari perjuangan keadilan. Semoga tidak kena kode etik beracara.

Keenam: Disimpan untuk kepentingan Episode ketiga saja yahhhh namanya juga Sinetron……

Ot Seo (Wartawan STC)

Pos terkait