Wabup TTS Perintahkan Direktur PDAM SoE Segera Cabut Laporan Polisi

  • Whatsapp

SoE, SALAMTIMOR.COM – Pemutusan pipa air dari sumber mata air Bonleu berbuntut pada laporan polisi oleh Direktur PDAM SoE, Lely Hayer yang didampingi oleh Asisten II, Edison Sipa pada beberapa waktu lalu.

Lely melaporkan sejumlah warga Bonleu. Persoalan pelaporan ini menuai berbagai macam kontroversi. Ada pro dan kontra dikalangan akar rumput hingga kalangan elit (para pejabat) TTS.

Yang terbaru adalah perintah Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay kepada Direktur PDAM SoE, Lely Hayer untuk mencabut laporan tersebut. Jika tidak dicabut maka Lely terancam dicopot dari jabatannya.

“Saya perintahkan segera cabut laporan itu, atau saya cabut dari jabatannya,” tegas Wabup Army dalam rapat klarifikasi di ruang komisi II DPRD TTS, Senin (31/5/2021).

Dalam rapat klarifikasi tersebut, hadir pula pihak PDAM SoE, namun Direktur PDAM SoE tidak menghadiri rapat tersebut lantaran dikabarkan sedang berada di Kecamatan Oenino.

Wabup Konay sangat menyesalkan sikap yang diambil oleh Lely. Menurutnya, Lely terlalu gegabah dan tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengannya sebelum mengambil sikap.

Dirinya sama sekali tak mengetahui akan ada laporan polisi sebagai dampak dari penutupan sumber mata air Bonle’u.

“Saya sangat sesalkan, kenapa tidak ada koordinasi dengan saya. Direktur PDAM SoE harus tahu etika juga. Saya ini Wakil Bupati. Saya justru tahu dari media. Saya sangat sesalkan hal ini,” ujar Wabup Army dengan nada kesal.

Pimpinan Komisi II DPRD Kabupaten TTS bersama sejumlah anggota komisi II yang hadir dalam rapat klarifikasi itu turut menyesalkan sikap dari PDAM dan Pemda TTS.

Penyesalan itu disampaikan oleh Ketua Komisi II, Imanuel Olin, Wakil Ketua Komisi II, Melianus Bana, Anggota Komisi II, Antoneta Nenabu, Dominggus Beukliu dan Samuel Sanam. Hanya satu orang anggota komisi II dari Fraksi Golkar, yakni Lorens Jehau yang mendukung proses hukum terhadap warga Bonle’u.

Menurut mereka, proses hukum bukan solusi terhadap penutupan sumber air Bonle’u. Pemda harusnya melakukan langkah persuasif, bukannya mempolisikan warga Bonle’u atas sikap mereka yang merupakan ungkapan kekecewaan.

Karena itu, dalam minggu ini, DPRD TTS bersama Pemda akan mendatangi warga Bonle’u untuk melakukan dialog.

“Kamis kita sama-sama dengan Pemda TTS turun ke Bonleu untuk berdialog dengan masyarakat. Hal ini guna menyelesaikan masalah penutupan sumber mata air Bonleu,” ungkap Ketua Komisi II DPRD TTS, Imanuel Olin.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Minggu (30/5/2021), warga Desa Bonle’u yang bersama amaf dan meob menutup sumber air Bonle’u yang merupakan sumber air terbesar yang dimiliki PDAM SoE.

Sebanyak 97 warga Bonle’u hadir dalam penutupan sumber air itu yang dawali dengan ritual adat. Warga menuntut agar Pemerintah segera menepati janji kepada warga Bonle’u pada tahun 1996 silam.

Kelima item tuntutan warga yaitu, pertama, pembangunan jalan aspal (Hotmix) dari Saubalan ke Desa Bonle’u, kedua, pembangunan jembatan, ketiga perluasan jaringan listrik bagi masyarakat Desa Bonle’u yang belum menikmati listrik, pengembalian 10 persen dan poin kelima, jika Pemda Kabupaten TTS tidak menghendaki maka jaringan pipa yang melintasi tanah warga Bonle’u agar segera dicabut.

Direktur PDAM Soe, Lily Hayer yang dikonfirmasi terkait permintaan masyarakat Bonleu agar pihak PDAM Soe segera mencabut pipa PDAM Soe, justru meminta dukungan dan doa agar masalah tersebut bisa segera selesai. Namun anehnya, di sini lain, dirinya ditemani sejumlah pejabat Pemda TTS justru mempolisikan masyarakat Bonleu.. (**Tim)

Pos terkait