TERKAIT PEMBUKAAN RUANG KEPALA SEKOLAH, INI KLARIFIKASI HERMAN KEBU. PIHAK YANG DI TUDING SEBAGAI OKNUM TIDAK DI KENAL

  • Whatsapp
Herman Kebu (Pihak yang dituding sebagai oknum tak dikenal oleh). Foto: ST, 14/03/2021

SoE, SALAMTIMOR.COM – Kejadian di bukanya ruangan Kepala SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana pada hari Jumat, 12/03/2021 sekitar pukul 11.46 Wita yang berujung laporan ke polisi akhirnya di mediasi oleh pihak kepolisian.

Herman Kebu, pihak yang dituding sebagai oknum tidak dikenal saat pembukaan ruang Kepala Sekolah memberikan tanggapan terkait polemik yang terjadi.

Di temui dikediaman keluarga Almarhum Semy Laoe, Herman Kebu memberikan klarifikasi terkait tuduhan yang di sangkakan.

Menurutnya, pemberitaan terkait oknum yang tidak dikenal saat pembukaan ruang Kepala Sekolah menurut Herman itu tidak benar.

“Dua PLT Kepala Sekolah yang melaporkan kami mengetahui kami ini siapa. Yang ada disana saat itu, saudara Bento Suares yang merupakan security SMP dan SMA, Filmon Kana juga penjaga Sekolah SMA, Ricard Pingak pegawai Tata Usaha, Dekri Anin merupakan keluarga SL menurut. Masa ibu Kepala Sekolah tidak mengenal orang -orang ini.” Ucap Herman.

Herman menambahkan bahwa, “saya ini dipercayakan oleh keluarga untuk mengurus segala keperluan keluarga dan termasuk urusan yang berhubungan dengan almarhum Semy Laoe. Karena menurut kami sebagai keluarga belum ada Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah atau informasi adanya PLT Kepala Sekolah yang baru. Sampai sekarang belum ada informasi yang disampaikan kepada kami selaku pihak keluarga almarhum yang meningal dengan status sebagai Kepala Sekolah.” Kata Herman.

Lanjutnya, “Kalau sudah ada PLT mengapa hal ini tidak di minta secara baik-baik. Tidak ada informasi ke kita, baik lisan atau pun tertulis. Ini milik sekolah kami tau aturan, mari kita bicarakan baik-baik. Kenapa tidak disampaikan secara baik namum membentuk opini publik lewat media sosial dan berujung pada pelaporan di polisi.”

Terkait pemberitaan kemarin sampai pada pelaporan dan akhirnya dimediasi oleh polisi karena menurut polisi ini cuman mis komonikasi saja.

“Kami hanya ingin memperbaiki plafon yang berada di ruang Kepala Sekolah karena saat anggota keluarga berada di sana melihat ada jejak kaki di ruang tersebut, maka kami pun menindaklanjuti untuk memperbaiki. Tidak ada maksud apa-apa.” Jelas Herman

“Yang kerjakan itu kan saudara Filmon dan Bento. Saya cuman melihat saja dan setelah di kerjakan kami pun kembali. Mereka bekerja dan disaksikan oleh pihak yang melapor. Kalau ada kecurigaan bahwa ada barang yang hilang, saat kami kembali mereka menyaksikan sendiri kami bawa apa-apa.” Terangnya.

Terkait ada informasi kalau pihak pelapor akan terus melapor, maka Herman menjawab “itu urusan mereka”.

“Kami tidak ada urusan dengan Yayasan. Tanggungjawab kita cuman dengan sekolah. Karena saat almarhum meninggal dengan status sebagai Kepala Sekolah. Mungkin ada aset yang merupakan milik sekolah yang ada di rumah almarhum kita lihat dan kembalikan untuk diserahkan ke sekolah secara baik-baik ” tutup Herman.

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait