TUN AM: Moyang Nope dan Isoe Tinggal Sebelum Dibawa Menghadap Raja Amanatun Nunkolo

  • Whatsapp
Tampak dari kejauhan Gua TUN AM, tempat persembunyian Nope dan Isoe sebelum dibawa menghadap Raja Amanatun Nunkolo.

CERITA SEJARAH/MELAWAN LUPA (EDISI II)

Oleh: David I. Boimau, A.Md

Hari ini, akhirnya saya sampai di Tun Am. Mungkin sedikit orang yang tahu nama tempat ini. Ataupun tahu, tetapi tidak pernah menyangka kalau gua batu ini memiliki nilai sejarah penting terkait perjalanan Kerajaan Amanuban. Tun Am persisnya berada di ujung jembatan Menu, Desa Nenoat, Kecamatan Nunkolo, Kabupaten TTS.

Untuk bisa sampai ke mulut gua, saya harus melewati rintangan bebatuan yang cukup sulit. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, untuk bisa mencapai gua keramat itu, hanya bisa dilakukan jika bersama dengan mama Bununaek Funan. Akhirnya saya hanya bisa mendekatinya dari jarak hampir 7 meter karena saya datang tidak bersama mama Banunaek Funan.

Dikisahkan, kurang lebih sudah 200 tahun atau sekitar 13 turunan hingga kini, moyang Nope dari sebelah Barat datang di Termanu Rote, bernama Salim alias Seo Bil. Tidak berapa lama ia berperahu datang di Timor Kupang. Ia tinggal di Kupang kemudian karena perang maka ia lari ke Belu bersama suku Tenis, Asbanu, Nubatonis dan Nomnafa.

Nope yang menjadi ketua sehingga sampai di Belu, ia mendapat gelar Noeban Taek. Di Belu, mereka tinggal di kampung bernama Baki Bantiti, Nunu Bantete. Raja Belu lalu menyuruh mereka untuk pergi dan tinggal di tempat yang luas yaitu kampung Toet Besi/Toenbesi. Tidak berapa lama tinggal di Tun Besi, moyang Nope menyampaikan kepada ke empat suku untuk kembali ke Kupang mengecek kondisi kampung mereka saat ditinggalkan akibat perang.

Penulis saaat berada di pantai Menu, desa Nenoat, kecamatan Nunkolo

Sesampainya di Kupang, tidak seorang’pun kenalan yang masih ada sehingga ia memutuskan pulang. Kemudin ia bertemu seorang Raja bernama Abineno. Ia meminta untuk menjadi rakyatnya dan raja setuju dengan syarat ia harus menjadi gembala kambing-kambing raja. Selama ini, kambing-kambing itu digembalakan oleh seorang bernama Noh.

Meski telah dijaga, hampir setiap malam kambing-kambing Raja tersebut hilang satu persatu. Hal ini membuat Raja memarahi keduanya, Nope dan Noh. Setelah dimarahi, keduanya memutuskan untuk menangkap pelaku yang menyebabkan kambing milik raja hilang setiap malam.

Saat tengah berjaga, Noh tiba-tiba tertidur karena mengantuk. Tak lama setelah Noh tertidur, pelaku yang menyebabkan kambing raja hilang masuk ke dalam kandang kambing. Terlihat dari kejauhan, pelaku seperti membawa lampu menuju kandang. Nope’pun langsung bergegas menuju ke kandang kambing dengan maksud menangkap basah sang pencuri.

Penulis foto bersama dengan mama Banunaek-Funan

Namun saat tiba di kandang, yang ditemui Nope bukanlah manusia melainkan seekor ular koko. Ternyata lampu yang terlihat dari kejauhan merupakan sebuah mustika yang berada di kepala ular. Ia lalu memotong ular tersebut dan mencabut lampu mustika dari kepala ular itu. (Batu mustika tersebut kini ada di tangan Tamukung Besar Sei bernama Oh Boimau).

Sesudah membunuh ular tersebut, Nope lalu membangunkan Noh alias ISOE/ISU dan menceritakan hal tersebut. Karena takut jika Raja tahu akan merampas mustika tersebut, Nope’pun memutuskan mengajak Isoe untuk lari dan kembali ke Toet Besi.

Malam itu juga, keduanya langsung berangkat melewati Teorain, Burain, Niki, Tapplak dan siang hari mereka sudah tiba di Bena, Toineke, Oetune dan bermalam di Bitan. Keesokan harinya Isoe menyampaikan keinginannya untuk pulang karena mengingat tanah kelahirannya.

Mendengar permintaan Isoe ingin pulang, Nope’pun membujuknya untuk kembali melanjutkan perjalanan. Keduanya akhirnya sepakat untuk melanjutkan perjalanan melewati pantai menuju Amanatun Nunkolo (prediksi saya saat itu belum terjadi perang Kolbano 1907 makanya rute perjalanan ini tidak menyebut Kolbano).

Gua Tun Am, tempat persembunyian Nope dan Isoe.

Sesampai di kampung tersebut, mereka menyembunyikan diri dalam sebuah gua bernama “TUN AM”. Keduanya sebenarnya ingin menghadap Raja, tetapi mereka takut di bunuh.

Pada suatu hari, ketika Isu di dalam gua dan Nope duduk di atas batu, datanglah Nomlene dan Nitbani. Isu berteriak memberitahukan kepada Nope, katanya ”Orang Mari”. Mulai waktu itu sampai sekarang Nope digelarkan “OLAK MALI”.

Lalu mereka dibawa menghadap Raja Amanatun Nunkolo. Di situ Raja Amanatun menerima mereka dengan senang hati sehingga mereka tinggal bersama di dalam sonaf dan dinikahkan dengan anak dan saudari perempuan raja (seperti yang dikisahkan pada Edisi I).

TUN AM nasibmu kini tidak banyak yg mengetahui. Tun Am telah menjadi saksi bisu sejarah raja-raja di Kabupaten TTS. Agar bisa menjangkau (masuk) ke gua tersebut, harus dengan penjaga pantai mama Banunaek Funan Tun Am.

Suatu saat saya akan kembali untuk menjelajahimu sambil ngopi di dalam gua. Walaupun untuk menjangkau tempat ini, harus rela menguras energi dan berpeluh keringat.

Bersambung ke edisi III,.

(Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten TTS dari Fraksi Partai HANURA)

Pos terkait