Sukses Di Tanah Papua, Ingin Kembali Membangun Kampung Halaman

  • Whatsapp

SoE, SALAMTIMOR.COM. Waktu dua jam terasa sangat singkat untuk menggali ide-ide cemerlang dari seorang Purnawirawan POLRI yang mengabdi selama 24 Tahun di Korps Bayangkara tersebut. Ya, Bapak Simon Faot salah satu putera TTS yang bertugas selama 42 Tahun dipulau kepala burung, tapi masih sangat fasih berbicara bahasa dawan Timor. Ditemui dikediamannya yang cukup megah di Desa Tetaf, mantan Kanit Lantas POLRES Mimika ini hanya mengenakan celana pendek yang terlihat sangat sederhana dan terus mengunyah siri pinang, beliau menjawab pertanyaan dengan rilex dan lugas. Berikut petikan wawancaranya.

Shalom, selamat pagi Bapak Faot bagaimana kabarnya pagi ini!

Syallom, selamat pagi adik. Puji Tuhan, kabar baik dan sehat. Selamat NATAL dan Tahun Baru untuk pimpinan dan staf Tabloid Timor Post.

Saya dengar anda memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai calon Bupati?

Iya, benar adik. Ada niat untuk mencalonkan diri entah nanti sebagai Calon Bupati/Wakil Bupati tergantung dari situasi dan dinamika yang nanti berkembang. Dan yang terpenting tentu saja ekseptasi public/masyarakat terhadap saya seperti apa. Tentu public akan melihat dan menilai dari perspektifnya masing-masing. Tapi saya sudah memantapkan langkah dan niat menuju Pilkada TTS di Tahun 2018.

Mengapa anda memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati/Wakil Bupati?

Pertanyaan yang bagus adik. Yang jelas bahwa keterpanggilan membangun TTS tercinta ini merupakan motivasi yang melandasi keputusan ini. Kondisi yang saya rasakan dan alami dalam konteks “motivasi”, tentu dialami dan dirasakan juga oleh putra-putri TTS yang lain, entah yang saat ini tinggal di TTS ataupun diluar TTS. Motivasi tersebut yang  mendorong kita (termasuk saya) untuk turut serta mengambil bagian dalam pesta Demokrasi Tahun 2018 nanti. Tetapi untuk mewujudkan motivasi tersebut, butuh kemauan dan kerendahan hati dari setiap pribadi. Banyak sekali orang yang menyimpang dari motivasinya ketika mendapat kesempatan memimpin. Ini yang harus diwaspadai oleh masyarakat agar tidak kecewa dikemudian hari. Keinginan saya untuk kembali ke TTS dan membangun TTS sebenarnya sudah lama. Namun selama ini terbentur tugas sebagai Anggota Kepolisian, Anggota DPRD Mimika dan tugas lain yang menjadi tanggungjawab saya di tanah Papua.

Motivasi seperti apa yang melandasi keputusan anda mencalonkan diri pada Pilkada Tahun 2018 nanti dan hal-hal apa yang anda lihat dari kepemimpinan saat ini yang masih harus diperbaiki oleh pemerintahan ke depan!

Motivasi ini tentu berdimensi jamak. Konkritnya akan kita rumuskan dalam Visi-Misi dan Program Kerja jika Tuhan mengijinkan saya dan mendapat dukungan (baik dari masyarakat ataupun dari partai politik) sebagai salah satu kandidat calon nanti. Tapi secara garis besar dapat saya sampaikan bahwa kondisi saat ini terutama sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan areal-areal pertanian dan peternakan masih sangat jauh dari harapan yang berimpilkasi pada tersendat-sendatnya proses pembangunan, akibatnya kita kalah bahkan tertinggal sangat jauh dari kabupaten-kabupaten tetangga (TTU, Belu dan Malaka). Kondisi-kondisi yang memprihatinkan inilah yang mendorong dan memotivasi saya untuk turut berpartisipasi dalam bursa Pemilukada kali ini. Sementara kepemimpinan saat ini yang jelas bahwa pasti ada keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai, namun ada juga yang belum tercapai. Yang belum tercapai inilah yang akan kita upayakan untuk wujudkan. Semisal pelayanan RSUD SoE yang memicu banyak protes karena berbagai hal mulai dari administrasi yang berbelit (ingat RSUD tidak boleh terlalu administratif, nyawa diutamakan. Administrasi kemudian setelah nyawa tertolong),  keterbatasan/ketiadaan obat-obatan, sering rusaknya fasilitas Radiologi dan yang paling terakhir dan heboh adalah penahanan jenazah yang mendapat sorotan media nasional (Kompas) dan lain-lain. Kemudian ruwetnya pembuatan identitas di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang katanya (yang saya dengar) untuk mencetak KTP/Akta/KK butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Fasilitas pendidikan khususnya sekolah-sekolah Kristen yang masih jauh dari layak. Bantuan-bantuan pertanian maupun peternakan yang belum mampu menjadikan petani-petani kita bisa surplus panen dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang menjadi mimpi saya untuk dibenahi seandainya diberikan kepercayaan oleh masyarakat TTS. Cara membenahinya sudah saya pikirkan. Saya akan berkeliling TTS untuk lebih dekat merekam pendapat atau harapan-harapan masyarakat. SILPA kita setiap Tahun cukup tinggi lho. Di Tahun 2015 saja mencapai 244 Miliar Rupiah. Angka yang sangat fantastis. Rakyat butuh sentuhan pembangunan yang nyata, malah kita tidak mampu mengelola anggaran yang disiapkan oleh Negara. Tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa Pemerintahan sekarang tidak mampu, tetapi apabila mendapat kepercayaan masyarakat maka hal pertama yang saya lakukan adalah menggenjot kinerja SKPD dalam pengelolaan dan penyerapan anggaran sehingga tidak ada kesan/stigma “SKPD impoten dalam penyerapan anggaran”.

Cara membenahi seperti apa yang akan anda pakai untuk mewujudkan hal-hal yang sudah anda singgung!

Cara paling sederhana adalah pertama-tama harus memiliki keberanian, ketulusan dan kejujuran. Yang kedua harus memiliki  “master plan” atau sering disebut rencana induk yang betul-betul terencana dan sistematis, bukan rencana abal-abal. Untuk itu SWOT analisis sangat membantu dalam merumuskan konsep pembangunan kesejahteraan. Semua ini bertumpu pada kehandalan SDM, bukan hanya SDM yang berasal dari birokrasi, tapi stakeholder perlu dilibatkan dalam perumusan rencana. Bukan hanya sekedar dilibatkan, tetapi diberi peran. Perannya seperti apa? Ya, nantilah akan saya uraikan satu per satu kalau sudah ditetapkan menjadi calon Bupati/Wakil Bupati oleh KPUD sebagai lembaga yang berwenang. Atau kalau sudah ada Partai Politik yang punya kesamaan Visi-Misi dan Program Kerja dan siap mendukung untuk bekerja sama ya tentunya akan kita publikasikan cara kita membangun TTS. Untuk sementara, sekali lagi saya masih harus menjelajahi Kabupaten TTS untuk lebih tahu kebutuhan masyarakat itu seperti apa, atau apa yang dikehendaki oleh masyarakat disetiap wilayah. Apalagi Kabupaten TTS cukup luas, dan kalau saya tidak salah mempunyai luas 3.995 Km2 yang terdiri dari 3 Suap Kerajaan (Amanuban, Amanatun dan Mollo), 32 Kecamatan, 266 Desa dan 12 Kelurahan

Kira-kira anda akan maju melalui jalur Independen atau Koalisi Partai Politik?

Komunikasi masih saya bangun dengan rekan-rekan Ketua Partai Politik dan juga tim saya sementara bekerja untuk jalur Perseorangan. Kita lihat saja dinamika yang berkembang ke depan nanti seperti apa. Yang jelas bahwa kita saat ini berusaha untuk memenuhi syarat formal yuridis sebagaimana diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 Tentang  Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-Undang. Pemenuhan syarat normative ini akan sangat menentukan konstalasi politik menjelang pemilihan Bupati/Wakil Bupati pada Juni Tahun 2018 di Kabupaten TTS.

Strategi apakah yang anda miliki untuk memenangkan pemilihan Bupati/Wakil Bupati?

Bagi saya tidak ada rumus baku dalam politik. Sebagai orang beriman saya sangat percaya bahwa pemilihan dengan system langsung seperti sekarang ini, Tuhan punya otoritas 90% dalam keterpilihan seseorang, disamping restu dari alam semesta dan tentu saja dukungan dari masyarakat yang digerakan oleh Tuhan.  Saat ini saya hanya focus melakukan yang terbaik dari diri saya. Membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan dari saya sepanjang bisa dibantu maka pasti saya akan bantu. Kuncinya seperti yang sudah saya singgung diatas, keberanian, kejujuran dan ketulusan. Itu saja strategi saya. Selebihnya milik Yang Maha Kuasa.

Lalu apa yang anda lakukan agar masyarakat percaya kepada anda?

Yang jelas dengan melakukan sosialisasi secara intens dan marathon ke pelosok-pelosok, bertemu masyarakat, berdiskusi dan tidak memberikan bualan kosong atau banyak janji yang muluk-muluk. Saya akan salalu realistis, percaya dengan apa yang ada pada saya. Tentu banyak orang bertanya, apa yang sudah saya buat untuk TTS? Tapi saya ingin melakukan apa yang sudah saya lakukan di Papua untuk ditularkan ke TTS. Kalau di Papua saja saya berhasil, tentu di kampung sendiri saya akan buat lebih berhasil lagi. Saya memang belum berbuat banyak untuk TTS, kalau saja saya ada di TTS untuk kurun waktu yang sama di Papua, maka mungkin saja karya-karya yang saya buat di Papua pasti saya buat juga di TTS kan, dan hasil-hasil yang sudah dinikmati oleh masyarakat Papua pasti dinakmati juga oleh masyarakat TTS. Bukankah ada pepatah, “dimana bumi di pijak, disitu langit dijinjing” atau Firman Tuhan melalui nabi Yeremia pasal 29 : 7 yang berbunyi “Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Waktu Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, orang tidak bertanya apa yang sudah mereka buat untuk DKI, tapi orang melihat keberhasilan mereka di Solo dan Belitung. Dan terbukti Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok pada masa kepemimpinannya mampu merubah wajah Ibu Kota. Ini menunjukan bahwa masyarakat sekarang ini masyarakat yang sudah sangat demokratis, cerdas memilih, memilih menggunakan akal, pikiran dan hati. Bukan bermaksud untuk menyamakan masyarakat pemilih di Jakarta dan di TTS. Saya sadar bahwa rasionalitas pemilih di Jakarta beda dengan pemilih yang ada di TTS. Tapi apa salahnya dicoba, kan tujuan dari kita membentuk relawan dan tim kerja untuk mencerdaskan pemilih. Jadi anggapan-anggapan bahwa apa yang sudah saya buat di TTS bisa dengan sendirinya di counter. Saya melihat bahwa belum ada pembangunan yang spektakuler atau luar biasa di TTS sejak zamannya Bapak Cornelis Tapatab dan Alh. Piet A. Tallo.

Jika anda berhasil meyakinkan Partai Politik dan mendapat dukungan, atau berhasil maju dari jalur Independen, apakah anda yakin akan memenangkan pemilihan?

Kalau bicara soal keyakinan, saya tidak mau terlalu percaya diri akan memenangkan pemilihan. Nantinya disangka sombong. Yang pasti bahwa saya sudah mempersiapkan diri untuk maju pada Pilkada TTS Tahun 2018 dengan semua konsekuensi yang mengiringi.

Apakah yang akan anda lakukan jika anda terpilih menjadi seorang Bupati/Wakil Bupati!

Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, membenahi hal-hal yang masih menjadi pemicu terhambatnya pembangunan, pelayanan kemasyarakatan, kesenjangan sosial dan masih banyak lagi ketimpangan yang akan menjadi fokus pembenahan ke depan.

Lantas, apa yang anda lakukan jika anda gagal memenangkan pemilihan Bupati/Wakil Bupati? Apakah anda akan mencalonkan diri lagi?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tergantung dari situasi. Tapi kalau tidak bisa jangan dipaksakan. Karir ini bukan untuk mencari rejeki, tapi ketulusan mengabdi. Pengabdian itu bisa melalui banyak bentuk, tidak harus menjadi Bupati/Wakil Bupati. Tetapi kewenangan akan jauh lebih besar apabila menjadi Bupati/Wakil Bupati. Rencananya bulan Agustus ini saya akan mulai dengan program peternakan sapi. Puji Tuhan, ada 100 ekor sapi yang akan saya kandangkan. Sementara masih persiapan pakan. Kotoran sapi tersebut akan kita olah menjadi biogas. Di Papua, pembuatan pupuk dan biogas itu salah satu hobi saya.

Jika anda mencalonkan diri sebagai Bupati, kira-kira siapa yang anda bidik sebagai calon Wakil Bupati? Sebaliknya, jika anda menjadi calon Wakil Bupati, maka siapa yang akan menjadi calon Bupatinya!

Itu semua saya serahkan ke tim saya dan tim sementara bekerja menganalisa semua kemungkinan. Jika tiba saatnya akan kita publikasikan. Pada prinsipnya pasangan calon harus mampu bekerja sama, mempunyai Visi-Misi yang sama, spirit yang sama dan menjaga kekompakan baik semasa kampanye, terpilih dan menjalankan roda pemerintahan. Pengalaman selama ini pasangan calon hanya harmonis di saat kampanye, tapi mencari jalan sendiri-sendiri ketika terpilih dan menjalankan roda pemerintahan. Itu yang akan saya hindari. Budaya bekerja sama harus terus dipupuk dan dikembangkan. Komunikasi politik menjadi penting dalam konteks ini, saling memahami dan menghormati itu menjadi kunci.

Baiklah. Terima kasih atas waktu dan kesempatan anda untuk diwawancarai!

Iya, sama-sama adik. Tuhan Yesus memberkati.

(Sumber: Hasil wawancara Yan Faot dan Bapak Simon Faot tahun 2016 silam)

Artikel ini pernah tayang di Media Cetak TIMOR.POST dan FAKTA TTS 

Pos terkait