Menempatkan Imajinasi sebagai ‘Obor’ Pendidikan

  • Whatsapp

Oleh: Kopong Bunga Lamawuran

Tak ada yang lebih menyedihkan selain mendapati kenyataan bahwa imajinasi tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Daya yang konon dicuri manusia dari Tuhan itu ternyata tidak diberi tempat dalam hampir seluruh jenjang pendidikan kita. Alpanya pengajaran imajinasi dalam dunia pendidikan, tentu memberi dampak buruk bagi setiap orang yang mengenyam bangku pendidikan formal. Orang akhirnya tidak tahu bahwa di dalam dirinya, ada kekuatan besar yang bisa dia gunakan untuk memajukan kehidupannya. Dengan imajinasi, orang menciptakan hal baru, membuat perusahan baru, membangun gedung baru, menemukan ilmu pengetahuan baru. Tulisan singkat ini ingin memberi gambaran tentang pentingnya imajinasi dalam dunia pendidikan dan kehidupan nyata.

Esensi dari pendidikan adalah menuntun seorang manusia untuk menemukan siapa dirinya, yang diwakili oleh satu pertanyaan singkat nan sederhana ini: ‘Siapa saya?’ Jawaban atas pertanyaan ‘Siapa saya?’ ini tidak semudah seperti mengatakan ‘Saya adalah seorang wartawan’, atau ‘Saya adalah seorang sastrawan ataupun dosen’. Untuk menjawab pertanyaan ‘Siapa saya?’, mau tidak mau kita harus belajar dan merenungkan pula ‘Siapa dan apa itu manusia!’.

Belajar memahami manusia, saya kira merupakan sebuah proses pencarian yang melelahkan dan membingungkan. Karena sewaktu seseorang berhasil menuliskan sebuah buku fiksi, maka kita berpikir dia adalah seorang sastrawan. Atau sewaktu seseorang berdiri di depan kelas dan mengajar sejumlah mahasiswa, kita mengatakan dia adalah seorang dosen. Tapi, manusia bukanlah seorang dosen, sastrawan, atapun wartawan. Karena semua hal itu hanyalah satu pikiran yang kita kenakan pada seseorang. Dan manusia bukanlah sebuah pikiran atau pekerjaan. Pikiran atau pekerjaan hanyalah satu ciptaaan kecil yang bisa dilakukan manusia.

Selama ini, pendidikan formal tidak pernah atau sedikit sekali mengajarkan kepada kita tentang siapa itu manusia! Fokus pendidikan selama ini adalah mempelajari hal-hal di luar dari diri manusia, sehingga tidak mengherankan bahwa setelah lulus kuliah, seseorang tidak tahu siapa dirinya atau siapa itu manusia.

Pada tahapan pencarian yang lebih jauh, esensi pendidikan bukan saja untuk menemukan bakat atau pekerjaan atau passion, tapi justru lebih penting adalah mengenal ‘siapa manusia’, daya-daya apa saja yang ada dalam diri manusia, yang bisa dia gunakan untuk kemajuan hidupnya. Salah satu daya yang saya maksud adalah imajinasi.

Imajinasi adalah daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak secara langsung didapatkan dari sensasi atau penginderaan. Dalam tradisi Ibrani, imajinasi dimaknai sebagai sebuah kekuatan yang dicuri manusia dari Tuhan. Kisahnya ada dalam Kitab Kejadian, di mana Adam dan Hawa memakan buah (imajinasi) dari Pohon Pengetahuan. Karena diperoleh dengan jalan mencuri, maka dalam tradisi ini, imajinasi dianggap sebagai sebuah kekuatan dan juga sebuah dosa. Dalam tradisi Helenis, imajinasi dilambangkan sebagai sebuah api atau obor yang dicuri dari dewa-dewa dan diserahkan kepada manusia. Dengan adanya api itu, manusia menjadi bebas.

Perjalanan pandangan tentang imajiansi ini tetap berlanjut sampai zaman modern, yang diwakili oleh pandangan Imanuel Kant (Kant membagi dua aspek dari imajinasi yaitu aspek produktif dan reproduktif). Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang imajinasi, namun ada kesamaan, bahwa imajinasi adalah daya yang dimiliki semua manusia, yang bisa digunakan untuk membangun ataupun menghancurkan kehidupannya. Dalam konteks sekarang, terkhusus dalam dunia pendidikan, imajinasi sepertinya dikenal dalam makna yang peyoratif.

Dalam era digital yang akan terus berkembang ini, semua manusia dituntut untuk lebih kreatif. Kreativitas adalah satu sifat yang paling dituntut dari seorang peserta didik atau mahasiswa. Tapi harus diingat, bahwa dasar dari kreativitas adalah imajinasi. Tanpa imajinasi, tidak ada kreativitas dan ilmu pengetahuan. Tanpa imajinasi, kita tidak akan melihat gedung-gedung indah, tidak akan membaca karya-karya sastra, tidak akan meminum Coca-Cola, tidak akan naik pesawat terbang, tidak akan membaca koran-koran, dan lain sebagainya. Imajinasi berperan hampir di semua bidang kehidupan. Tentu saja ilmu pengetahuan berperan penting dalam kehidupan, tapi tanpa imajinasi, kita tidak bisa mencapai kemajuan seperti yang kita alami saat ini. Bahkan, kita tidak akan membicarakan ‘cita-cita’ tanpa melibatkan imajinasi.

Dengan begitu besarnya peran imajinasi, mengapa dunia pendidikan formal tidak pernah mengajarkan dan mengenalkan imajinasi? Sekolah dan perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk kreatif, tapi mengapa tidak mengajarkan mereka tentang imajinasi? Kalau tidak percaya, bolehlah bertanya kepada seorang mahasiswa Arsitektur, apakah dirinya belajar imajinasi secara khusus di kampusnya? Atau, bertanyalah pertanyaan serupa kepada seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra. Jawabannya: tidak! Padahal, dan inilah paradoksnya, orang-orang ini akan bekerja dengan mengandalkan imajinasinya. Tentu saja mereka juga harus belajar ilmu pengetahuan secara teknis, tapi pada awal mulanya mereka merancang sesuatu dalam kepalanya menggunakan imajinasi. Dan, imajinasi bukanlah benda langkah yang hanya dimiliki oleh seorang arsitek, pematung, sastrawan, ataupun pegiat seni lainnya. Imajinasi dimiliki semua manusia.

Dalam konteks yang lebih luas, manusia menggunakan imajinasi untuk merancang kehidupannya: Seorang pengusaha menggunakan imajinasi untuk membayangkan seperti apa perusahannya lima tahun ke depan. Dia bisa menggunakan imajinasinya untuk mengumpulkan kekayaan, mencapai kemakmuran; dia menggunakan imajinasinya untuk keluar dari garis kemiskinan.

Mari kita lihat satu contoh bagaimana seorang lulusan mahasiswa menggunakan imajinasinya. Dia baru saja diwisudakan. Karena kehidupannya amat menyedihkan, maka dia ingin mengubahnya. Tapi untuk mengubah hidup, dia harus menetapkan ‘menjadi seperti apa dirinya 10 tahun ke depan!’ Dalam proses penetapan tujuan itu, daya mental yang dia gunakan adalah imajinasi, bukan yang lain. Dengan adanya tujuan seperti itu,  maka dia harus berjuang untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, ‘imaji 10 tahun ke depan’ menjadi ‘obor’, yang akan selalu memotivasinya, menerangi dan menuntunnya. Sebagian besar lulusan mahasiswa menganggur karena tidak menggunakan imajinasi untuk merancang kehidupannya, sehingga kemudian mereka mempersalahkan Tuhan, pemerintah, dan nenek moyangnya. Sungguh menyedihkan, karena dia tidak tahu bahwa Tuhan telah memberinya imajinasi untuk merancang kehidupannya sendiri. Dalam lain kata, dia tidak mengenal dirinya dan siapa itu manusia! Mengapa dia tidak tahu? Karena tidak pernah diajarkan!

Sudah saatnyalah (walaupun sudah sangat terlambat), imajinasi harus dijadikan sebagai ‘obor’ dalam dunia pendidikan. Perannya tidak boleh disepelekan, dan mesti diberi ruang sama besar seperti kita mengajarkan ilmu pasti. Sudah bukan zamannya lagi kita lebih mementingkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan ketimbang imajinasi. Dengan memahami dan menggunakan imajinasi, generasi ini akan menciptakan banyak hal, menjadi lebih kreatif, dan mampu bersaing dalam dunia yang berkembang begitu pesat ini. Tidak ada cara lain: imajinasi harus beri ruang yang besar dalam pendidikan kita. Mengajarkan imajinasi kepada pelajar dan mahasiswa merupakan satu cara menuntun mereka untuk memahami siapa dirinya, terlebih siapa itu manusia.

Karena itu, sangat perlu disarankan kepada sekolah-sekolah, terkhusus kampus-kampus, untuk mengajarkan imajinasi secara khusus kepada siswa dan mahasiswa. Program-program studi seperti Arsitek, Bahasa dan Sastra, Ilmu Komunikasi, dan lainnya, harus mempelajari imajinasi secara khusus, bisa dalam bentuk satu mata kuliah. Karena tanpa imajinasi, tak ada inovasi dan kreativitas. Pendidikan tanpa imajinasi adalah kebodohan.

Selamat menyongsong Hari Pendidikan Nasional. ***

Catatan: Opini ini pernah dimuat di Harian Pos Kupang tanggal 30/4/2021

Penulis adalah seorang wartawan dan pengarang

Pos terkait