YAPENKRIS TOIS NENO GAGAL BUKA RUANGAN KEPALA SEKOLAH SETELAH TIGA KALI MEDIASI, PIHAK PENDIRI ANCAM TUTUP AKTIFITAS SEKOLAH

  • Whatsapp
Tampak Ketua Yapenkris Tois Neno (Marthinus Banunaek), Habel Hitarihun dan Agrepina Laoe-Anin (Isteri Alamarhum Semuel Laoe). Foto STC, 30/03/2021,

SoE, SALAMTIMOR.COM – Pasca meninggalnya almarhum Semuel Laoe, SH selaku kepala SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan kepala SMA Kristen Manek To Kuatnana pada tanggal 26 Januari 2021, Ibu Agrepina L. Laoe/Anin selaku isteri almarhum belum menyerahkan kunci pintu ruang kepala sekolah kepada pihak Pengurus Yapenkris Tois Neno hingga saat ini.

Mediasi sudah 3 kali dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Pada mediasi ke-3 sebagai mediasi terakhir yang berlangsung di gereja Siloam Nule, hadir pula pejabat yang mewakili Bupati TTS dalam hal ini Asisten Pembangunan dan Ekonomi, Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Pengurus Yapenkris Tois Neno dan pihak Kepolisian dari Pospol Neonmat, namun disayangkan keluarga almarhum SL tidak menghadiri pertemuan dimaksud.

Agar persoalan ini tidak berkepanjangan sehingga berakibat mengorbankan masa depan siswa baik yang telah lulus namun belum menerima ijazah, maupun peserta didik kelas XII SMA yang akan mengikuti Ujian Nasional Sekolah pada minggu pertama bulan April 2021, maka Pengurus Yapenkris Tois Neno mengambil sikap untuk membuka pintu ruangan kepala sekolah secara paksa dan sesuai jadwal akan dilaksanakan pada hari Selasa, 30 Maret 2021.

Akan tetapi pembukaan paksa sebagaimana yang sudah diagendakan batal karena pada saat pintu akan dibuka paksa, pihak keluarga almarhum SL juga ada (karena diundang oleh Pengurus Yapenkri Tois Neno). Melihat bahwa keluarga juga hadir, maka Ketua Yapenkris Tois Neno (Marthinus Banunaek) setelah berkomunikasi dengan Ketua Majelis Klasis SoE Timur (Pdt. Lebrik E.K.O. Toy, S.Th) dan Kepala Bidang Bina SMP Kabupaten TTS (David Mbolik), Kepala Desa Tetaf yang diwakili oleh Sekretaris Desa (Mathias Talan) dan juga 2 orang Pengawas Yapenkris Tois Neno berkesimpulan untuk meminta kunci secara baik-baik kepada pihak keluarga.

Namun saat Ketua Yapenkris meminta kunci ruangan kepala sekolah tersebut kepada ibu Agrepina Laoe-Anin (isteri almarhum Semuel Laoe), maka ibu Agrepina maju dan menyampaikan bahwa Ia hanya berstatus sebagai isteri almarhum saja dan bukan juga guru di dua sekolah tersebut, maka itu pihaknya sudah menyerahkan kunci ke Komite Sekolah dalam hal ini Bapak Habel Hitarihun.

Habel Hitarihun selaku Ketua komite menyampaikan bahwa “DPRD sudah turun dan ambil aspirasi. Persoalan ini sudah ada di tangan Dewan. Jadi kalau hari ini Yayasan mengambil tindakan itu (maksudnya membuka ruangan kepala sekolah) tanggungjawab sendiri. Saya ingatkan tanggungjawab. Karena Wakil Rakyat sudah jadwalkan untuk pertemuan dengan semua pihak.” Ungkapnya.

Pihaknya juga menyesali tidak adanya ide dari pemerintah daerah untuk turun dan adakan pendekatan dan cari tau dari kedua belah pihak apa duduk persoalan yang sebenarnya. Bukan persoalan kunci semata.

Habel juga menyatakan bahwa “saya menolak PLT kepala sekolah karena tidak prosedur. Tidak ada usulan dari sekolah. Itu turun sendiri. Hasilnya apa, 16 orang guru tolak PLT kepala SMP. Sekarang perhadapkan 16 orang guru tersebut dengan PLT supaya para guru yang menolak dapat menyatakan alasan keberatan mereka. Supaya saksikan benar atau tidak itu terjadi dan siapa yang menciptakan ini keadaan. Kalau Bapak bisa bertanggungjawab silahkan.” Ungkapnya dengan nada keras.

Beliau juga menyatakan bahwa “pemerintah daerah tidak bertanggungjawab terhadap keadaan ini. Jadi saya tidak lihat pejabat yang mewakili Bupati. Membongkar ini (maksudnya membongkar pintu ruangan kepala sekolah), ini pelanggaran terhadap hukum pak. Secara sepihak dimana kita bicara hukum. Duduk bersama. Berita Acaranya dimana. Siapa tolak siapa terima. Tidak ada.” Tanya Habel.

Lanjut Habel, “saya sendiri sebagai pendiri sekolah tidak pernah di dekati. Ini kunci ada karena ini gedung. Gedung ini milik siapa. Kalau berani bertanggungjawab silahkan. Tapi mulai dari detik ini juga kami tutup semua aktifitas sekolah.” Tegas Habel.

Setelah mendengar semua yang disampaikan keluarga melalui Habel Hitarihun, maka Ketua Yapenkris Tois Neno meminta waktu untuk kembali melakukan rapat kilat bersama Ketua Klasis SoE Timur, Kepala Bidang Bina SMP Kabupaten TTS, Pengawas Yayasan dan selanjutnya melaporkan kepada Sinode GMIT selaku pemilik Yapenkris dan kedua satuan pendidikan tersebut.

Dari hasil rapat dan kesepakatan bersama, maka pihak Yapenkris, Ketua Majelis Klasis SoE Timur, Kabid Bina SMP Kab. TTS, Kepala Desa Tetaf dan Pengawas Yayasan Tois Neno menunda pembukaan ruangan kepala sekolah tersebut sampai menunggu petunjuk lebih lanjut dari Majelis Sinode GMIT.

Penulis: Inyo Faot

Pos terkait