Setelah Raja Seo Bil II Pulang Bertemu Raja Sonbai dan Raja Lelo Djabi

  • Whatsapp
David Imanuel Boimau, A.Md (Anggota DPRD Kabupaten TTS asal Fraksi HANURA)

CERITA SEJARAH/MELAWAN LUPA (EDISI VII)
Oleh: David I. Boimau, A.Md

Pengantar

Semoga masih ada peminat yang memiliki hati nurani menelisik sejarah dengan hati.

Perbedaan bukti sejarah hendaklah dimaknai sebagai bagian pembuktian yang patut diapresiasi melengkapi cerita tutur atau mimpi telah mendapatkan ilham “a leut konif ma alol man”.

Merasa paling tahu sejarah padahal kebenarannya juga belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Namanya cerita, pasti ada yang tambah dan kurang bumbu, apalagi tambah dan kurangnya di atur sedemikian rupa untuk bisa mengakomodir mimpinya di siang bolong, pengakuan sebagai tetua yang harus disegani.

Bukti tulisan tetap saya pakai sebagai argumentasi yang dapat dipertimbangkan kebenarannya.

Kisah Kekuasaan Raja Amanuban Dari Waktu ke Waktu

SESUDAH tanah Amanuban bertambah luas maka raja Seo Bil II mengangkat lagi panglima perang dari 4 suku yaitu Kuna, Saefatu, Banu dan Tasesab.

Lalu raja Seo Bil II membentuk lagi distrik pembantu dengan penyebutan berdasarkan Noe/sungai yaitu Noeliu yang dikepalai oleh adiknya bernama Leno Tasuib dan Noebunu dikepalai oleh Isu.

Kemudian mengangkat lagi kepala-kepala yang mengurus hasil-hasil tanah yaitu suku Sae dan Bako atau disebut dengan Nai Feto.

Kemudian raja Seo Bil II menyuruh adik-adiknya yang bernama Tebi Nenosaet dan Soke Nenotes alias Telnoni, untuk turut membantu menjaga keamanan wilayah kerajaan Amanuban dari serangan musuh.

Beberapa tahun kemudian, raja Seo Bil II meninggal dunia dan anaknya Tubani Bil dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya.

Pada masa pemerintahannya, ada selisih pendapat dan terjadilah perang saudara dengan adik-adiknya Tanelab dan Kobis serta Isu.

Dalam pertikaian tersebut, raja muda Tanelab kalah dan lari ke Kiubania sedangkan raja muda Kobis juga kalah dan lari ke Kupang. Sedangkan Isu memutuskan untuk lari ke Amanatun.

Sesudah perang antara ke-tiga saudara ini, maka Raja Tubani Bil memutuskan untuk meninggalkan Tunbesi dan berpindah ke Boti distrik Noehombet. Tidak terlalu lama di Boti maka raja berpindah dan menetap di Niki-Niki.

Setelah di Niki-Niki, maka Isu kembali dari Amanatun dan di angkat menjadi fetor di bagian Noebunu. Sesudah tinggal di Niki-Niki usianya sudah tua dan digantikan dengan anaknya Loeis/LUIS.

Pada masa pemerintahan raja Luis ada peperangan yang berlangsung kurang lebih selama 3 tahun yang diistilahkan dalam penyebutan bahasa Timor dengan “Perang Boluk”.

Sehabis perang tersebut dan raja Luis sudah menjadi tua, maka ia digantikan oleh anaknya Baki yang dinobatkan menjadi raja.

Setelah Raja Baki tua, ia digantikan oleh anaknya Sanoe/Sanu. Dan secara berturut-turut Raja Sanu digantikan dengan Raja Bil.

Pada masa pemerintahan Raja Bil, maka terjadi perang antara Belanda sekitar tahun 1910, dan saat itu raja Bil dan anaknya Koko meninggal dunia.

Yang menggantikan Raja Bil adalah adiknya bernama Noni. Lalu Noni dinobatkan menjadi raja menggantikan kakaknya Bil.

Pada masa pemerintahan raja Noni sebagian tanah kerajaan Amanuban diambil alih oleh Amanatun, Mollo dan salah satu suku yang adalah panglima besar yang bernama Teflopo.

Bukti sejarah kerajaan Amanuban yang ada di tangan suku Teflopo berupa “koa, metan/kain hitam dan tobe”.

Sesudah raja Noni tua, maka ia digantikan oleh anaknya bernama Pae. Pada saat Raja Pae memerintah maka sebagian tanah yang diambil alih oleh Amanatun diambil kembali melalui perang di batas dengan suku Misa dan Saefatu.

Raja Pae tua dan anaknya Leoe’/LE’U dinobatkan menjadi raja. Raja Leu kemudian dikenal oleh masyarakat pada umumnya dengan panggilan Usif Le’u atau Paulus ……

BERSAMBUNG KE EDISI BERIKUT (Raja-raja muda sejak nenek moyang pertama, keluar bersama para amaf untuk menjaga wilayah kekuasaan Amanuban)

(Penulis adalah anggota DPRD Kabupaten TTS dari Fraksi Partai HANURA)

Pos terkait