TUAN, BIARKANLAH DIA TUMBUH TAHUN INI LAGI

  • Whatsapp
Pdt. Elisa Maplani, M.Si (Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Periode 2020-2023)

Oleh : Pdt. Elisa Maplani, M.Si

(Refleksi Memperingati HUT GMIT ke 73)

(LUKAS 13: 6-9)

“TUAN BIARKANLAH DIA TUMBUH TAHUN INI LAGI”. Inilah permohonan atau doa seorang hamba penggarap kebun anggur kepada tuannya. Yesus menyampaikan perumpamaan ini terkait dengan pohon ara yang tidak berbuah.

Perumpamaan ini jelas berlatar-belakang dunia pertanian Israel kuno. Para petani Israel zaman dahulu selalu menanam pohon ara di sela-sela pohon anggur sebagai tanaman pelindung.

Pohon ara bagi penduduk Israel memiliki makna yang sangat penting:

Pertama, Pohon ara adalah simbol kemakmuran hidup.

Pohon ara memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dengan nilai jual yang tinggi, para petani Israel dapat memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Buah pohon ara juga selain untuk dimakan dapat dipakai sebagai bahan baku obat-obatan untuk kepentingan penyembuhan berbagai penyakit.

Kedua, Pohon ara simbol pemeliharaan hidup.

Saat pohon ara berbuah, tanda ada pengharapan dan masa depan bagi Israel. Allah menyediakan masa depan dengan memelihara hidup mereka dan karena itu, selaku umat, israel menyambut pemeliharaan Tuhan dalam hidup dengan pujian dan ucapan syukur. Umat Israel memuji dan memuliakan Tuhan, Sang pemelihara hidup yang kekal.

Mereka percaya hari dan musim boleh berganti dan berlalu tapi kasih dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah berlalu dalam hidup. Terhadap kasih dan pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berlalu dalam hidup itu, mereka bersyukur, memuji dan memuliakan Tuhan.

Masa berbuah pohon ara sejak ditanam, memerlukan waktu 5-7 tahun. Ada yang berbuah tepat 5 tahun tapi ada yang 6 atau 7 tahun. Lebih dari 7 tahun maka bagi petani Israel, pohon ara itu akan ditebang karena dianggap tidak lagi memberikan manfaat apa-apa. Bila terus dibiarkan hidup maka akar pohon ara itu akan mematikan pohon anggur yang ada disekitarnya.

Dalam perumpamaan ini, diceritakan bahwa sudah tiga (3) tahun pemilik kebun anggur itu datang untuk mencari buah pada pohon ara itu namun pohon ara itu tidak menghasilkan buah. Artinya pohon ara ini telah melewati batas toleransi untuk menghasilkan buah.

Karena pohon ara ini didapati tuannya tidak menghasilkan buah maka pemilik kebun anggur ini merasa kesal, putus asa dan mengambil keputusan untuk menebang saja pohon ara itu. Percuma dibiarkan hidup dan tidak memberi manfaat apa-apa.

Namun pekerja atau hamba ini, dengan rendah hati datang kepada sang tuan dan menaikkan permohonan: “Tuan biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; Jika tidak, tebanglah dia (ay 8-9).

Teks bacaan Lukas 13:6-9, bila dicermati dengan baik, tidak memiliki nats paralel. Namun, bila kita membaca bagian lain dalam teks Alkitab Perjanjian Baru, kita akan menemukan kemiripan cerita tentang pohon ara yang tidak berbuah dalam Injil Matius 21: 18-22 dan Markus 11: 12-14.

Dalam Injil Matius 21: 18-19, diceritakan saat Yesus dalam perjalanan bersama para murid, Ia ingin makan buah ara karena lapar tapi pohon ara itu tidak menghasilkan buah, Yesus marah dan langsung kutuk “ENGKAU TIDAK AKAN BERBUAH LAGI UNTUK SELAMA-LAMANYA” (Mat 21:19b); Pohon ara itu langsung kering.

Begitu pula Injil Markus 11: 12-14 menceritakan hal yang sama. Manakala Yesus dengan para murid dalam perjalanan dan Yesus melihat pohon ara, lalu ingin makan tapi pohon ara itu hanya berdaun lebat dan tidak menghasilkan buah, Yesus marah dan langsung kutuk:“JANGAN LAGI SEORANGPUN MAKAN BUAHMU UNTUK SELAMA-LAMANYA (Mrk 11:14).

Dalam perumpamaan Injil Luk 13: 6-9, Tuan yang hendak makan buah ara tapi pohon ara itu tidak menghasilkan buah, Sang Tuan itu kecewa dan mengambil keputusan untuk menebang pohon ara itu. Tapi sang hamba menaikkan permohonan kepada Sang Tuan untuk memberi kesempatan setahun lagi pohon ara itu hidup, katanya: “TUAN BIARKANLAH DIA TUMBUH TAHUN INI LAGI”.

Sang tuan, mengabulkan permohonan hamba-Nya itu. Mengapa sang Tuan mengabulkan permohonan sang hamba ? Karena ada komitmen yang kuat dari sang hamba kepada tuan-Nya.

Komitmen itu adalah akan bekerja keras, cerdas dan berkualitas merawat secara khusus pohon ara itu. Hal ini nampak dalam penggunaan kata-kata kerja: Mencangkul dan memberi pupuk. Ia akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepada pohon ara itu untuk menghasilkan buah. Ada permohonan tapi tidak berhenti pada sekedar permohonan.

Ada kemauan yang kuat untuk secara serius merawat pohon ara itu supaya menghasilkan buah seperti yang diharapkan sang tuan-nya. Permohonan dan komitmen menghasilkan belas-kasihan: Pohon ara itu dibiarkan hidup setahun lagi dalam pengharapan menghasilkan buah yang dapat dinikmati.

Ada pelajaran penting yang hendak disampaikan Yesus melalui perumpamaan ini:

Pertama, Yesus hendak menekankan besarnya kasih dan kemurahan Allah dalam hidup.

Bahwa orang percaya, hidup dan berkarya di dunia ini itu bukan karena kuat dan hebatnya tapi karena kasih dan kemurahan Allah semata. Gereja terus bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu, musim ke musim karena kasih dan kemurahan Tuhan.

Kita hidup dan berkarya sebagai gereja bukan karena kuat dan hebatnya kita tapi karena kasih karunia Tuhan semata. Dari satu kasih karunia Allah kepada satu kasih karunia Allah yang lain, itulah hidup orang-orang percaya/ gereja.

Kedua, Yesus hendak menekankan pentingnya kehidupan yang menghasilakn buah.

Hidup orang percaya haruslah menghasilkan buah: Buah kebaikan, kebenaran, cinta kasih dan buah kesalehan. Buah itu haruslah menjadi buah yang dinikmati banyak orang. Ingat… pohon ara terancam ditebang karena tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan Tuannya. Hidup yang menghasilkan buah itulah kerinduan dan kehendak Yesus bagi orang percaya.

Tanggal 31 Oktober tahun 2020, GMIT berusia 73 tahun. Dalam hubungannnya dengan merayakan HUT GMIT yang ke 73, firman Tuhan ini memberi pesan:

Pertama, Perjalanan hidup dan karya GMIT yang memasuki usia ke 73 tahun adalah perjalanan kasih karunia Tuhan semata.

Tantangan bergereja dalam perjalanan GMIT sangat dasyat dan kompleks dalam berbagai sendi kehidupan, tapi kasih dan rahmat dari Tuhan Yesus Kristus selalu berjalan seiring menyertai GMIT.

Ya, … dari satu kasih karunia kepada satu kasih karunia, itulah hidup dan karya GMIT dalam melintasi ruang dan waktu. Segenap anggota GMIT patut bersykur untuk kasih karunia Tuhan yang besar itu. Oleh kasih karunia Allah yang besar itu, sebagai gereja (GMIT), kita percaya bahwa selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi pertumbuhan hidup bergereja.

Oleh kasih dan kemurahan Tuhan kita percaya tidak ada satu kuasa apapun di bawah kolong langit ini yang dapat menghentikan pertumbuhan dan perkembangan gereja Tuhan. GMIT selaku gereja milik Yesus Kristus, hanya dapat berhenti bertumbuh dan berkembang, kalau Yesus Kristus pemilik dan kepala gereja itu datang kembali sebagai Raja dan hakim.

Kedua, GMIT harus jadi persekutuan bergereja terus menata diri untuk terus menghasilkan buah.

Buah kebaikan, kebenaran/keadilan, cinta kasih dan kesalehan hidup. Persekutuan yang menghasilkan buah untuk dinikmati/memberkati banyak orang dan mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Untuk menghasilkan buah, semua anggota GMIT (Pemimpin dan jemaat), dipanggil memperkuat komitmen menjaga, memelihara dan merawat persekutuan bergereja. Kasih karunia Allah yang memungkinkan GMIT hidup dan berkarya harus diresponi dengan komitmen yang kuat menata persekutuan yang ada secara baik dan bertanggungjawab.

Selain itu, GMIT (pemimpin dan anggota jemaat) mesti jadi gereja Yesus Kristus yang terus menata diri dan memperbaharui diri agar jadi gereja yang Tuhan kehendaki. GMIT mesti menjadi gereja yang disebut Karl Barth, menjadi gereja Tuhan yang terus membaharui diri (Ecclesia Reformata, Samper Reformanda).

Pembaharuan diri penting guna menjawab panggilan misioner gereja yang diamanatkan Kristus yakni mewartakan kasih Allah yang berbelas kasih bagi semua manusia di dunia ini, menjadi garam dan terang dunia dan mewujud-nyatakan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Biarlah GMIT, sebagai gereja milik Yesus Kristus, yang diperkenankan Yesus bertambah usia, terus menghayati kasih karunia Tuhan dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan.

Selamat HUT GMIT yang ke 73. Tuhan Yesus pemilik dan kepala gereja, menyertai selalu.

SOLI DEO GLORIA

(Tulisan ini juga tayang pada Koran Harian Timor Ekspress, Tanggal 1 Nopember 2020)

Pos terkait