Usi (Raja) Don Louis Nope II: Pejuang Timor Yang Tak Terkalahkan

  • Whatsapp

“Sejarah Perlawanan Amanuban Menentang Kolonialisme Belanda, Inggris dan Portugis”

Oleh: Pina Ope Nope

SoE,SALAMTIMOR.COM – Buku ini berjudul “Usi (Raja) Don Louis Nope II, Pejuang Timor yang tak terkalahkan – Sejarah perlawanan Amanuban menentang Kolonialisme Belanda, Inggris dan Portugis”. Penulis Pina Ope Nope, Penerbit Citra Airiz Publishing – Sleman Jogjakarta. Tahun terbit 2021 dengan kode ISBN 978-623-7657-98-9. Kata Pengantar Dr. Andreas Ande, M.Si (Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang), Sekapur sirih Eppy Manu (Keturunan Meo dari Amanuban – Pimpinan Media Spektrumntt.com, Ketua Umum Jurnalis Muda NTT dan editor Hope TV Indonesia di Jakarta), Sambutan dari Ketua Perkumpulan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban (Smarthenryk Wellem Nope, SH).

Berakhirnya Era Topas

Walaupun buku ini dimulai dari sebuah pendahuluan panjang dan sejarah Amanuban sejak perdagangan maritim, namun kita akan mengulas dari peristiwa berakhirnya perang besar di Penfui tahun 1749. Dengan berakhirnya perang besar dan brutal di Penfui tahun 1749 ini maka kekuatan Topas (Portugis Hitam campuran dengan pribumi Timor) semakin melemah. Kematian pemimpin Topas Don Gaspar da Costa di Penfui disambut dengan sukacita oleh VOC Belanda di Kupang maupun Portugis Putih di Lifau.

Selama seratus tahun lebih Koloni Belanda dan Portugis di Timor kesulitan mengatur pulau ini. Bahkan seorang kapten Skotlandia bernama Alexander Hamilton yang mengunjungi Timor pada 1727 menuliskan keadaan Timor sebagai berikut : “ini [orang Timor] mengijinkan koloni Portugis Macao, untuk membangun Benteng di sana, yang mereka sebut Leiffew (Lifau), dan Kompeni Belanda yang disebut Coupang (Kupang), tetapi mereka tidak akan pernah menerima bila pemerintahan kerajaan mereka sendiri diganggu. Akhirnya mereka (orang Portugis dan Belanda) menemukan bahwa orang Timoreans tidak akan kehilangan kemerdekaannya hanya karena tidak takut bila mereka harus kehilangan darah untuk itu”. Bukan hanya Belanda yang mengeluhkan sulitnya mengatur kerajaan-kerajaan di Timor. Gubernur Portugis Putih, Affonso de Castro, mengakui dengan keterusterangan yang luar biasa. Ia berkata dengan sinis : “pemerintahan kami di pulau ini hanyalah sebuah ilusi (fiksi)”.

Memang sejak tahun 1658-1749 Belanda hanya berkutat di kantung kecil Kupang dengan ditopang oleh 5 raja sekutu : raja Kupang (Helong), Sonbai Kecil, Amabi (bergabung dengan VOC di Kupang tahun 1658), Taebenu, Amfuang (maniki)- tahun 1688. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab Topas adalah kekuatan yang selama ini ditakuti VOC sejak kekalahan aliansi VOC Belanda –Amabi – 2 Sonbai di gunung Mollo dalam perang panjang satu abad sebelumnya (1653-1658). Dalam perang ini VOC Belanda telah kehilangan perwiranya dan juga mempermalukan bintang dari Maluku Arnold Vlaming van Outshorn. Kerugian juga diderita dua kerajaan sekutu VOC yakni kerajaan Amabi dan kerajaan Sonbai (yang terpecah menjadi Sonbai Kecil di Kupang) yang harus kehilangan wilayahnya di pedalaman pulau Timor.

Namun kekalahan Topas dalam perang Penfui tahun 1749 merupakan babak baru bagi VOC maupun Portugis Putih. Topas akhirnya kehilangan kerajaan-kerajaan sekutunya yang selama ini menyokong pundi-pundi Topas. Sekutu-sekutu Topas sebelumnya yaitu kerajaan Amarasi, Amanuban, Amfuang (timau), Amakono (bagian dari Sonbai besar), Amanatun, Nenometan, Wehali dan beberapa kerajaan lainnya. Kerajaan-kerajaan ini kini didekati oleh VOC Belanda untuk menyokong kepentingan dagang mereka di pulau ini. Pihak Belanda merasa sangat beruntung atas keajaiban perang Penfui ini.

Sebaliknya kekalahan Topas juga membuat pemerintahan Portugis Putih di Lifau sangat senang juga bercampur cemas. Portugis Putih senang karena kegarangan Topas yang sering mengepung benteng Portugis di Lifau telah berakhir. Namun mereka juga menjadi cemas karena ternyata kerajaan-kerajaan bekas sekutu Topas telah berpindah dukungan ke VOC Belanda di Kupang sehingga gerbong VOC menjadi lebih besar.

Untuk mencapai tujuan itu, maka Komisioner VOC bernama Andreas Paravicini berinisiatif untuk merangkul kerajaan-kerajaan bekas sekutu Topas untuk diikat dalam sebuah perjanjian dagang untuk menjamin monopoli VOC. Pada tahun 1756, Paravicini berhasil mengumpulkan para raja dan membuat sebuah perjanjian yang sebenarnya sebagai upaya monopoli dagang VOC namun tetap menjamin hak-hak para raja dan tidak boleh merugikan para raja sekutu.

Perjanjian ini di kemudian hari disebut Kontrak Paravicini yang berisi klausul-klausul bahwa para raja sekutu tidak boleh dianiaya atau diintimidasi oleh pegawai Kompeni karena kewajiban mereka untuk menjual komoditi dagang kepada Kompeni. Pelaku pelanggaran akan dihukum berat oleh Opperhofd/ Gubernur (Corpus VI 1955:99). Paravicini juga melarang upaya perkawinan antara pegawai Belanda dan putri raja Pribumi sebagai upaya agar tidak menggangu distribusi perdanganan karena perbedaan budaya bisa menimbulkan gejolak politik. Orang Belanda juga tidak boleh melakukan transaksi dagang dengan penduduk asli, baik secara langsung maupun tidak langsung (Corpus VI 1955:102-103). Paravicini juga menjamin bahwa para raja dapat mengirimkan emas, lilin lebah, budak, lada dan nila ke saluran VOC secara resmi dengan harga yang wajar sementara barang impor hanya dapat dibeli dari gudang di Kupang dengan “melawan harga sipil”.

Juga ketentuan tentang orang-orang Eropa atau warga campuran yang memasuki permukiman penduduk tanpa dokumen resmi dan mencoba memeras raja-raja atas nama Kompeni maka pelaku ini harus 3 ditahan dan dibawa ke Kupang untuk dihukum sesuai dengan perbuatannya. (Corpus VI 1955:104). Hampir seluruh kerajaan di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nusa Tenggara Timur menandatangani perjanjian ini. Perjanjian ini masih tersimpan di ANRI dalam bahasa melayu.

Kedudukan Amanuban di Mata VOC

Selain kerajaan lainnya, Amanuban, Wewiku-Wehali dan Sonbai sebagai kekuatan politik yang paling terpandang di kalangan para raja-raja sedaratan Timor juga menanda tangani perjanjian ini. Raja Amanuban saat itu adalah Don Louis Nope I. Dia adalah adik dari raja Amanuban terdahulu Seo Bill Nope (Don Michell).

Pada tahun 1770, Don Louis meninggal dunia dan putranya Kobis Nope atau Jacobus Albertus menggantikan ayahnya sebagai raja namun hal ini ditentang oleh Tubani Nope putra dari raja terdahulu Seo Bill Nope. Semenjak itu Amanuban terpecah menjadi dua faksi. Faksi Kobis yang berpusat di Pariti dan pesaingnya faksi Tubani di Tunbes pusat Amanuban di pedalaman pulau Timor.

Pada tanggal 16 Oktober 1786, dalam sebuah serangan mendadak oleh Tubani ke pihak kubu Kobis di Kobenoe Pariti mengakibatkan runtuhnya kekuatan faksi Kobis. Walaupun bala bantuan VOC dikirim untuk membantu Kobis, namun berhasil dihancurkan oleh Tubani sehingga akhirnya ia menjadi raja tunggal di seluruh Amanuban. Dalam sebuah sumber surat VOC bertanggal 19 Maret 1802 yang menyebutkan konflik antara Raja Amanuban Jacobus Albertus yang kedudukannya diambil alih oleh Tubani. “sepupunya yang berkuasa di kerajaan ini (neef) Tobanio”

Secara kontinyu, Tubani memulai peperangannya melawan VOC. Dalam akun Don Kusa Banunaek, ST.,MT (2005) menyebutkan bahwa untuk menunjukan permusuhannya kepada VOC maka pada tahun 1782, Tubani juga menyerang kerajaan Amanatun yang saat itu adalah sahabat dan sekutu VOC Belanda serta menikmati hubungan dagang dengan VOC. Pada tahun 1802, Tubani Nope yang sudah tua meninggal dunia dan kedudukannya digantikan oleh putranya bernama Kusa Nope yang nama kristennya adalah Louis Nope. Nama terakhir ini yang dibahas dalam buku ini sebagai Don Louis Nope II.

Perang Yang Dikobarkan Oleh Louis Nope Dari Amanuban

Dalam mailraporten Belanda maret 1808 dari Opperhofd (Gubernur) Kupang ke Gubernur Jenderal Batavia disebutkan bahwa Louis dari Amanuban telah memulai peperangannya sejak tahun 1807 ketika Louis menunjukan protesnya atas eksekusi terhadap seorang Timor bernama Manubait. Tempat eksekusi Manubait di serbu oleh Louis dan orang-orangnya dan ia merampas jenazah Manubait serta menghancurkan bala bantuan Belanda.

Masih dalam mailraporten itu, disebutkan Opperhofd Belanda di Kupang mengeluh bahwa ia merasa diperlakukan tidak hormat oleh Louis terkait peristiwa Manubait ini. Berikut potongan laporannya “Kami belum bisa menangani masalah pangeran Amanuban Jacobus Albertus yang diadukan oleh keponakannya (Don Louis), karena Don Louis tidak bisa dihubungi setelah mengambil jenazah keponakannya Manubait. Sedangkan 4 Pangeran Jacobus Albertus sudah dipenjara. Kami tidak pernah dihargai olehnya, dst…”. Upaya diplomasi Opperhofd (Gubernur) untuk berdamai dengan Louis tidak membuahkan hasil. Sejak itu Louis selalu menyerbu kedudukan VOC di Kupang dan Belanda cukup kewalahan menghadapi Louis. Kerajaan Amanuban bukan saja tidak dibawah kontrol Belanda namun mengancam kedudukan Belanda di Kupang.

Salah satu alasan Louis untuk menentang upaya-upaya Belanda dalam usaha kolonialisme mereka di Timor adalah perdagangan budak. Louis menolak usaha perbudakan VOC Belanda dan terkait ini Jacques Arago seorang pelancong Perancis yang datang ke Kupang tahun 1817 menyebut demikian, “Di wilayah kekuasaannya dia [Louis] telah mendirikan benteng pertahanan yang akan membuat takjub Belanda dan sekutusekutunya. Singkatnya, dia berjuang untuk kemerdekaan: sedangkan ke-14 Raja itu berjuang untuk perbudakan. Para prajurit Louis selalu berada disekelilingnya dan siap mati demi melindungi Pemimpin mereka itu dstnya….”.

Pada tahun 1811, efek perang Napoleon menjalar sampai ke Hindia Belanda sehingga pihak Inggris berupaya menduduki kota Kupang namun berhasil digagalkan oleh Resident (Gubernur) J.A Hazaart, seorang keturunan Belanda yang sangat cerdas. Namun akhirnya tahun 1812, Kupang berhasil diduduki oleh Inggris tanpa insiden berdarah karena kapitulasi atas seluruh wilayah Hindia Belanda telah dilakukan di Jawa. Ketika Inggris di Kupang, mereka juga harus merasakan keperkasaan Louis dari Amanuban.

Gubernur Inggris yang ditunjuk yaitu C.W Knibbe juga melaporkan tentang kegiatan perang yang dikobarkan oleh Louis dari Amanuban telah menguras keuangan pemerintah kolonial (Belanda maupun Inggris). Namun karena keadaan ini, Knibbe terpaksa harus tetap membiayai raja-raja sekutu untuk membantu [pemerintah] memerangi ‘salah satu Pangeran paling luar biasa’, seorang “pangeran perang”- seorang pemberontak dari Amanuban, yang di antaranya Knibbe mengatakan bahwa untuk menghadapinya pemerintah harus selalu berhati-hati.

Louis di Mata Orang Eropa

Setelah perang Napoleon selesai dan pemulihan Koloni dimana Kupang diserahkan kembali ke Belanda tahun 1816, maka J.A Hazaart memimpin kembali sebagai Resident (Gubernur) Kupang. Pada tahun 1817, rombongan peneliti Perancis yang dipimpin oleh Louis de Freycinent bersama Jacques Arago tiba di Kupang dan saat itu perang antara Louis dan Belanda sedang berlangsung. Freycinent melaporkannya demikian : “Pada tahun 1808, raja Louis dari Amanoubang, kepala salah satu kerajaan paling kuat dan kaya yang menolak upaya penjajahan oleh Belanda, yang lelah dengan dominasi tirani sehingga dia dan rakyatnya menolak upaya penjajahan ini, ia telah mengangkat standar kemerdekaan. Pendidikannya dimulai di Coupang, di mana dia dibaptis; namun, ke Batavia sendirilah dia pergi untuk menambah pengetahuannya sehingga kemampuan alaminya membuatnya penuh dengan semangat, dan karena itu suatu hari hal ini akan menjadi sangat menyakitkan bagi para penindas di negerinya…. Mengenai Raja Amanoubang, kami diberitahu, bahwa ia memiliki 6.000 pejuang, sedangkan sekutu di bawah komando Tuan Residen Hazaart menghitung setidaknya 10.000. Meskipun yang seorang menunggu yang lainnya, dari hari ke hari, pertempuran yang menentukan, pihakpihak yang bertikai masih saling mengamati saat keberangkatan kami”.

Senada dengan Freycinent, anggota rombongan lainnya Jaques Arago melaporkan dalam bukunya “Narrative Voyage Round the World” bab ke 64 dalam sebuah narasi yang cukup puitis dan penuh kekaguman atas upaya Louis : “Sekali lagi dia (Louis) menyatakan dirinya Independen; dan didalam kepemimpinanya dia memiliki enam ribu pasukan prajurit, yang di mana dua pertiga prajurit di persenjatai dengan senapan dan menunggang kuda….Senjata dari para prajuritnya adalah senapan, gada, pedang, kelewang: keberanian mereka yang menakjubkan, dan kejeniusan dari pemimpin mereka, membuat mereka menjadi musuh yang menakutkan, tangguh dan sangat sulit untuk di atasi…. Louis adalah seorang yang jenius….. Singkatnya, dia berjuang untuk kemerdekaan: sedangkan ke-14 Raja itu berjuang untuk perbudakan”.

Bahkan Arago menggambarkan bahwa nama besar Louis cukup menggetarkan lawan-lawannya : “Para prajurit Louis selalu berada disekelilingnya dan siap mati demi melindungi Pemimpin mereka itu: dan yang mengkhawatirkan adalah, bahwa para penduduk pulau yang berkumpul di bawah bendera Eropa akan meninggalkan kelompok mereka bahkan sebelum mereka pergi bertempur, atau meninggalkan barisan setelah dilakukannya pemeriksaan pertama….” Arago menambahkan : “Para pejuang Louis terikat kesetiaan kepadanya dengan perasaan penuh rasa terima kasih: Ada sekian banyak alasan yang kita miliki di sini untuk mengira-ngira bahwa pemimpin pemberani ini (Louis) akan datang untuk menaklukan dan akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan ini, dan ia akan diterima dengan rasa patriotisme dan kesadaran akan sebab atas tujuan yang adil dan mulia!”.

Arago juga melaporkan tentang upaya Inggris yang gagal untuk menaklukan Louis : “juga Inggris telah melakukan dua ekspedisi melawan raja Louis; yang pertama pada tahun 1815, yang kedua pada tahun 1816, tanpa mampu menaklukkannya. Dia tinggi, cepat, dan sangat gesit: keberaniannya sangat besar tetapi penuh ketenangan yang mengagumkan: rencananya penuh keberanian tetapi mudah dilakukan; dia menghargai jasa dan menghukum ketidakpatuhan”.

Senada dengan Arago, Freycinent menggambarkan tentang bencana dari pemerintahan pendudukan Inggris di Kupang yang penuh resiko untuk melawan Louis “mereka (Inggris) berbaris melawan pangeran pemberontak pada tahun 1815. Ekspedisi pertama ini tidak membuahkan hasil yang berarti. Pada tahun berikutnya, tentara sekutu ini kembali ke medan tempur; karena ingin mengambil risiko pertempuran, ia mengalami kegagalan penuh kerugian besar, yang memaksanya untuk melarikan diri dari pertempuran; kerugiannya berjumlah 80 orang, sedangkan pasukan raja [Louis] hanya kehilangan enam orang tewas, dan tiga tahanan yang, sesuai dengan kebiasaan di negara itu, dipenggal”.

Upaya Louis mempertahankan status kemerdekaan Amanuban dan diwarisi kepada putranya Baki Nope. Tahun 1856 dalam sebuah laporan W. Donselaar seorang Misionaris yang berkunjung ke Amanuban tahun 1850 melaporkan demikian : “Amanuban adalah negara kesatuan dengan pusat Niki-Niki. Populasi tidak diketahui tetapi mungkin kurang dari 50.000. Kerajaan ini telah memusuhi Belanda sejak lama dan ekspedisi 6 telah dikirim dari waktu ke waktu. Yang terakhir, di bawah Resident Hazaart namun tidak berhasil. Terlepas dari penggunaan artileri, Belanda tidak bisa menaklukkan Niki-Niki….

Komisioner Emanuel Francis dalam laporannya menyebut “Amanuban adalah landschap yang luas, yang mengobarkan perang melawan Kupang (Belanda) sejak lama. Orang-orang di sana dianggap paling berani di seluruh Timor. Mereka bahkan memiliki “reputasi yang tak terkalahkan” . Pada tahun 1910, cicit Don Louis bernama Bill Nope tidak sanggup bertahan dari perpecahan dalam kerajaannya serta dimulainya sebuah serangan Belanda dari dalam ibu kota kerajaan . Raja Amanuban Bill Nope yang menolak dijajah Belanda membakar dirinya sendiri setelah pertahanan istana ditembus Belanda. Penjajahan Belanda atas Amanuban dimulai sejak tahun 1910.

Louis Yang Tak Terkalahkan

Berikut ini kita dapat mencermati tulisan dalam sub judul penutup dari pendahuluan buku ini. Penulis tidak memasukan tradisi oral/ tradisi lisan dalam penulisan buku ini untuk menghindari kesan “tendensius” atau “melebih-lebih”kan yang mungkin tidak mudah dipercaya banyak orang, sebab penulis juga adalah putra Amanuban sehingga kesan tendensius bisa dimunculkan. Untuk itu, tulisan ini lebih banyak merujuk pada laporan-laporan penjelajah Perancis yang menjadi saksi mata, juga laporan pejabat Belanda dan Inggris yang adalah lawan-lawan Louis itu sendiri.

Penulis menambahkan bahwa didalam sebuah persaingan baik secara politik maupun militer, suatu kemenangan tidak memiliki arti apa-apa kalau tidak diakui oleh lawan. Don Louis Nope II memang secara jelas dan nyata telah diakui oleh lawan-lawannya dan Louis sebagai orang yang tidak terkalahkan di masanya. Bahkan J.A Hazaart, juga harus mengakui Louis dan menyebutnya “sangat berbahaya bagi Belanda”. Sama halnya dengan nama besar perwira Jerman Marsekal Erwin Rommel dalam Perang Dunia (PD) II justru lebih banyak dikagumi dan ditulis oleh Inggris yaitu lawan bangsa Jerman dalam PD II.

Penulis merujuk pada sebuah artikel berjudul “Pahlawan kita yang selalu kalah” yang ditulis oleh Asvi Marwan Adam (Sinar harapan, November 2004) dalam situs LIPI. Artikel ini merupakan sebuah otokritik tentang kebanyakan pahlawan Nasional kita merupakan orang-orang yang kalah. Ia menyebut satu persatu pahlawan Nasional kita semuanya berakhir dalam kekalahan baik diasingkan ataupun gugur dalam perang atau terluka saat perang yang berakhir pada kematian. Namun Don Louis II bisa jadi merupakan satu-satunya petarung pribumi yang tidak pernah kalah perang oleh Belanda, Inggris, Portugis maupun 14 raja-raja lokal sekutu Belanda. Dan anda bisa baca dalam buku ini.

Keberanian, kejeniusan dan ketangguhan Don Louis membuat para lawannya kagum hingga berakhir dengan pujian. Louis wafat dalam damai pada tahun 1824. Kegigihan Louis sebagai seorang pemimpin menjadi teladan dan motivasi bagi kerajaan-kerajaan sekitarnya dan membebaskan diri dari pengaruh Belanda. Bersatunya kerajaan Amanatun, Amfuang, Sonbai dan Wewiku Wehali dengan Raja Amanuban Baki Nope putra Louis untuk melawan Belanda sampai Kerajaan-kerajaan ini kemudian menjadi kerajaan yang merdeka seperti dijelaskan dalam akhir buku Dr. I Gde Parimartha, MA. Semoga buku kecil ini bisa menjadi 7 sumber kekayaan spiritual atau sebagai warisan bukan kebendaan yang layak mengajari bangsa Indonesia yang besar ini sebuah tujuan yang mengagumkan.

Pos terkait