TINGGGINYA ANGKA KEMATIAN PASIEN COVID-19 DI TTS, UKSAM SELAN PERTANYAKAN KINERJA DAN PELAYANAN RSUD SOE DAN MINTA PUBLIK DUKUNG DPRD BENTUK PANSUS

  • Whatsapp
Keterangan Foto: Dr. Uksam B. Selan, S.Pi, MA (Ketua Komisi I DPRD TTS).

SoE, SALAMTIMOR.COM – Meningkatnya angka kematian pasien Covid-19 mendapat perhatian serius dari DPRD maupun publik. Keraguan terhadap pelayanan RSUD SoE pasca meninggalnya 11 orang pasien menjadi perbincangan hangat ditengah-tengah masyarakat.

Sampai dengan saat ini, total kasus Covid-19 di TTS sebagai berikut: KONTAK ERAT 1.039 kasus, dengan rincian: 193 masih dipantau, 846 selesai dipantau. SUSPEK 221 kasus, dengan rincian: 67 masih dipantau, 152 selesai dipantau, 2 meninggal. PROBABLE 4 kasus, dengan rincian: 1 masih dirawat, 0 sembuh, 3 meninggal. KONFIRMASI PSITIF 229 kasus, dengan rincian: 152 masih dirawat, 66 sembuh, dan 11 meninggal.

Dari kasus terkonfirmasi positif diatas, maka presentase angka kematian sebesar 4,80%, angka kesembuhan 28,82% dan masih dirawat sebesar 66,38%. Angka kematian masih tergolong tinggi walaupun kesembuhannya juga tinggi. Tetapi angka pasien masih terpapar juga sangat tinggi.

Uksam Selan, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten TTS saat dikonfirmasi oleh media Salamtimor.com menyampaikan bahwa, “Kita mulai pertanyakan kinerja dan pelayanan RSUD SoE dalam menangani pasien Covid-19. Angka kematian Covid-19 di RSUD SoE merupakan yang tertinggi di Indonesia. Jangan sampai pelayanan dan penanganan yang lemah sehingga menyebabkan hal ini terjadi.”

Lanjut Selan, “Kita juga dengar informasi dari keluarga bahwa ada pasien yang meninggal karena kekurangan oksigen. Mulai dari Alh. pak Amir Arifudin, Alh. pak Ady Fanda dan terakhir Alh. pak Maksi Lian. Informasi ini memang belum kita konfrontir secara resmi, tapi dari riak-riak yang ada bahwa pasien sendiri ditelantarkan dan terkesan diperlakukan tidak adil karena ada pasien Covid yang justru diprioritaskan. Sementara yang lain diabaikan dan ini kita mulai pertanyakan.” Tegas Uksam.

Lanjutnya, “Untuk mengusut ini, maka kita dorong untuk membentuk Pansus sehingga dapat menelusuri lebih jauh apakah betul ada dugaan kelalaian pelayanan di RSUD SoE, ataukah memang pelayanannya sudah sesuai standar. Hasil temuan pansus tentu tidak selamanya negative. Bisa saja dalam penelusuran ternyata pelayanan RSUD sudah sesuai standar. Tapi mungkin saja tidak sesuai standar sehingga angka kematian justru semakin tinggi. Nah ini yang oleh DPRD kita mulai menggulirkan untuk membentuk Pansus demi penelusuran lebih jauh.”

Uksam juga berharap rencana pembentukan Pansus ini dapat didukung oleh masyarakat agar secara objektif kita melihat dan memotret lebih dekat kinerja pelayanan RSUD SoE sehingga dapat menekan angka kematian dan menjawab keraguan public terhadap pelayanan RSUD. Jangan menilai bahwa pembentukan Pansus hanya untuk mencari-cari kesalahan.

“Kita berharap agar public jangan menilai pansus ini untuk mencari-cari kesalahan atau apalah, tapi bisa saja dalam penelusuran Pansus menemukan bahwa pelayanan RSUD SoE sudah sesuai standar, nah ini tentu akan kita apresiasi. Jadi kami minta dukungan public untuk Pansus cepat terbentuk agar dapat menelusuri lebih jauh dan memastikan apakah benar riak-riak keluarga korban selama ini betul atau tidak. Kalau benar, maka kita dorong perbaikan dan pembenahan di RSUD SoE, dan kalau tidak maka kita dukung RSUD SoE untuk terus melayanai sesuai standar pelayanan maksimal demi kemanusiaan.” Tutup Politisi asal PKPI tersebut.

Keterangan Foto: Arifin Lete Betty, S.Tp (Sekretaris DPC Partai HANURA Kab. TTS)

Terpisah, melalui pesan whats up kepada media ini, Tokoh Masyarakat yang juga mantan Anggota DPRD Kabupaten TTS periode 2009-2019, Arifin Lete Betty, S.Tp menyampaikan bahwa “membaca kesaksian dari beberapa keluarga pasien yang diposting (melalui media sosial), semua menyebut oksigen dan perhatian yang kurang dari para medis.” Ungkapnya.

Sambung Arifin, “bahkan ada desas-desus bahwa banyak kematian juga disebabkan karena pasien kelaparan. Sebab mereka pasien isolasi jadi tidak bisa dijenguk keluarga untuk bawa makanan yang lebih variatif sehingga mereka hanya harap menu RSUD. Sementara dalam situasi sakit, tentu lidah tidak enak untuk makan ini dan itu.”

Lanjut Betty, “Kita berharap menejemen bisa memacu irama pelayanan RSUD untuk melayani dengan pola baru sesuai tuntutan pandemic. Harus berpikir dan bertindak bahwa ini pandemic bukanlah rutinitas pelayanan dalam keadaan normal. Jadi perlu ada tindakan-tindakan diluar kebiasaan yang mungkin itu sedikit keluar dari prosedur asal bisa dipertanggungjawabkan.” Tutup Arifin yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris DPC Partai Hanura Kabupaten TTS…. (Tim)

Pos terkait