TIM KOMANDO SATGAS PEDULI NTT-KEPRI, PULANGKAN EMPAT ANAK ASAL ALOR YANG DITELANTARKAN

  • Whatsapp
Foto: Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri pose bersama. anak-anak yang ditelantarkan orang tua di Batam

Batam, Salamtimor.com—Tim Komando Satuan Tugas Peduli NTT Kepulauan Riau (Kepri) terus berkiprah untuk membantu masyarakat khususnya orang-orang NTT yang berada di Batam. Salah satu aksi nyata yang dilakukan oleh Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri adalah memulangkan anak-anak korban penelantaran oleh orang tua dari Batam ke kampung halaman di Alor, Nusa Tenggara Timur.

Berawal dari informasi yang di dapat oleh Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri bahwa ada anak-anak asal Kabupaten Alor-NTT yang ditelantarkan oleh orangtuanya (ibu kandung) yang merantau ke Malaysia. Selanjutnya Tim Komando Satgas bertemu dengan salah seorang bernama Yosep Ha’an (53), yang merupakan paman dari empat orang anak perempuan yakni, Oriance Mail (18), Imelda Mail (15), Sara Mail (13), Serlin Mail (9). Yosep datang dari Alor-NTT  ke Batam dengan tujuan menjemput keempat keponakannya, yang di duga telah cukup lama di terlantarkan sang ibu yang merantau ke Malaysia.

Di ketahui, ayah kandung dari keempat anak ini yang bernama Likius Mail telah meninggal dunia. Selang beberapa waktu sepeninggal ayahnya, ibu dari empat anak ini merantau ke Malaysia untuk bekerja. Mereka tinggal di kediaman salah satu keluarganya (Gusti Balol). Berdasarkan informasi yang di himpun dari pihak keluarga yang mengetahui adanya penelantaran ini, kemudian di sampaikanlah ke pihak keluarga di kampung (Alor-NTT).

Lalu mereka di bawa ke kediaman salah satu keluarga, yakni keluarga Musa Adang, sambil menunggu pamannya Yosep Ha’an yang hendak menjemput pulang ke kampung halaman (Alor-NTT).

Di duga keempat anak ini telah cukup lama terlantar. Diketahui, setelah di tinggal merantau oleh sang ibu, anak pertama dari Likius Mail dan Priscila Mail ini pun memutuskan untuk merantau, dengan meninggalkan ketiga adiknya di rumah Gusti Balol.

“Setiap bulan mama kirim kasi kami uang satu juta’an, tapi kami tidak pernah dapat uang itu. Kami makan nasi dan sayur kangkung saja tiap hari. Kadang kami di kasi jajan, tapi satu hari Rp. 2.000 saja”, tutur Imel.

Mengetahui hal ini, akhirnya salah seorang keluarga (Frans La’a dan istrinya, Yunita Pelang) dengan cepat menyampaikan permasalahan ini ke Ormas Himpunan Keluarga Alor (HIMKA) di Batam. Namun sayangnya, setelah di data oleh Ormas tersebut, beberapa hari kemudian Frans La’a mendapat informasi dari salah satu pengurus Ormas melalui telepon bahwa mereka tidak bisa melanjutkan untuk mengurus permasalahan terkait penelantaran keempat anak tersebut.

Sembari mengurusi proses pemulangan mereka, pihaknya sepakat untuk menghubungi Iwan Laka (Ketua PAC Satgas NTT Peduli-Kepri) dan istrinya, Yani Kaka (Anggota Satgas) yang juga merupakan salah satu keluarga yang di ketahui sering membantu orang-orang yang mengalami kesusahan agar menampung keempat anak tersebut untuk  sementara waktu.

Permasalahan ini akhirnya di sampaikan ke Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri untuk menanganinya. Tim Satgas kemudian berkoordinasi dengan beberapa pihak keluarga terkait untuk memulangkan Pamannya (Yosep Ha’an) dan keempat anak tersebut ke kampung halamannya (Alor-NTT).

Foto Bersama Tim Komando Satgas dan Korban Terlantar, usai Doa Bersama.

Tim Komando Satgas kembali mengkomunikasikan hal tersebut dengan Ormas HIMKA namun pihak HIMKA mengembalikan kepada Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri untuk penanganan lebih lanjut.

Permasalahan ini kemudian di lanjutkan ke Pemerintah Daerah Kabupaten Alor (Bupati Alor) dan sudah ada persetujuan dari pihak PEMDA Alor untuk pemulangan korban penelantaran ini ke Alor. Biaya yang disiapkan untuk proses pemulangan anak-anak korban penelantaran tersebut sebesar Rp. 15.000.000.

“Kita sudah komunikasi dengan PEMDA Alor, sebenarnya menurut informasi terakhir yang kami dapatkan, Bapak Bupati sudah menyetujui anggaran pemulangan empat orang anak bersama pamannya sebesar Rp. 15.000.000, dan sudah ada disposisi dari beliau (Bupati Alor) ke bagian KESRA untuk dilanjutkan ke bagian Keuangan. Namun bagian Keuangan belum memproses dengan alasan tidak ada pos anggaran untuk itu. Menurutnya mereka bingung mau ambil anggaran dari mana, sudah tutup buku dan pembahasan APBD sudah lewat. Mereka bilang kalau harus mengadakan pertemuan lagi untuk membahas hal ini. Tapi tidak tau kapan. Sementara anak-anak makin lama, makin terganggu juga kondisinya,” Tutur Musa, Ketua DPD Satgas Peduli NTT-Kepri di Batam.

Tim Komando Satgas kemudian bergegas untuk mengambil langkah cepat dalam hal pemulangan korban penelantaran ini ke kampung halamannya (Alor-NTT), dengan menggunakan dana swadaya dari Ormas Satgas Peduli NTT-Kepri serta meminta bantuan kepada beberapa pihak yang ingin membantu secara pribadi.

Ketua DPD Satgas Peduli NTT-Kepri, Musa Mau, M.Pd mengungkapkan bahwa pihaknya (Satgas Peduli NTT-Kepri) terpaksa mengambil langkah cepat dengan mengumpulkan dana seadanya untuk pemulangan para korban.

“Dana yang awalnya disepakati dengan PEMDA Alor tidak bisa dicairkan dengan alasan tutup buku dan harus adakan pertemuan kembali dengan Bupati. Sementara sekarang lagi proses ujian akhir. Anak-anak tidak bisa mengikuti ujian di karenakan mereka sudah mengambil surat pindah dari sekolah di Batam ke Alor dan berharap mereka bisa melanjutkan sekolahnya di sana dan mengikuti ujian. Sekarang kalau sudah lewat masa ujian, lalu bagaimana nasib mereka nanti di Alor.” Ujar Musa saat di wawancarai.

Lanjutnya, “salah satu alasan kenapa kita pulangkan mereka dengan kapal laut kemarin, karena ada juga orang tua (Paman ke’empat anak tersebut) yang ikut terlantar dengan anak-anak ini. Istrinya sedang sakit-sakitan di kampung. Selain itu, kondisi bapak ini juga cukup memprihatinkan. Kadang-kadang tidak mau makan dan minum  karena memikirkan kondisi istrinya di kampung yang sedang sakit. Kita juga berharap dananya (maksudnya dari PEMDA Alor) nanti tetap dicairkan meskipun anak-anak sudah tiba di sana untuk kelanjutan hidup anak-anak korban penelantaran ini. Karena dana yang di gunakan sekarang itu hasil swadaya Tim Komando Satgas Peduli NTT-Kepri.” pungkas Musa.

Alhasil, keempat anak dan orang tua yang menjadi korban penelantaran itu, sudah di pulangkan dari Batam ke Alor pada pada Jumat, (10/11/12) kemarin.

Foto: Pastor Antonius Faot, Cs

Pastor Antonius Faot, Cs kepada media ini menyatakan dan berharap kepada semua paguyuban bahwa, “semestinya setiap peguyuban/perkumpulan masyarakat asal NTT yang ada di kota Batam, agar lebih bertanggung jawab secara penuh terhadap anggota-anggotanya. Terkait anak-anak asal Alor yang terlantarkan di Batam-KEPRI, Seharusnya hal tersebut merupakan tanggung jawab Himpunan Keluarga Alor (HIMKA) di Kota Batam. Kalau tidak untuk apa fungsi dan tujuan sebuah organisasi.” Tegasnya.

Lanjutnya, “Pemerintah Daerah PEMDA Alor) harus lebih pro-aktif dalam bidang kemanusiaan. Pemerintah harus lebih peka dan menjaga marwah atau jati diri lewat hal-hal seperti ini (persoalan kemanusiaan). Ini bukan soal pencitraan, tetapi masalah tanggung jawab. Sadar atau tidak, kami dari SATGAS NTT PEDULI di kota Batam-Kepulauan Riau, sedang mengajak dan menggugah PEMDA Alor untuk melihat setiap kasus kemanusiaan dengan hati nurani. Kami juga berharap agar semua bentuk birokrasi yang menghambat pelayanan kemanusiaan agar dipangkas sehingga tidak terkesan berbelit-belit. Bupati Alor harus tegas dalam mengambil sikap karena ini menyangkut nasib anak-anak bangsa khususnya Alor yang terancam masa depan mereka.” Tutup Pastor Tony Faot.

(Sumber: urbannews.co.id)

Pos terkait