TERLETAK DI PELOSOK TTS DENGAN BERBAGAI KETERBATASAN FASILITAS, 62 SISWA KELAS IX SMP KRISTEN 2 AMANATUN SELATAN MENGIKUTI UAS SECARA DARING

  • Whatsapp
Tampak para siswa-siswi SMP Kristen 2 Amanatun Selatan mengikuti ujian akhir sekolah secara daring.

SoE, SALAMTIMOR.COM – Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh penjuru dunia sejak tahun 2019 lalu hingga kini belum ada tanda-tanda akan melandai. Kondisi ini membawa perubahan secara drastis dalam semua aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan ujian sekolah tahun ini. Ujian yang biasanya diselenggarakan dalam bentuk tatap muka, tapi dikarenakan kondisi pandemic Covid-19 dan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, maka kebanyakan sekolah menggelar ujian secara daring (dalam jaringan).

SMP Kristen 2 Amanatun Selatan yang terletak di pelosok kabupaten TTS-NTT, tepatnya di desa Manufui, Kec. Santian, Kab. TTS dengan fasilitas penunjang seperti jaringan listrik, jaringan internet, labtob/komputer yang sangat minim dan terbatas namun tidak menghalangi pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah (UAS) bagi siswa-siswi kelas IX yang dilakukan secara daring.

Kepala SMP Kristen 2 Amanatun Selatan, Yohanis Laos, S.Pd.K

Yohanis Laos, S.Pd.K, Kepala SMP Kristen 2 Amanatun Selatan, saat ditemui di lokasi ujian, Rabu (21/4/2021), kepada media ini menyampaikan bahwa pelaksanaan UAS bagi siswa-siswi kelas IX secara daring ini dilaksanakan atas kesepakatan bersama dalam rapat dengan komite sekolah, para guru dan orang tua/wali.

Menurut Laos, “terobosan pelaksanaan UAS secara daring ini bukan untuk mencari perhatian atau sensasi dengan pihak manapun, namun hal ini dilaksanakan sebagai upaya penyesuaian terhadap perkembangan khususnya dalam dunia pendidikan yang ada saat ini.”

“Walaupun kami terbatas dengan berbagai fasilitas seperti jaringan listrik, jaringan internet (yang hanya ada ditempat-tempat tertentu), komputer/laptop maupun tablet, akan tetapi semua itu bukan menjadi penghalang untuk mencoba hal-hal baru dengan tujuan meningkatkan kompetensi para peserta didik yang ada.” jelas Laos.

Selama ini sekolahnya belum memperoleh bantuan dari pihak pemerintah. Karena itu, sekolahnya berinisiatif menggunakan dana BOS untuk pengadaan 3 unit laptop untuk sekolah dan juga infokus, namun itu masih sangat kurang.

Walaupun di tengah berbagai keterbatasan yang ada, namun ia selalu memberikan semangat kepada para peserta didik untuk terus belajar dan jadikan pengalaman di sekolah ini sebagai modal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia juga berharap ada bantuan dari pemerintah khususnya yang berhubungan dengan barang-barang tekhnologi guna mendukung proses pembelajaran di sekolahnya.

Berdasarkan data yang ada, jumlah keseluruhan peserta didik di sekolahnya berjumlah 162 orang. Sementara kelas IX yang mengikuti ujian akhir sekolah pada tahun ini sebanyak 62 orang dengan tenaga pendidik yang ada berjumlah 9 orang.

Yusri D. Kamlasi, S.Pd, Ketua Panitia Pelaksana UAS SMP Kristen 2 Amanatun Selatan.

Yusri D. Kamlasi, S.Pd, ketua panitia pelaksana UAS mengatakan bahwa, “kami melaksanakan ujian online ini karena kami mencoba untuk membuat suasana yang baru dengan tujuan untuk kembali meningkatkan semangat para peserta didik agar tidak jenuh. Semenjak adanya pandemi Covid-19, para peserta didik hanya bisa melakukan kegiatan belajar dari rumah (BDR) dan para peserta didik juga kelihatannya sudah merasa jenuh.”

Lanjut Yusri, ”Listrik disini hanya menyala dimalam hari. Karena itu, dalam pelaksanaan ujian ini para peserta didik harus mempersiapkan android mereka dengan daya baterai yang full. Namun dalam pelaksanaannya para orang tua/wali sangat mendukung dengan menyediakan genset bagi peserta didik untuk cas HP.”

“Peserta didik yang mengikut ujian sebanyak 62 orang dan dibagi dalam 3 kelompok. Setiap kelompok ditempatkan di tempat yang ada jaringan internetnya. Kelompok pertama di depan kantor desa Manufui dengan jumlah peserta UAS sebanyak 37 orang. Kelompok kedua di Meusin (desa Fatu Manufui) berjumlah 15 orang. Dan kelompok ketiga di Bihati yang masih termasuk wilayah desa Manufui juga itu ada 11 orang peserta.” jelas Yusri.

“pelaksanaan ujian secara daring ini berjalan aman dan  lancer dan semoga ini berlanjut sampai hari terakhir pelaksanaan UAS, walaupun harus mencari jaringan internet di titik-titik tertentu. Peserta didik yang mengikuti ujian memiliki android sendiri sehingga bisa memudahkan. Aplikasi yang digunakan yaitu E-ujian.” tutup Yusri.

Salah satu orang tua/wali, Yunus Sila, yang ditemui di lokasi ujian mengatakan bahwa sebagai orang tua dirinya sangat senang karena anak- anak kami walaupun di kampung tetapi mereka bisa melakukan ujian secara daring. Kami sebagai orang tua sangat mendukung pihak sekolah sehingga memfasilitasi anak-anak kami dengan membelikan mereka HP android.

“Kami senang karena di zaman dulu orang tua kami belajar pakai batu tulis. Namun karena perkembangan zaman, maka waktu itu ujian pakai kertas dan pensil. Tetapi sekarang dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat cepat, menuntut pelaksanaan ujian secara online. Maka kami sebagai orang tua punya kewajiban memfasilitasi anak-anak dengan HP android demi mendukung pelaksanaan UAS secara daring.” ungkap Yunus Silla penuh bangga.

Terkait dengan jaringan listrik dan juga jaringan internet yang belum menjangkau mereka, Ia berharap agar pemerintah juga bisa memperhatikan hal tersebut, karena  di desa Manufui belum semuanya tersentuh jaringan listrik. Pinta Silla yang diamini oleh beberapa orang tua di antaranya Yonisius Mantolas, Yesaya Mantolas, Lasarus Hala, dan Oktovianus Mantolas.

Orang tua siswa kelas IX peserta UAS tahun 2021 SMP Kristen 2 Amanatun Selatan.

Ketua Komite Sekolah, Semuel Payon, mengatakan bahwa, “kami sebagai Komite dan juga orang tua sangat mendukung gebrakan dari pihak sekolah. Prinsipnya kami selalu mendukung hal-hal baik yang mampu meningkatkan kompetensi anak-anak kami.”

Yunita Banunaek, Derni Fatu, peserta didik yang mengikuti ujian mengatakan bahwa mereka senang mengikuti ujian secara daring. Karena baru pertama kali mereka mengikuti ujian hanya dengan menggunakan android.

“Kami sangat senang ujian secara online karena lebih memudahkan kami. Hanya masih terbatas dengan jaringan. Karena itu berharap ke depan jaringan internet lebih baik lagi.” Pungkas Nita dan Derni… (Tim**)

Pos terkait